FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI DALAM BUDIDAYA WIJEN (Sesamum indicum L.) DI KECAMATAN BAKI KABUPATEN SUKOHARJO

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik. Pembangunan dapat dilaksanakan di berbagai bidang. Diantara pembangunan yang dilaksanakan pemerintah adalah pembangunan di bidang pertanian.
Pembangunan pertanian memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian. Pada hakekatnya pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian, yang meliputi pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan serta perikanan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, usaha pokok pembangunan pertanian dapat ditingkatkan melalui diversifikasi pertanian. Menurut Departemen Pertanian (1981), diversifikasi pertanian adalah keanekaragaman dalam usahatani baik secara vertikal mulai dari produksi sampai pemasaran, maupun secara horizontal yang merupakan imbangan pengembangan antar berbagai komoditi dan wilayah.
Salah satu wujud dalam diversifikasi pertanian adalah dengan membudidayakan wijen (Sesamum indicum L.). Tanaman wijen dapat dibudidayakan dengan mudah di Indonesia dan merupakan komoditas pertanian yang mempunyai prospek ekonomi yang bagus. Sebagai sumber gizi, biji wijen mengandung asam lemak dan asam amino essensial yang penting. Biji wijen sangat bervariasi penggunaannya, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku ataupun bahan pendukung dalam industri. Misalnya, dalam industri farmasi, sabun, margarine, minyak rambut, kosmetik, pestisida, percetakan, peralatan listrik, makanan, dan bahkan industri kerajinan (Sunanto, 2002).
Tanaman wijen dapat dibudidayakan di tanah pekarangan, lahan tegal maupun lahan sawah. Bentuk budidaya wijen dalam penelitian ini adalah pemanfaatan lahan sawah pada musim kemarau yang ketersediaan air amat terbatas. Kabupaten Sukoharjo merupakan daerah yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan budidaya tanaman wijen, terlebih pada musim kemarau pada lahan sawah. Dalam perkembangannya, budidaya wijen di Kabupaten Sukoharjo telah dibudidayakan baik secara monokultur maupun polikultur (tumpang sari). Kecamatan Baki sebagai salah satu daerah pengembangan budidaya wijen secara monokultur (Sub Dinas Perkebunan Kabupaten Sukoharjo, 2004). Daerah ini mempunyai tanah yang cukup subur dan beriklim  tropis, sehingga cocok untuk budidaya wijen.
Dalam usaha diversifikasi pertanian, petani sebagai pengelola usahatani dapat memilih dan mengambil keputusan tentang usahatani yang akan dikelolanya. Dimana dalam pengambilan keputusan apakah petani akan membudidayakan wijen atau tidak, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Baik faktor internal yang berasal dari petani itu sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari lingkungan sekitar petani serta karakter dari inovasi (wijen). Hal itulah yang mendorong peneliti untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen.

B. Perumusan Masalah
Petani sebagai pengelola usahatani dapat memilih dan mengambil keputusan terhadap usahataninya, terutama dalam menghadapi musim. Pada musim penghujan, petani menanam tanaman pangan yaitu padi pada lahan sawahnya. Hal ini dilakukan karena pada musim penghujan ketersediaan air cukup baik sehingga pertumbuhan padi dapat berlangsung dengan baik. Sedangkan pada musim kemarau dengan ketersediaan air yang amat terbatas, kurang mendukung untuk kegiatan usahatani padi. Oleh karena itu, sebagian petani memanfaatkan lahan sawah tersebut untuk menanam tanaman palawija yang tahan terhadap keadaan kering.
Petani sendiri sebenarnya mempunyai berbagai pilihan tanaman palawija untuk dibudidayakan di lahan sawahnya pada musim kemarau, diantaranya kacang tanah, kedelai, jagung dan wijen. Petani tentunya memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu sehingga mereka membudidayakan wijen.
Dalam pengambilan keputusan apakah petani akan membudidayakan wijen atau tidak, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Diantaranya faktor internal yang berasal dari petani itu sendiri yang meliputi umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, luas penguasaan lahan dan tingkat pendapatan. Petani yang berusia lebih muda akan lebih cepat mengadopsi wijen dibanding dengan yang sudah tua. Petani dengan tingkat pendidikan formal dan non formal yang tinggi akan lebih cepat mengadopsi wijen. Petani yang yang mempunyai lahan yang luas adopsinya terhadap wijen akan lebih cepat. Petani dengan tingkat pendapatan yang tinggi akan lebih cepat mengadopsi wijen.
Selain faktor internal, pengambilan keputusan petani untuk membudidayakan wijen atau tidak juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut meliputi lingkungan sosial, lingkungan ekonomi dan  karakter inovasi (wijen). Jika lingkungan sosial dan lingkungan ekonomi mendukung situasi yang memungkinkan untuk mengadopsi wijen, maka petani akan lebih mudah mengadopsi wijen. Jika suatu inovasi (wijen) mempunyai keuntungan yang tinggi, mempunyai kecocokan dengan kondisi setempat yang telah ada dalam masyarakat, mudah dibudidayakan, dapat dicoba serta hasilnya mudah diamati maka wijen itu akan mudah diadopsi oleh petani.
Bila kita melihat kenyataan di lapangan, ternyata belum seluruh petani membudidayakan wijen, meskipun mereka (para petani) sudah mengetahui tentang budidaya wijen. Budidaya wijen merupakan suatu inovasi, sehingga diperlukan keberanian petani dalam mengambil keputusan apakah akan membudidayakan atau tidak.
Dari uraian di atas, maka didapat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo?
2. Bagaimana pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo?
3. Bagaimana hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.  Mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
2. Mengkaji pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
3. Mengkaji hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dengan pengambilan keputusan petani dalam budidaya wijen di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.

D. Kegunaan Penelitian

  1. Bagi peneliti, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
  2. Bagi pemerintah dan instansi terkait, diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan selanjutnya.
  3. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan pertimbangan untuk penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: