HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN TINGKAT DIFUSI INOVASI SISTEM PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI KECAMATAN POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1.Difusi inovasi
Difusi dapat diartikan sebagai suatu proses di mana suatu ide-ide baru (yang biasanya disebut sebagai inovasi) disebarkan pada individu atau kelompok dalam suatu sistem sosial tertentu. Dengan demikian sebelum seseorang melakukan suatu adopsi, maka proses difusi berjalan lebih dahulu; dengan kata lain cepat tidaknya adopsi inovasi banyak dipengaruhi oleh cepat tidaknya proses yang terjadi dalam difusi inovasi (Soekartawi,1988).
Roger (1958) dalam Soekartawi (1988) mengemukakan bahwa dalam proses difusi inovasi ada empat elemen penting yang satu sama lain berkaitan, yaitu: (a) adanya inovasi, (b) adanya komunikasi, baik antar individu, antar kelompok maupun antar individu dan kelompok, (c) adanya suatu sistem sosial tertentu dan (d) adanya kesenjangan waktu (Soekartawi, 1988).
Proses difusi inovasi adalah, perembesan adopsi inovasi dari satu individu yang telah mengadopsi ke individu yang lain dalam sistem sosial masyarakat sasaran yang sama. Berlangsungnya proses difusi inovasi sebenarnya tidak berbeda dengan proses adopsi inovasi. Bedanya adalah, jika dalam proses adopsi pembawa inovasinya berasal dari “ luar “ sistem sosial masyarakat sasaran, sedang dalam proses difusi, sumber informasi berasal dari dalam sistem sosial masyarakat sosial itu sendiri. Seperti diatas sudah dikemukakan, kecepatan adopsi (dan difusi) juga tergantung kepada aktivitas yang dilakukan oleh penyuluh sendiri (Mardikanto, 1996).
Menurut Roger dan Shoemaker dalam Abdillah H. (1986) difusi adalah tipe khusus komunikasi. Difusi merupakan proses dimana inovasi tersebar kepada anggota suatu sistem sosial. Pengkajian difusi adalah telaah tentang pesan-pesan yang berupa gagasan baru, sedangkan pengkajian komunikasi meliputi telaah tentang pesan-pesan yang berupa gagasan baru, sedangkan pengkajian komunikasi meliputi telaah terhadap semua bentuk pesan. Unsur-unsur difusi (penyebaran) ide-ide baru adalah : (1) inovasi yang (2) dikomunikasikan melalui saluran tertentu (3) dalam jangka waktu tertentu, kepada (4) anggota sistem sosial. Unsur waktu merupakan unsur yang membedakan difusi dengan tipe riset komunikasi lainnya.
a). Inovasi
Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Tidak menjadi soal, sejauh dihubungkan dengan tingkah laku manusia, apakah ide itu betul-betul baru atau tidak jika diukur dengan selang waktu sejak digunakannya atau ditemukannya pertama kali. Kebaruan inovasi itu diukur secara subyektif, menurut pandangan individu yang menangkapnya. Jika sesuatu ide dianggap baru oleh seseorng maka ia adalah inovasi (bagi orang itu). “Baru “ dalam ide yang inovatif tidak berarti harus baru sama sekali. Suatu inovasi mungkin telah lama diketahui oleh seseorang beberapa waktu yang lalu (yaitu ketika ia ‘kenal’ dengan ide itu) tetapi ia belum mengembangkan sikap atau tidak suka terhadapnya, apakah ia menerima atau menolaknya (Hanafi, 1987).
Ada 5 macam sifat inovasi. Setiap sifat secara empiris mungkin saling berhubungan satu sama lain tetapi secara konseptual mereka itu berbeda. Kelima sifat itu ialah : (1) keuntungan relatif, (2) kompatibilitas, (3) kompleksitas, (4) trialabilitas, dan (5) observabilitas. Keuntungan relatif adalah tingkatan dimana suatu ide baru dianggap suatu yang lebih baik daripada ide-ide yang ada sebelumnya. Tingkat keuntungan relatif seringkali dinyatakan dengan atau dalam keuntungan ekonomis. Kompatibilitas adalah sejauh mana suatu inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan penerima. Kompleksitas adalah tingkat dimana suatu inovasi dianggap relatif sulit untuk dimengerti dan digunakan. Triabilitas adalah suatu tingkat dimana suatu inovasi dapat dicoba dengan skala kecil. Observabilitas adalah tingkat dimana hasil-hasil suatu inovasi dapat dilihat oleh orang lain (Hanafi, 1987)
b). Saluran komunikasi
Saluran komunikasi adalah proses dimana pesan-pesan dioperkan dari sumber kepada penerima. Dengan kata lain komunikasi adalah pemindahan ide-ide dari sumber dengan harapan akan merubah tingkah laku penerima. Saluran komunikasi adalah alat dengan mana pesan-pesan dari sumber dapat sampai kepada penerima. Pada hakekatnya, difusi terdiri dari (1) ide baru, (2) seorang A yang punya pengetahuan tentang inovasi, (3) seorang B yang belum tahu tentang ide baru itu, dan (4) beberapa bentuk saluran komunikasi yang menghubungkan dua orang itu. Saluran komunikasi dengan mana ide-ide baru itu bisa sampai kepada B penting dalam menentukan keputusan B untuk menerima atau menolak inovasi itu. Biasanya pemilihan sluran komunikasi terletak di tangan A, si sumber, dan harus dilakukan dengan memperhatikan : (1) tujuan diadakannya komunikasi dan (2) audiens dengan siapa saluran itu disampaikan. Jika A hanya berkeinginan untuk memberitahu B mengenai suatu inovasi lebih tepat kalau ia memilih saluran media massa karena lebih cepat dan lebih efisien terutama jika pendengarnya banyak dan tersebar di wilayah yang luas. Di lain pihak jika tujuan A adalah untuk mempengaruhi B agar setuju atau suka pada inovasi, maka saluran komunikasi interpersonal lebih tepat (Hanafi, 1987).
Para peneliti membagi saluran komunikasi menjadi (1) saluran interpersonal dan media massa dan (2) saluran lokal dan saluran kosmopolit. Saluran interpersonal adalah saluran yang melibatkan pertemuan tatap muka (sumber dan penerima) antara dua orang atau lebih. Misalnya rapat atau pertemuan kelompok, percakakapan langsung, pembicaraan dari mulut ke mulut, getok tular dan sebagainya. Sedangkan media massa adalah alat-alat penyampaian pesan yang memungkinkan sumber mencapai suatu audiens dalam jumlah besar, yang dapat menembus batasan waktu dan ruang. Misalnya radio televisi, film, surat kabar, buku dan sebagainya (Hanafi 1987).
c). Sistem sosial
Sistem sosial dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah, dalam rangka mencapai tujuan bersama. Diantara anggota sistem sosial ada yang memegang peranan penting dalam proses difusi, yakni mereka yang disebut pemuka pendapat dan agen pembaharu. Pemuka pendapat adalah seseorang yang relatif sering dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain untuk bertindak dalam cara tertentu, secara informal. Mereka sering diminta nasehatnya pendapatnya mengenai sesuatu perkara oleh anggota sistem lainnya. Para pemuka pendapat ini punya pengaruh terhadap penyebaran inovasi; mereka bisa mempercepat diterimanya inovasi oleh anggota masyarakat tetapi bisa pula mereka menghambat tersebarnya sesuatu inovasi kedalam sistem. Adapun agen pembaharu adalah orang yang aktif berusaha menyebarkan inovasi ke dalam suatu sistem sosial. Dia adalah tenaga profesional (petugas) yang mewakili lembaga pembaruan yakni instansi atau organisasi yang berusaha mengadakan pembaruan masyarakat dengan jalan menyebarkan ide-ide baru. Dalam usaha menyebarkan inovasi agen pembaharu seringkali bekerja sama dengan pemuka pendapat di dalam suatu sistem sosial (Hanafi, 1987).
d). Waktu
Waktu merupakan pertimbangan yang penting dalam proses difusi. Dimensi waktu ada/tampak dalam (1) proses pengambilan keputusan inovasi, (2) keinovatifan seseorang yaitu relatif lebih awal atau lebih lambatnya seseorang dalam menerima inovasi, dan (3) kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial (Hanafi, 1987).
Waktu adalah unsur ketiga dalam proses difusi (penyebaran inovasi). Banyak riset tingkah laku dalam ilmu pengetahuan lain namun masih mengabaikan dimensi waktu. Pemasukan waktu sebagai variabel di dalam riset difusi adalah salah satu dari kekuatannya, hanyalah pengukuran dimensi waktu sering mendapat kritis. Dimensi waktu dilibatkan di dalam difusi (1) di dalam inovasi proses pengambilan keputusan dimana seseorang mulai pertama kali mendengar sampai menolak atau menerima inovasi itu (2) keinovatifan seseorang atau unit lain dibandingkan dengan anggota sistem lainnya, dan (3) didalam suatu tingkat adopsi inovasi di dalam suatu sistem pada umumnya diukur dengan banyaknya anggota sistem yang mengadopsi inovasi di dalam jangka waktu tertentu (Hanafi 1987).
Proses keputusan inovasi adalah proses dimana seseorang atau (unit pembuat keputusan lainnya) mengetahui sutu inovasi untuk membentuk suatu sikap kearah inovasi untuk mnegadopsi atau menolak, ke implementasi dan penggunan gagasan, dan akhirnya melakukan konfirmasi terhadap keputusannya. Lima langkah utama dalam proses keputusan inovasi : (1) pengetahuan, (2) persuasi, (3) keputusan, (4) implementasi, dan (5) konfirmasi. Pengetahuan terjadi ketika perorangan belajar tentang keberadaan inovasi dan memperoleh pengertian bagaimana fungsi dari inovasi itu. Persuasi atau bujukan terjadi ketika individu membentuk suatu sikap terhadap inovasi. Keputusan terjadi ketika perorangan terlibat dalam aktivitas yang mendorong kearah suatu pilihan untuk mengadopsi atau menolak. Implementasi terjadi ketika perorangan menaruh suatu inovasi ke dalam penggunaan. Konfirmasi terjadi ketika perorangan mencari penguatan dari suatu keputusan inovasi yang telah dibuatnya, tetapi individu boleh membalikkan keputusannya ( Rogers, 1983).
Pada dasarnya, proses adopsi pasti melalui tahapan-tahapan sebelum masyarakat mau menerima/menerapkan dengan keyakinan sendiri, meskipun selang waktu antar tahapan satu dengan yang lainnya itu tidak selalu sama (tergantung sifat inovasi, karakteristik sasaran, keadaan lingkungan (fisik maupun sosial), dan aktivitas/kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh. Tahapan-tahapan adopsi itu adalah :
1) awareness, atau kesadaran, yaitu sasaran mulai sadar akan adanya inovasi yang ditawarkan oleh penyuluh.
2) interest, atau tumbuhnya minat yang seringkali ditandai oleh keinginannya untuk bertanya atau untuk mengetahui lebih banyak/jauh tentang segala sesuatu yang berkaitan inovasi yang ditawarkan oleh penyuluh.
3) evaluation atau penilaian terhadap baik/atau buruk atau manfaat inovasi yang telah diketahui informasinya secara lebih lengkap. Pada penilaian ini, masyarakat sasaran tidak hanya melakukan penilaian terhadap aspek teknis saja, tetapi juga aspek ekonomi, maupun aspek-aspek sosial budaya, bahkan seringkali juga ditinjau dari aspek politis atau kesesuaiannya dengan kebijakan pembangunan nasional dan regional.
4) trial atau mencoba dalam skala kecil untuk lebih meyakinkan penilaiannya, sebelum menerapkan untuk skala yang lebih luas lagi.
5) adoption atau menerima/menerapkan dengan penuh keyakinan berdasarkan penilaian dan uji coba yang telah dilakukan/diamatinya sendiri (Mardikanto, 1996).
Dalam banyak kenyataan sering dijumpai banyak-cepat tidaknya proses adopsi adalah berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bervariasi tergantung dari berbagai faktor. Namun demikian kajadian yang sering terjadi dalam proses adopsi adalah sebagai berikut :
(a) Berjalan lambat pada saat awal.
(b) Kemudian meningkat sampai pada tingkatan dimana “nilai”nya hampir “setengah” dari adopter potensial yang menerima adopsi inovasi.
(c) Tingkatan proses adopsi inovasi meningkat terus hanya saja agak lambat bila dibandingkan dengan proses seperti dijelaskan dalam butir b.
(d) Proses adopsi inovasi seperti pada butir c terus berjalan hanya saja lambat sekali dan bahkan terjadi penurunan.
(e) Perkembangan proses adopsi inovasi itu menurun sedemikian rupa sehingga proses adopsi membentuk kurva normal.
Lebih lanjut dikatakan, mereka yang mengadopsi ide baru berada pada waktu yang berbeda yang berarti bahwa mereka dapat pula diklasifikasikan pada posisi waktu dalam pola adopsi. Klasifikasi ini mungkin dapat dijelaskan secara sederhana sebagaimana urutan yang dijelaskan pada uraian butir a sampai dengan e diatas, yaitu: (a) Perintis (innovators), (b) pemula (early adopters) (c) pemula dalam jumlah yang banyak (early majority), (d) pemula lanjutan (late majority), dan (e) tidak melakukan adopsi inovasi ( laggard) (Soekatawi, 1988).
2. Faktor sosial ekonomi petani
Petani sebagai pelaksana usaha tani (baik sebagai juru tani maupun sebagai pengelola) adalah manusia, yang di setiap pengambilan keputusan untuk usahatani tidak selau dengan bebas dilakukan karena adanya batasan-batasan yang ada pada petani baik itu lingkungan sosial maupun ekonominya (Mardikanto, 1993).
Faktor–faktor sosial ekonomi petani antara lain : kosmopolitas atau lokalitas. Kosmopolitas adalah hubungan petani dengan sumber-sumber diluar sistem, misalnya jika seorang anggota sistem mengadakan perjalanan/pergi keluar daerah untuk menjumpai sumber informasi. Lebih lanjut dikatakan, umumnya orang yang cepat berhenti dari penggunaan inovasi itu pendidikanya kurang, status sosialnya rendah, kurang berhubungan dengan agen pembaharu, dan ciri-ciri ini sama dengan ciri-ciri orang yang tergolong terlambat dalam mengadopsi inovasi (Hanafi, 1987 ).
Klausmeier dan Gwin (1966) dalam Mardikanto (1996) menyatakan bahwa, umur merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi efisiensi belajar, karena akan berpengaruh terhadap motivasinya untuk belajar.
Para petani yang pada umumnya kurang mampu, lahan pertanian yang dimilikinya sepit, rata-rata dibawah 0,5 hektar, oleh karena itulah mereka selalu berbuat dengan waspada lebih hati-hati karena takut mengalami kegagalan. Mereka ini baru apabila kebanyakan petani dilingkungannya benar-benar dapat meningkatkan perikehidupannya. Jadi penerapan inovasi teknologi terhadap golongan ini sangat rendah (Kartasapoetra, 1991).
Menurut Astrid S. (1978) dalam Widiyanti (2003) untuk dapat mengerti sesuatu maka orang harus mempunyai pengalaman atau tingkat pendidikan tertentu. Mudjijo (1987) berpendapat bahwa pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan untuk mengubah kelakukan (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) manusia yang didik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pendidik.
Menurut Soekartawi (1988) pendidikan formal merupakan sarana belajar dimana selanjutnya diperkirakan akan menanamkan pengertian sikap yang menguntungkan menuju penggunaan praktek pertanian yang lebih modern. Mereka yang berpendidikan tinggi relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi inovasi.
Petani yang berpendapatan tinggi seringkali ada hubungannya dengan tingkat difusi inovasi. Sebaliknya banyak kenyataan yang menunjukkan bahwa para petani yang berpenghasilan rendah adalah lambat dalam melakukan difusi inovasi. Kemauan untuk melakukan percobaan atau perubahan dalam difusi inovasi yang cepat sesuai dengan kondisi yang dimiliki petani umumnya menyebabkan pendapatan petani lebih tinggi (Soekartawi, 1988).
Freire (1971) dalam Roger (1989) menegaskan bahwa teknifikasi (adopsi inovasi teknis) baru merupakan tahap yang harus dicapai oleh para petani jika mereka dalam waktu yang bersamaan mengalami proses “penyadaran” (yang berisi kesadaran kritis terhadap situasi mereka sendiri yang berhadapan dengan struktur sosial dan perkembangan aspirasi masing-masing individu untuk menciptakan pertumbuhan dan realisasi diri.
Anggota sistem sosial itu berbeda sedemikian rupa sehingga tercipta struktur didalamnya. Struktur sosial terbentuk karena tersusunnya status dan posisi anggota dalam suatu sistem. Struktur sosial dapat merintangi atau memudahkan proses difusi, dan sebaliknya difusi dapat merobah struktur sosial suatu masyarakat (Hanafi , 1987).
3. Pengeloalan tanaman terpadu ( PTT )
Keterpaduan pengelolaan tanaman terpadu bukan hanya pada keterpaduan antara tanaman, sumberdaya produksi dan teknologi, tetapi mencakup keterpaduan yang lebih luas yaitu: (1) keterpaduan antar institusi, (2) keterpaduan antar disiplin ilmu pengetahuan, (3) keterpaduan analisis dan interpretasi, serta (4) keterpaduan program antar sub-sektor (Anonim, 2002).
Model pengelolaan tanaman terpadu mengacu pada keterpaduan teknologi dan sumberdaya setempat yang dapat menghasilkan efek sinergis dan efisiensi tinggi, sebagai wahana pengelolaan tanaman dan sumberdaya spesifik lokasi. Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu merupakan strategi atau model dalam usaha meningkatkan produksi tanaman pangan melalui integrasi teknologi, sosial dan ekonomi yang diharapkan mempunyai efek sinergisme (Irsal., 2002). Tujuan penerapan PTT adalah: 1) meningkatkan produktivitas tanaman padi, 2) meningkatkan nilai ekonomi/keuntungan usahatani melalui efisiensi input, dan 3) melestarikan sumberdaya untuk keberlanjutan sistem produksi (Anonim, 2002).
Pengelolaan tanaman padi sawah terpadu (PTT) merupakan pendekatan yang mengutamakan hubungan sinergis antar komponen-komponen produksi seperti umur bibit, pemupukan lain-lain mulai dari pra produksi sampai dengan produksi. Tujuan pengkajian ini adalah: 1) mendapatkan model pengelolaan tanaman terpadu budidaya padi sawah spesifik di lahan irigasi. 2) meningkatkan produktivitas pendapatan petani (Wirajaswadi, 2005).
Komponen pengelolaan PTT mencakup varietas unggul, tanam bibit umur muda dengan satu satu bibit perlubang, pengairan berkala, penggunaan bahan organik, pemberian pupuk N berdasarkan bagan warna daun, pemberian P dan K berdasarkan analisis tanah, pengendalian hama dan penyakit menerapkan PHT dan panen penggunaan pedel tresher. Tanaman padi yang diusahakan dengan menerapkan PTT tumbuh lebih baik berproduksi lebih dari 10 % lebih tinggi, usahatani lebih menguntungkan dan lebih efisien dari pada cara petani dan dapat mempertahankan kesuburan tanah (Mahfud et al., 2005).
Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu adalah tindakan secara terpadu yang bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal, kepastian panen, mutu produk tinggi dan kelestarian lingkungan. Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu menggabungkan semua komponen terpilih yang serasi dan saling komplementer, untuk mendapatkan hasil panen optimal dan kelestarian lingkungan. Sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu merupakan tindakan agronomis terpilih yang antara lain meliputi ; (a) penentuan pilihan komoditas adaftif sesuai agroklimat dan musim tanam, (b) varitas unggul adaftif dan benih bermutu, (c) pengelolaan tanah, air, hara dan tanaman secara optimal, (d) pengendalian hama penyakit terpadu, dan (e) penanganan panen dan pasca panen secara tepat (Anonim, 2002).
Menurut Miftahul (2005), penggunaan lahan sawah secara intensif dan terus menerus menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan sifat fisika-kimia tanah. Sehingga untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi pada pengelolaan lahan sawah irigasi selalu digunakan pupuk organik tanpa disertai penambahan bahan organik. Akibatnya, jumlah dan kualitas bahan organik tanah kian menurun. Kondisi seperti ini dapat dipecahkan dengan pengelolaan lahan sawah berdasarkan model pendekatan teknologi PTT. Pengelolaan tanaman terpadu merupakan model usaha tani tanaman secara terpadu meliputi komponen varietas unggul baru, penggunaan benih bermutu, pengaruh jarak tanam dengan jajar legowo, penanaman bibit muda tunggal, serta penggunaan bahan organik.
Ada beberapa komponen teknologi sinergis yang dapat di terapkan pada model PTT.
a. Benih ungul adaptif
Telah banyak varietas unggul dilepas untuk memenuhi selera konsumen dan kesesuaian terhadap kondisi lingkungan serta ketahanan terhadap kondisi lingkunagn serta ketahanan terhadap hama penyakit tertentu. Contoh varietas Widas dikembangkan pada daerah endemik hawar daun bakteri strain IV, juga sesuai untuk teknik tabela. Varietas Cilosari sesuai untuk daerah endemik pengerek batang, terutama pada musim kemarau. Manfaat dari penggunaan benih unggul adaftif adalah untuk mengurangi resiko kegagalan akibat hama atau penyakit dan peningkatan produktivitas.
b. Benih berkualitas
Benih merupakan faktor yang sangat menentukan tingkatan produktivitas tanaman. Benih padi bermutu tidak hanya ditentukan oleh label. Banyak benih berlabel yang beredar dipasaran namun kualitasnya kurang baik, banyak terdapat gabah hampa dan daya tumbuhnya juga kurang baik. Seleksi benih-benih berlabel masih diperlukan untuk mendapatkan benih bermutu. Seleksi benih dapat dilakukan dengan cara merendam benih dalam larutan abu dapur atau larutan garam, benih yang terapung selanjutnya dibuang. Manfaat dari benih berkualitas adalah untuk peningkatan kualitas benih yang disebar sehingga pertumbuhan benih lebih sehat dan seragam.

c. Perlakuan benih
Perlakuan benih tidak merupakan keharusan, namun untuk daerah-daerah endemik penggerek batang sangat dianjurkan. Bahan yang dapat digunakan adalah pestisida dengan bahan aktif fipronil. Caranya dengan pemberian pestisida sebelum diperam. Perlakuan benih dapat melindungi bibit persemaian dari kemungkinan serangan hama.
d. Bibit muda
Dengan benih bermutu dan cara semai yang baik, bibit umur 15 hari setelah sebar sudah cukup besar untuk dipindahkan kelapang (transplanting).
Manfaat pindah tanam dengan bibit muda dapat mengurangi stress pada pertumbuhan awal dan perkembangan perakaran juga lebih baik.
e. Tanaman tunggal
Pada daerah yang tidak endemik hama keong emas (Golden Snail) dan rawan banjir, tanam tunggal bibit muda 15 hari lebih baik. Tanam tunggal mengurangi persaingan antar individu tanaman dan rumpun. Hal ini memungkinkan tanaman tumbuh sehat, dan mampu menghasilkan anakan produktif yang lebih baik. Dengan tanaman tunggal dapat menghemat pemakaian benih mencapai 30 kg/ha dan anakan produktif dapat berkembang lebih baik.
f. Bahan organik
Penggunaan bahan organik baik kompos atau pengembalian jerami ke lahan, dimaksudkan untuk secara perlahan-lahan memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Untuk itu tujuan pemberian pupuk organik bukan untuk peningkatan produksi tapi lebih kepada upaya perbaikan kesuburan lahan. Namun penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan organik juga dapat meningkatkan penyebaran N dan P. Sehingga bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia/ kesuburan tanah.
g. Pemupukan N berdasarkan bagan warna daun (BWD)
Penggunaan pupuk N pada padi sawah belum efisien. Penggunaan urea dengan cara disebar hanya dapat diserap tanaman sebesar 39,7 %. Aplikasi pupuk urea berdasarkan BWD, didasarkan pada saat tanaman lapar. Masa lapar I tanaman padi terutama terjadi disaat umur 10 – 14 hst, dan masa lapar berikutnya dapat diketahui berdasarkan warna daun, apabila skala <4 perlu dipupuk. Dengan pemupukan N berdasarkan bagan warna daun dapat meningkatkan efisiensi pemupukan urea, menghemat penggunaan urea hingga 40 %. h. Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah Pemberian pupuk P dan K yang lebih spesifik didasarkan status hara P dan K dalam tanah melalui uji tanah, bukan mengunakan rekomendasi umum. Pada tanah dengan status hara P rendah, sedang dan tinggi, takaran masing-masing pupuk adalah 100-125 kg, 75 kg dan 50 kg SP –36/ha. Pemberian pupuk K paling lambat umur empat minggu setelah tanam, dan hanya diberikan pada tanah dengan status hara K rendah dengan takaran 100kg/ha. Untuk menghemat penggunaan pupuk K dianjurkan untuk mengembalikan jerami ke lahan. Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah bermanfaat untuk penghematan penggunaan pupuk, dapat mengurangi residu bahan kimia pada tanah. i. Pengairan berselang Penggenangan sawah terus menerus ternyata tidak hanya boros dalam penggunaan air juga dapat memperbesar kehilangan hara terlarut, serta peningkatan serangan hama penyakit tanaman, terutama wereng coklat dan penyakit busuk batang. Pengairan berselang dimana lahan tidak selalu tergenang tetapi diupayakan secara alami pada kondisi kering, macak-macak ternyata dapat memperbaiki aerasi dan pertumbuhan tanaman. Manfaat pengairan berselang dapat menghemat penggunaan air, mengurangi akumulasi gas-gas, H2S, memperbaiki aerasi tanah, meningkatkan pertumbuhan akar. j. Pengendalian gulma dengan landak Penggunaan landak/gosrok atau rotary dalam pengendalian gulma ternyata memberikan manfaat ganda, disamping mengendalikan gulma juga dapat memperbaiki kondisi lingkungan perakaran tanaman, sehingga akar tanaman padi mampu tumbuh dan berkembang lebih baik (Anonim, 2002). B. Kerangka Berfikir Sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah merupakan sebuah inovasi baru bagi petani. Inovasi PTT akan mengalami proses difusi baik dari dalam ataupun dari luar anggota sistem masyarakat. Esensi dari proses difusi adalah interaksi manusia, di mana seseorang mengkomunikasikan inovasi pada seseorang atau beberapa orang lain. Sehingga proses difusi sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang terjadi pada anggota sistem masyarakat petani. Perbedaan komunikasi akan sangat beragam karena disebabkan oleh beberapa faktor sosial ekonomi dan struktur sosial masyarakat. Penelitian difusi telah menemukan bahwa variabel-variabel tertentu secara positif dan konsisten dihubungkan dengan adopsi inovasi pertanian adalah : luasnya lahan pertanian, tingkat pendapatan, prestise sosial, tingkat pendidikan, dan keterbukaan terhadap media masa ( Roger, 1989). Petani yang berpendapatan tinggi seringkali ada hubungannya dengan tingkat difusi inovasi. Sebaliknya banyak kenyataan yang menunjukkan bahwa para petani yang berpenghasilan rendah adalah lambat dalam melakukan difusi inovasi. Kemauan untuk melakukan percobaan atau perubahan dalam difusi inovasi yang cepat sesuai dengan kondisi yang dimiliki petani umumnya menyebabkan pendapatan petani lebih tinggi (Soekartawi, 1988). Menurut Kartasapoetra (1991) petani yang memiliki lahan pertanian sepit, rata-rata dibawah 0,5 hektar mereka selalu berbuat dengan waspada lebih hati-hati karena takut mengalami kegagalan. Jadi penerapan inovasi teknologi pada golongan ini sangat rendah karena mereka cenderung menutup diri terhadap inovasi. Lebih lanjut dikatakan Soekartawi (1988) pendidikan merupakan sarana belajar yang akan menanamkan penertian sikap yang menguntungkan menuju penggunaan praktek pertanian yang lebih modern. Demikian juga dengan tingkat kosmopolitas. Kosmopolitas adalah hubungan petani dengan sumber-sumber diluar sistem, misalnya jika seorang anggota sistem mengadakan perjalanan/pergi keluar daerah untuk menjumpai sumber informasi. Lebih lanjut dikatakan, umumnya orang yang cepat berhenti dari penggunaan inovasi itu pendidikanya kurang, status sosialnya rendah, kurang berhubungan dengan agen pembaharu, dan ciri-ciri ini sama dengan ciri-ciri orang yang tergolong terlambat dalam mengadopsi inovasi (Hanafi, 1987 ). Jika semakin tinggi faktor sosial ekonomi petani yang terdiri dari ; umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, penguasaan lahan, pendapatan rumah tangga, dan kosmopolitas petani diikuti dengan kenaikan tingkat difusi inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu maka keduanya terdapat hubungan yang signifikan. Tetapi jika kenaikan faktor sosial ekonomi petani tidak diikuti dengan naiknya tingkat difusi inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu maka keduanya tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hubungan diatas dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1. Skema kerangka berfikir hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi petani dengan tingkat difusi inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo. C. Hipotesis Terdapat hubungan yang nyata antara faktor – faktor sosial ekonomi petani dengan tingkat difusi inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo. D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. Umur Merupakan usia responden pada saat dilakukan wawancara untuk penelitian.Umur diukur dalam tahun dan diklasifikasikan dalam tiga kelompok. Untuk mengetahui klasifikasi dari umur responden dilakukan dengan membuat interval umur responden dengan rumus usia tertinggi dikurangi usia terendah dibagi jumlah kelas. Pengukuran dilakukan dalam skala ordinal sebagai berikut : a. Muda (40 – 50 tahun) skor 3 b. Tua (51 – 61 tahun) skor 2 c. Sangat tua(>61 tahun) skor 1
2. Pendidikan formal petani
Merupakan jenjang pendidikan yang dicapai responden pada sistem pendidikan sekolah. Variabel ini diukur dengan skala ordinal sebagai berikut :
a. ≥ SMU skor 3
b. Tamat/tidak tamat SMP skor 2
c. Tamat/tidak tamat SD skor 1
3. Pendidikan non formal
Adalah pendidikan yang diperoleh petani diluar pendidikan formal dibidang pertanian. Diukur dari frekuensi dalam megikuti kegiatan penyuluhan atau pelatihan pertanian dalam satu musim tanam yang disusun dalam skala ordinal sebagai berikut :
a. Tinggi (11 – 16x ) skor 3
b. Sedang (6 – 10 x ) skor 2
c. Rendah (0 – 5 x) skor 1
4. Kosmopolitas
Merupakan hubungan petani dengan atau dari luar sistem misalnya perjalanan/ pergi keluar daerah. Variabel ini diukur dari frekuensi pergi keluar daerah dalam satu bulan yang disusun dalam skala ordinal sebagai berikut :
a. Sering ( lebih dari 4 kali ) skor 3
b. Kadang – kadang (1 – 4 kali ) skor 2
c. Tidak pernah berpergian sama sekali skor 1
5. Penguasaan lahan
Merupakan luas lahan yang digarap atau diusahakan petani pada saat penelitian. Diukur dengan skala ordinal sebagai berikut :
a. luas (> 1 Ha ) skor 3
b. Sedang ( 0,5 – 1 Ha ) skor 2
c. Sempit ( < 0,5 Ha ) skor 1 6. Pendapatan rumah tangga Merupakan pendapatan rumah tangga yang diperoleh dari usaha tani maupun dari luar usaha tani. Diukur dengan skala ordinal : a. Tinggi(>22.535.000) skor 3
b. Sedang(11.267.500 – 22.535.000) skor 2
c. Rendah(<11.267.500) skor 1
7. Inovasi
Merupakan gagasan, cara, tindakan atau barang yang dianggap baru. Inovasi dalam penelitian ini adalah sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah. Indikator yang digunakan untuk pengukuran inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu(PTT) padi sawah adalah karakteristik dari inovasi sistem pengelolaan tanaman terpaduu (PTT) padi sawah yang merupakan sifat khas atau atribut yang melekat menjadi identitas sistem PTT padi sawah yang meliputi.
a. Keuntungan sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah dibanding dengan cara lama atau konvensional pengelolaan padi sawah. Diukur dengan dalam skala ordinal sebagai berikut :
1) Hasil produksi padi dengan sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) lebih menguntuingkan dari pada hasil dengan pengelolaan cara konvensional skor 3
2) Hasil produksi padi dengan sistem pengelolaan tanaman terpadu sama dengan hasil produksi dengan pengelolaan cara konvensional skor 2
3) Hasil produksi padi dengan sistem pengelolaan tanaman terpadu lebih kecil dari pada hasil produksi dengan pengelolaan cara konvensional skor 1
b. Beaya yang diperlukan untuk sistem pengelolaan tanaman terpadu dibanding dengan pengelolaan cara konvensional padi sawah
1) Beaya yang diperlukan untuk sistem pengelolaan tanaman terpadu lebih hemat dibanding dengan beaya untuk pengelolaan cara konvensional skor 3
2) Beaya yang diperlukan untuk sistem pengelolaan tanaman terpadu sama dengan beaya yang diperlukan untuk pengelolaan cara konvensional skor 2
3) Beaya yang diperlukan untuk sistem pengeloalan tanaman terpadu lebih banyak dibanding dengan beaya yang diperlukan untuk pengelolaan cara konvensional skor 1
c. Kompleksitas yaitu tingkat kerumitan atau kesulitan yang ditemui dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah. Diukur dalam skala ordinal sebagai berikut :
1) Mudah (sama sekali tidak menemui kesulitan dalam memahami tahapan – tahapan yang ada dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah) skor 3
2) Cukup mudah (menemui kesulitan dalam memahami tahapan-tahapan yang ada dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah) skor 2
3) Sangat sulit (selalu menemui kesulitan dalam memahami tahapan-tahapan yang ada dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah) skor 1
d. Triabilitas yaitu dapat tidaknya sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah dicoba dalam skala kecil. Diukur dalam skala ordinal sebagai berikut :
1) Dapat dan mudah skor 3
2) Dapat tapi sulit skor 2
3) Tidak dapat dicoba dalam skala kecil skor 1
e. Observabilitas yaitu mudah tidaknya petani merasakan atau melihat hasil yang diperoleh dengan adanya sistem pengelolaan tanaman terpadu padi sawah. Diukur dalam skala ordinal sebagai berikut :
1) Mudah (hasil dari sistem PTT dapat dirasakan secara langsung dan terlihat secara jelas dampaknya) skor 3
2) Sulit (hasil dari sistem PTT tidak dapat dirasakan secara langsung) skor 2
3) Tidak dapat dirasakan hasilnya skor 1
8. Saluran komunikasi
Merupakan alat di mana pesan-pesan (sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) ) dari sumber dapat sampai kepada penerima. Indidkator yang digunakan untuk mengukur variabel ini adalah :
a. Saluran interpersonal adalah saluran yang melibatkan pertemuan tatap muka antar dua orang atau lebih dalam membahas sistem PTT. Pengukuran dilakukan dalam skala ordinal sebagai berikut :
1) Sering skor 3
2) Kadang-kadang skor 2
3) Tidak pernah skor 1
b. Media masa adalah alat penyampaian pesan yang memungkinkn sumber mencapai suatu audien dalam jumlah besar yang dapat menembus batas waktu dan ruang,(berupa leaflet, buletin, majalah tentang sistem PTT). Diukur melalui frekuensinya dalam mengakses/membaca/melihat/mendengar media masa yang memuat pesan tentang sistem PTT, dinyatakan dalam skala ordinal sebagai berikut:
1) Sering skor 3
2) Kadang-kadang skor 2
3) Tidak pernah skor 1
9. Sistem sosial
Merupakan kumpulan yang berbeda secara fungsional dan bekerja sama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama, terdiri dari agen pembaharu (penyuluh pertanian) dan pemuka pendapat (ketua kelompok tani). Indikator yang digunakan meliputi :
1) Agen pembaharu (penyuluh pertanian)
a. Keaktifan melakukan kegiatan promosi alternatif-alternatif baru dalam usaha tani. Diukur dalam skala ordinal sebagai berikut :
(1) Selalu ( tiap pertemuan ) skor 3
(2) Kadang-kadang skor 2
(3) tidak pernah skor 1
b. Hubungan yang dilakukan penyuluh dengan petani untuk menciptakan suasana kekeluargaan. Diukur dengan skala ordinal sebagai berikut :
(1) Sangat akrab, apabila penyuluh menjalin hubungan kekluargaan yang baik didalam maupun diluar kegiatan penyuluhan skor 3
(2)Kurang akrab, apabila penyuluh menjalin hubungan kekeluargaan hanya di dalam kegiatan penyuluhan saja. skor 2
(3) Tidak akrab, apabila penyuluh bersikap acuh tak acuh baik di dalam atau diluar kegiatan penyuluhan skor 1
c. Keaktifan membimbing atau membantu permasalahan petani. Diukur dengan skala ordinal sebagai berikut :
(1) Aktif, penyuluhan selalu dapat diandalkan bantuannya baik diminta ataupun tidak diminta bantuannya. skor 3
(2) Kurang aktif, penyuluh kurang dapat diandalkan bantuannya skor 2
(3) Tidak pernah membantu sama sekali skor 1
2) Pemuka pendapat
Keaktifan dan keikutsertaan menyebarluaskan/memberikan penjelasan kepada petani tentang sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu. Diukur dengan skala ordinal sebagai berikut :
(1) Aktif, selalu memberikan penjelasan dan memberikan informasi yang berkaitan dengan sistem PTT setiap ada kesempatan skor 3
(2) Kurang aktif, jarang dan enggan memberi penjelasan dan informasi tentang sistem PTT. skor 2
(3) Tidak pernah memberi penjelasan dan informasi sama sekali skor 1
10. Jangka waktu
Merupakan waktu yang dibutuhkan responden dalam keputusan inovasinya sejak dia mengetahui sampai mengadopsi atau menolak. Waktu diukur mulai dari sejak pertama inovasi dikenalkan sampai dengan penelitian dilakukan . Proses pengambilan keputusan inovasi meliputi :
1) Tahap pengetahuan adalah tingkat pemahaman petani terhadap fungsi dari paket teknologi sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT).
2). Persuasi adalah proses pembentukan sikap terhadap inovasi sistem PTT.
3). Decision / Pengambilan keputusan adalah proses mental untuk menerima atau menolak suatu inovasi .
4). Implementasi/penerapan adalah tingkat penerapan inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu sesuai dengan paket teknologinya.
5). Konfirmasi adalah proses untuk mencari penguatan dari suatu inovasi yang telah diadopsinya.
Pengukuaran ditiap tahap dilakukan dengan pemberian alternatif jawaban dengan bobot skor :
– menunujukkan waktu yang cepat /tepat diberi skor 3
– menunjukkan waktu yang sedang diberi skor 2
– menunjukkan waktu yang lambat diberi skor 1

11. Tingkat difusi inovasi
Merupakan kecepatan difusi inovasi atau proses penyebaran inovasi , diukur dari besarnya skor jawaban responden terhadap difusi inovasi yang selanjutnya untuk mengetahui apakah tingkat difusi inovasi tinggi, sedang atau rendah dihitung dengan rumus interval sebagai berikut :
Interval :
E. Pembatasan Masalah
1. Dalam penelitian ini faktor-faktor sosial ekonomi adalah (umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, penguasaan lahan, kosmopolitas, pendapatan rumah tangga).
2. Difusi inovasi sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses dimana sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah tersebar kepada anggota sistem sosial.

7 Tanggapan so far »

  1. 1

    sutrisno said,

    Saya harus belajar banyak dengan Mas …
    Mantap Mas

  2. 3

    ERA PURNAWAN DJ. S.Pt. said,

    THANK ATAS IULMUNYA

  3. 4

    Yoenita said,

    Makasih ilmunya. boleh saya gunakan untuk tugas kan?? thankyuuu…..

  4. 5

    dewi said,

    ijin download ya maz..mkasihh :))

  5. 6

    qitha said,

    tq..ta’download nih

  6. 7

    riena said,

    izin download, terima kasih


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: