HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI DAN KETERSEDIAAN AIR DENGAN TINGKAT ADOPSI KELOMPOK WANITA TANI DALAM PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN DI KECAMATAN BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI

LANDASAN TEORI

A.     Tinjauan Pustaka

Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati adalah makhluk hidup yang mencakup tumbuhan dan hewan yang memiliki ciri-ciri dan tempat hidup yang berbeda satu terhadap yang lain. Keanekaragaman hayati hewan berdasarkan bentuk tubuh, ukuran tubuh, warna tubuh, tempat hidup, tingkah laku, bentuk interaksi, cara reproduksi dan jenis makanannya. Sedangkan, tumbuhan dapat dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk kasar halus permukaan daunnya dan tempat hidupnya. Contoh untuk tumbuhan, seperti rerumputan yang meliputi rumput teki, rumput grinting dan alang-alang (Sudjadi, 2004).
Keanekaragaman hayati ialah keanekaragaman di dalam makhluk hidup dari semua sumber, di antaranya, daratan, lautan dan ekosistem perairan lain serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya; mencakup keanekaragaman di dalam jenis yang mencakup keseluruhan informasi genetik sebagai pembawa sifat keturunan dari semua makhluk hidup yang ada, antar jenis mencakup keragaman organisme atau jenis yang mempunyai ekspresi genetis tertentu dan ekosistem merujuk pada keragaman habitat, yaitu tempat berbagai jenis makhluk hidup melangsungkan kehidupannya dan berinteraksi dengan faktor abiotik dan biotik lainnya. Dalam pengertian lain, keanekaragaman hayati merujuk pada keanekaragaman semua jenis tumbuhan, hewan dan jasad renik (mikroorganisms), serta proses ekosistem dan ekologis dimana mereka menjadi bagiannya. Keanekaragaman hayati lebih dari sekedar jumlah jenis-jenis flora dan fauna (Menlh, 2006).
Konservasi keanekaragaman hayati bertolak pada pengelolaan konservasi di tiga level keanekaragaman hayati yaitu: level ekosistem, level jenis dan level genetik secara terintegrasi dan komprehensif. Untuk itu tujuan jangka panjang Konservasi Keanekaragaman Hayati harus dapat menjamin kelestarian fungsi ekosistem esensial sebagai penyangga kehidupan terutama di luar kawasan konservasi. Pada level spesies, konservasi dalam jangka panjang bertujuan untuk mencegah terjadinya kepunahan jenis yang diakibatkan oleh penyebab utama terancamnya jenis dari kepunahan yaitu kerusakan habitat dan pemanfaatan  (termasuk perdagangan) yang tidak terkendali. Pada level genetik, konservasi keanekaragaman genetik diarahkan pada konservasi insitu di dalam dan di luar konservasi maupun konservasi exsitu. Arah pengelolaan sumberdaya genetik di masa depan adalah pemanfaatan sumberdaya genetik untuk mendukung pengembangan budidaya tanaman maupun ternak melalui pengembangan kultivar-kultivar unggul (Ditjen PHKA, 2007).
Pentingnya keanekaragaman hayati untuk kehidupan masyarakat telah memberikan manfaat salah satunya manfaat secara ekonomi. Manfaatnya sebagai penghasil SDA hayati mencakup: pertama; sumber karbohidrat dan protein, serta sumber bahan obat-obatan dan kosmetika, beberapa jenis kayu seperti ramin, meranti, rawa dan keruing jawa dapat dimanfaatkan untuk kayu gergajian, kayu bakar, dan bahan bangunan. Beberapa jenis tanaman yang memiliki hasil non-kayu adalah sebagai sumber karbohidrat, protein dan energi. Berbagai jenis tanaman lainnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan dan kosmetika, bahan industri kertas, anyaman, dan penyamak kulit. Kedua; sumber plasma nutfah meliputi berbagai jenis makhluk hidup, yaitu hewan dan tumbuhan dapat berfungsi sebagai sumber plasma nutfah (sumber gen) yang berpotensi untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan, memperbaiki kualitas tanaman dan hewan-hewan budidaya, dan dapat menghasilkan bahan obat-obatan. Ketiga; Sumber perikanan yaitu perairan merupakan sumber perikanan bernilai ekonomi, seperti laut, sungai, danau, tambak, dan kolam. Beberapa jenis diantaranya dikenal sebagai sumber protein tinggi, misal: ikan, udang, kepiting dan kerang. Selain sumber bahan makanan, beberapa jenis lainnya dapat dimanfaatkan untuk kesenangan, misal pemeliharaan ikan hias (Sudjadi, 2004).
Penganekaragaman pangan didefinisikan sebagai produksi beberapa produk pangan pada saat yang sama, atau produksi penjualan hasil tanaman yang sama pada saat-saat yang berbeda dalam tahun yang bersangkutan. Dalam tiap situasi itu, variasi yang lebih besar dalam konsumsi pangan telah dipromosikan apabila suatu jenis bahan pangan yang pada saat lain tidak tersedia, dapat disediakan (Harper, et al, 1986).
Diversifikasi tanaman pangan pada tingkat makro merefleksikan kondisi faktual memenuhi permintaan pasar dengan sasaran mencapai surplus produksi dan peningkatan pendapatan. Kinerja makro diversifikasi dapat berbeda secara spasial (wilayah), intertemporal, sentra produksi pengembangan (regionalisasi), akses terhadap pasar, dan musim  (Rusastra, et al, 2004).
Berdasarkan Proyek Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG) (1998), pada tahun anggaran 1998 / 1999 dilakukan revitalisasi Program DPG untuk memberikan respon yang lebih baik dalam rangka meningkatkan diversifikasi pangan pokok. Upaya ini dilaksanakan dengan perubahan orientasi dari pendekatan sempit (pemanfaatan pekarangan untuk menyediakan aneka ragam kebutuhan pangan) ke arah yang lebih          luas yaitu pemanfaatan pekarangan guna pengembangan pangan          lokal alternatif. Pembinaannya pun tidak terbatas pada aspek budidaya        tetapi juga meliputi aspek pengolahan dan penanganan pasca panen      agar pangan local alternatif ini dapat memenuhi selera masyarakat   (Ariani dan Ashari, 2003).
Memelihara tanaman bisa dilakukan di kebun, di halaman rumah, dan di halaman sekolah. Lahan di halaman / pekarangan rumah dan sekolah, dapat berfungsi sebagai lumbung hidup, apotek hidup, warung hidup, pagar hidup, dan sebagai penambah keindahan. Lumbung hidup, gudang bahan makanan, yang siap dipanen sesuai kebutuhan. Apotek hidup, sumber obat tradisional, pengobatan alternatif. Warung hidup, tempat membeli bahan makanan bagi mereka yang memerlukan.
Banyak jenis tanaman bergizi yang dapat diusahakan di pekarangan, tinggal memilih sesuai dengan kebutuhan dan situasi-kondisi            (Arixs, 2005).
Tanaman obat-obatan yang disebut apotik hidup merupakan tanaman yang dimanfaatkan untuk mengisi pekarangan, sebab pada umumnya merupakan tanaman semak atau umbi. Pemeliharaan tanaman obat-obatan cukup mudah, sedangkan hamanya jarang terdapat. Prospeknya cukup cerah, apalagi pabrik-pabrik jamu masih sangat membutuhkannya. Manfaat obat-obatan dapat dipakai untuk kepentingan sendiri, apabila dalam pengembangan tanaman obat-obatan ini peranan ibu yang tergabung dalam organisasi wanita maupun dalam PKK sangat penting artinya (Soetomo, 1992).
Salah satu jenis tanaman obat adalah rosela. Bagian tanaman yang bisa diproses menjadi produk pangan adalah kelopak bunganya. Kelopak bunganya berwarna merah tua, tebal, dan berair (juicy), serta banyak mengandung Vitamin A, Vitamin C,  dan asam amino, serta asam organik, polisakarida, dan flavonoid  yang bermanfaat mencegah penyakit kanker, mengendalikan tekanan darah, melancarkan peredaran darah, dan melancarkan buang air besar. Kelopak bunga rosela merah yang rasanya sangat masam ini biasanya dibuat menjadi jeli, saus, teh, sirup, dan  manisan. Bahan  penting yang terkandung dalam kelopak bunga rosela adalah grossy peptin, anthocyanin, dan gluside hibiscin. Secara tradisional, tanaman ini banyak dimanfaatkan untuk mengatasi batuk, lesu, demam, dan gusi berdarah. Ekstrak kuncup bunga rosela merah juga dipercaya mampu bekerja sebagai penahan kekejangan (antispasmodik), anticacing (antihelmintik),  dan  antibakteria.  Khasiat lain dari herba ini sebagai  antiseptik, mengatasi lemah syahwat, penyejuk (astringent), dan menurunkan kadar penyerapan alkohol (Daryanto, 2006).
Masyarakat di negara-negara sekitar Laut Tengah terutama Mesir, dan Amerika Latin terutama Meksiko telah mengkonsumsi rosela sebagai makanan dan obat-obatan. Saat ini sebagian masyarakat di Indonesia sudah mulai memanfaatkan tanaman rosela untuk berbagai keperluan. Di Palembang, tanaman rosela sudah dibudidayakan dalam areal yang cukup luas dan kelopak bunganya diolah dalam dalam kemasan celup maupun serbuk kering. Tidak hanya bagian kelopak bunga, seluruh bagian tanaman mulai buah dan kelopak bunga, mahkota bunga, dan daunnya dapat dimakan, tetapi bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah kelopak bunganya. Tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai bahan salad, saus sup, minuman, sari buah, asinan, permen, selai, agar-agar, puding, sirop, dan jeli dengan rata-rata penggunaan sebesar 0,02%. Kelopak bunga tanaman ini tersedia dan dipasarkan dalam bentuk kering, tetapi penggunaan yang terbaik adalah dalam bentuk segar (Lampungpost, 2006).
Karena pekarangan masih belum dikembangkan, potensi peningkatan produksi dan nilai ekonominya sebenarnya masih sangat besar. Tetapi pengembangannya harus dijalankan dengan hati-hati dan penuh perhatian terhadap prinsip ekologi yang mendasari ekstensinya, termasuk juga segi sosial ekonominya. Banyak di antara tumbuhan dan ternak masih dapat ditingkatkan mutunya dengan jalan memilih varietas lokal yang diikuti dengan program hibridisasi. Dalam hal ini pekarangan merupakan sumber genetis yang amat kaya (Soemarwoto, et al, 1987).

(1) Rehabilitasi memulihkan kesuburan tanah, air dan kelestarian daya dukung lingkungan diupayakan melalui reboisasi dengan penyusunan pola rehabilitasi lahan dan konversi tanah

(2) Ekstensifikasi merupakan usaha perluasan areal pertanian

(3) Intensifikasi merupakan usaha menerapkan teknologi di bidang budidaya pertanian

(4) Diversifikasi merupakan usaha menganekaragamkan usahatani

(5) Diversifikasi vertical merupakan penanganan pengolahan pascapanen

(6) Diversifikasi horizontal merupakan pengelolaan lahan dengan komoditi yang produktif

Sesuai dengan program pemerintah, produksi pangan harus selalu ditingkatkan. Dengan demikian maka berbagai usaha rehabilitasi(1), ekstensifikasi(2) dan intensifikasi(3) lahan serta diversifikasi(4) penanaman dijalankan. Usaha pengembangan produksi lebih ditekankan pada pelaksanaan diversifikasi dengan pengembangan beberapa jenis komoditas yang perlu mendapat perhatian. Adapun yang dimaksud dengan diversifikasi pertanian adalah usaha menganekaragamkan usahatani, baik secara vertikal mulai dari prapanen sampai dengan pasca panen dan pemasaran maupun secara horizontal yang merupakan imbangan pengembangan antara komoditas dan wilayah. Diversifikasi bertujuan meningkatkan produktivitas tanah, pendapatan petani, mengurangi pengangguran, memperbaiki nilai gizi, dan memperbaiki lingkungan hidup. Tujuan pengembangan pekarangan diarahkan pada peningkatan produksi, baik kualitas maupun kuantitas, untuk mencapai swasembada pangan dan meningkatkan pendapatan petani. Pengembangan pekarangan tersebut mencakup pertama, kebijaksanaan dalam meningkatkan buah-buahan melalui kegiatan usaha demplot, rehabilitasi, perlombaan tanaman, dan pengendalian benih unggul. Kedua, meningkatkan sayur-sayuran melalui kegiatan introduksi dan adaptasi, demplot dan pilot project. Ketiga, bunga-bungaan dan tanaman hias yang mencakup                 kegiatan pembibitan, demonstrasi, lomba, kursus dan latihan-latihan (Soetomo, 1992).
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di beberapa kecamatan di Propinsi Jawa tengah dan daerah Istimewa Yogyakarta, pola kerja untuk pengembangan pekarangan antara lain melalui perluasan pekarangan yang dilakukan dengan pekarangan percobaan terlebih dahulu untuk pemulihan dan penanggulangan lahan kritis, meningkatkan intensitas pohon buah-buahan dalam bentuk pemeliharaan yang lebih baik dan adanya usaha peremajaan maupun penambahan jumlah tanaman baik tanaman tahunan maupun tanaman musiman, serta mengadakan diversifikasi dengan menambah tanaman-tanaman penghasil makanan tambahan atau pengganti tanaman yang sudah ada dengan tanaman lain yang lebih tinggi nilainya (Sunu, et al, 2000).
Pemanfaatan Lahan Pekarangan
Menurut Terra dalam Danoesastro (1976), pekarangan ialah tanah sekitar pekarangan, kebanyakan berpagar keliling dan biasanya ditanami padat dengan beraneka macam tanaman musiman maupun tanaman keras untuk keperluan sehari-hari dan untuk diperdagangkan. Kebanyakan pekarangan-pekarangan terletak saling berdampingan dan bersama-sama membentuk desa atau kampung. Bentuk kelompok pekarangan-pekarangan ini dapat bermacam-macam: blok-blok besar, lajur-lajur menurut tinggi tanah, misalnya sepanjang tangkis tepi sungai, dan jarang berupa kelompok-kelompok kecil yang menyendiri.
Pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang mudah di usahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga. Pekarangan sering juga disebut sebagai lumbung hidup, warung hidup atau apotik hidup. Dalam kondisi tertentu, pekarangan dapat memanfaatkan kebun / rawa di sekitar rumah. Pemanfaatan Pekarangan adalah pekarangan yang dikelola melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beranekaragam secara terus menerus, guna pemenuhan gizi keluarga (Deptan, 2002).
Menurut Martin (1986), pekarangan memiliki karakteristik tertentu antara lain tidak terdapat pergiliran tanaman, menyatu dengan rumah tempat tinggal pemiliknya, terdapat di lingkup pedesaan, kurang adanya perhatian dari pemiliknya, memiliki ukuran kecil jadi kurang dikomersialkan, memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi, biasanya diusahakan pada lahan dataran rendah, selalu terdapat hewan-hewan peliharaan di dalamnya, dan setiap harinya dapat menghasilkan sehingga sewaktu-waktu dapat dipanen.
Intensifikasi Pekarangan sebagai salah satu langkah kaum perempuan dalam memberdayakan dirinya dalam bidang pertanian yaitu dengan menggalakkan pemanfaatan pekarangan untuk ditanami dengan berbagai macam tanaman sayuran, obat-obatan, tanaman bumbu dan pemeliharaan ternak. Sebagai salah satu peran perempuan dalam membangun pembangunan pertanian yaitu dengan ikut berperan dalam menciptakan program-program yang mengarah pada pemberdayaan perempuan dengan meluncurkan program diversifikasi pangan dan gizi yaitu program yang berupaya mengintensifikasi pekarangan sebagai salah satu gerakan ketahanan pangan keluarga dan masyarakat melalui pemanfaatan lahan pekarangan ini (Dispertanak, 2007).
Menurut Soetomo (1992), pemanfaatan pekarangan adalah memanfaatkan sebidang tanah di sekitar rumah yang mempunyai fungsi bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan pemiliknya untuk peningkatan gizi, membantu perekonomian keluarga, keindahan dan kesejukan. Pekarangan memiliki fungsi yaitu meningkatkan kesehatan lingkungan, baik sebagai paru-paru maupun untuk perbaikan ekosistem. Selain itu, tumbuh-tumbuhan dapat meresapkan air ke dalam tanah dan memelihara kelembaban udara. Pengaturan tanaman dapat menahan tanah dari kikisan aliran air. Fungsi lainnya yaitu fungsi estetika yang mana fungsi pekarangan dapat mengarah pada segi pemuasan kebutuhan rohani dalam bentuk keindahan, kenyamanan dan keharmonisan lingkungan. Di samping itu, juga mampu meningkatkan status sosial di lingkungan masyarakat. Sedangkan fungsi untuk melindungi sumber plasma nutfah dengan menganekaragamkan tanaman melalui usaha diversifikasi pertanian, yaitu usaha menganekaragamkan usahatani, baik secara vertikal maupun secara horizontal yang merupakan imbangan perkembangan antar komoditas dan wilayah.

(1) Lumbung hidup merupakan pekarangan yang mempunyai peranan yang besar sebagai penopang ketahanan pangan

(2) Warung hidup merupakan pekarangan yang dilengkapi dengan macam-macam bahan makanan

(3) Bank hidup merupakan pekarangan yang dilengkapi tanaman produktif keras bernilai ekonomis tinggi

Menurut Soetomo (1992), fungsi ekonomi pekarangan mencakup lumbung hidup, warung hidup, dan bank hidup. Untuk menunjang perbaikan menu makanan masyarakat pedesaan dan masyarakat yang berpenghasilan rendah, program pemerintah dewasa ini menitik-beratkan pada pelaksanaan intensifikasi pekarangan (inpek), menunjang usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) dan peningkatan pendapatan pada daerah rawan, daerah minus, atau daerah terpencil dan daerah yang mengalami kekurangan gizi. Sedangkan menurut penelitian Terra (1948) dan menurut hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Rakyat dalam Sunu, et al, (2000), fungsi ekonomi pekarangan dapat memberikan bahan makanan yang bervariatif seperti hydrat arang (jagung, umbu-umbian, ubi-ubian) dan sayur-sayuran maupun buah-buahan, pekarangan dapat dipanen setiap hari baik untuk dimakan sendiri maupun dijual ke pasar yang memungkinkan adanya tambahan sumber keuangan bagi keluarga, pekarangan dapat menghasilkan kayu untuk bangunan rumah, pekarangan dapat menghasilkan bumbu masak atau rempah-rempah (seperti jahe, lengkuas, daun jeruk purut), obat-obatan serta bunga-bungaan yang dapat dipergunakan untuk memperindah atau menyegarkan ruangan (sebagai bunga dalam vas yang ditaruh di atas meja), pekarangan dapat menghasilkan kayu bakar yang dapat diambil dari cabang tanaman yang kering maupun dari pohon yang diperuntukan sebagai kayu bakar, pekarangan dapat memberikan bahan dasar untuk kerajinan rumah tangga baik untuk keperluan sendiri maupun kebutuhan pasar sebagai sumber pendapatan, pekarangan dapat sebagai sumber protein dengan memelihara ternak seperti unggas serta ikan yang dipelihara di dalam kolam, selain itu kotoran ternaknya dapat dipergunakan sebagai pupuk organik yang dapat dijual ke pasar.
Menurut Soetomo (1992), fungsi sosial dari pekarangan yaitu memenuhi kebutuhan sosial, budaya, dan agama melalui usaha pengembangan produksi lebih ditekankan pada pelaksanaan diversifikasi dengan pengembangan beberapa jenis komoditas yang perlu mendapat perhatian. Diversifikasi merupakan usaha menganekaragamkan usahatani yang bertujuan meningkatkan produktivitas tanah, mengurangi pengangguran, memperbaiki nilai gizi dan memperbaiki lingkungan hidup. Kebutuhan akan makanan bergizi tinggi adalah kebutuhan sepanjang hidup meskipun diakui ada fase-fase tertentu ketika kebutuhan akan makanan bergizi tinggi merupakan puncak kebutuhan, yakni pada masa ibu hamil, ibu menyusui, batita dan balita. Oleh karena itu, dengan sendirinya makanan bergizi tinggi harus selalu siap setiap saat dan dapat diperoleh secara mudah dan murah. Sedangkan menurut Sunu, et all, (2000), fungsi sosial pekarangan adalah untuk memberi rasa nyaman bagi lingkungan tempat tinggal, tempat anak-anak bermain dan juga untuk melepaskan lelah serta bersantai ria pada waktu senggang maupun untuk melepaskan binatang kesayangannya.
Tingkat Adopsi
Adopsi adalah proses di mana sasaran mulai menggunakan           atau menerapkan ide-ide baru, keterampilan, atau benda-benda                         dan kejadian-kejadian dalam menggunakan ide yang inovasi                                     (Rogers and Shoemaker, 1971).
Adopsi dalam proses penyuluhan, menurut Mardikanto (1996), merupakan proses perubahan perilaku baik yang berupa: pengetahuan (cognitive), sikap (afektif), maupun keterampilan (psycho-motoric) pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan penyuluh oleh masyarakat sasaran. Sedangkan inovasi di sini, menurut Lionberger dan Gwin (1982) dalam Mardikanto (1996) mengartikan inovasi tidak sekedar sebagai sesuatu yang baru, tetapi lebih luas dari itu, yakni sesuatu yang dinilai baru atau dapat mendorong pembaharuan dalam masyarakat atau pada lokalitas tertentu.
Menurut Rogers and Shoemaker (1971), gambaran sederhana dari proses keputusan inovasi disebut “proses adopsi”, oleh komite ilmu sosial pedesaan pada tahun 1955, proses adopsi ini terbagi menjadi 5 tingkatan. Meliputi yang pertama, tingkat sadar (awareness stage), di mana masing-masing individu belajar dari ide-ide baru yang mana mereka kurang mendapatkan informasi tentang hal itu. Kedua, tingkat minat (interes stage), di mana masing-masing individu mengembangkan minat dalam inovasi dan mencoba mencari informasi tambahan tentang hal itu. Ketiga, tingkat penilaian (evaluation stage), di mana masing-masing individu membuat keputusan untuk menerapkan ide-ide baru untuk keadaan saat ini dan antisipasi untuk masa depan dan memutuskan apakah mau atau menolak untuk mencobanya. Keempat, tingkat mencoba (trial stage), di mana masing-masing individu sebenarnya menerapkan ide-ide baru dalam skala kecil pada aturan untuk menentukan apakah hal itu berguna dalam situasi yang dihadapinya. Kelima, tingkat adopsi (adoption stages), di mana masing-masing individu menggunakan ide-ide baru secara terus-menerus dalam skala yang lebih luas.
Adopsi Teknologi dalam usahatani memperhatikan kaidah konservasi dengan adanya integrasi antara tanaman dengan peternakan terlihat dalam teknologi budidaya tanaman, pemanfaatan air embung / pembuatan embung-embung baru, konservasi lahan, serta pemeliharaan ternak sapi secara intensif. Introduksi teknologi pengelolaan lahan kering secara terpadu tanaman dan ternak dengan memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lahan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan petani. Pendapatan petani pada lokasi pengkajian yaitu di lahan kering Desa Patas Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng meningkat dari Rp 2.012.422 pada tahun 1999 meningkat menjadi Rp 4.408.046 tahun 2000 dan tahun 2001 meningkat menjadi Rp 5.717.635 (Suprapto, 2004).
Budidaya tanaman sayuran perlu pengelolaan dan perhatian yang lebih dari tanaman lain. Agar hasil bertanam sayur maksimal, perlu diperhatikan dasar usaha bertanam, di antaranya pengolahan tanah, pemupukan, pengelolaan air, penyemaian benih, pemeliharaan tanaman, pemungutan hasil, penanganan hasil. Pertama, pengolahan tanah merupakan suatu aktivitas di mana tanah yang akan ditanami digemburkan dengan cara dicangkul agar tanah menjadi remah sehingga aerasinya berjalan baik dan zat-zat beracun pun akan hilang. Selain itu sebelum ditanami dibuat bedengan-bedengan untuk tempat penanaman. Kedua pemupukan merupakan suatu usaha untuk menyediakan hara organik bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah, dan menahan air dalam tanah. Ketiga, penyemaian benih di mana benih yang memenuhi syarat dapat disemaikan terlebih dahulu. Keempat, penanaman merupakan proses pemindahan bibit (tanaman muda) dari persemaian ke kebun. Kelima, di dalam pemeliharaan tanaman mencakup pencegahan dan pemberantasan serangan hama (ulat dan kutu) serta penyakit (bakteri, fungi, dan virus). Keenam, pemungutan hasil mencakup hasil berupa daun, buah, maupun umbi harus dipungut tepat waktu, tidak tergesa-gesa atau terlambat. Ketujuh, di dalam penanganan hasil perlu adanya upaya untuk mencegah atau memperkecil kerusakan hasil antara lain dengan pengepakan yang baik dan penanganan yang cepat. Kedelapan, di dalam pemasaran hasil diperlukan pemasaran yang lancar karena konsumen selalu menghendaki sayuran dalam keadaan segar (Sunarjono, 2004).
Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi serta untuk meningkatkan pendapatan keluarga di Irian Jaya adalah melalui Program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan. Usahatani pekarangan diterapkan dengan tujuan untuk: menghasilkan produk diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan bermutu serta obat-obatan tradisional bagi keluarga, menambah sumber pendapatan keluarga, memelihara sumberdaya pekarangan dan mengefesiensikan waktu dan tenaga kaum ibu sebagai pengelola utama usaha tani pekarangan. Pada dasarnya usahatani pekarangan sama dengan usahatani lahan kering lainnya. Usahatani pekarangan mempunyai beberapa ciri khas yang mudah dapat diamati, yaitu: adanya saling keterikatan diantara subsistem tanaman pangan, hortikultura semusim, subsistem tanaman tahunan, subsistem peternakan dan subsistem perikanan; mencapai produksi dan produktifitas melalui optimalisasi pemanfaatan lahan tanpa mengabaikan aspek-aspek pekarangan lainnya yaitu social kultural, nutrisi dan kesehatan, ekonomi, ekologi dan keindahan; dan melibatkan seluruh anggota keluarga sehingga biasanya faktor produksi tenaga kerja seringkali tidak diperhitungkan. Pengawasan dan pengelolaan umumnya dilakukan oleh kaum ibu yang secara inti lebih banyak waktunya berada di wilayah pekarangan (Liptan LPTP, 2007).
Dalam upaya meningkatkan pendapatan dan memperbaiki kesejahteraan keluarga tani, peranan ibu-ibu tani perlu lebih diberdayakan, karena kegiatan yang dilakukan selama ini belum optimal, sehingga masih banyak waktu luang yang dibiarkan tanpa kegiatan produktif. Agar peranan ibu-ibu tani bisa lebih optimal di dalam melaksanakan kegiatan produktif, para ibu-ibu tani yang tergabung di dalam kelompok tani perlu lebih diberdayakan peranannya, misalnya dengan memberikan ketrampilan, sarana kerja, bahan baku dan sebagainya. Melalui kegiatan tersebut diharapkan akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga tani. Agar program pemberdayaan wanita bisa dilaksanakan secara efektif dan efisien, perkumpulan ibu-ibu tani perlu dihimpun di dalam sebuah kelompok, sehingga akan sangat memudahkan dalam melakukan kegiatan, baik mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai monitoring dan evaluasinya (FAO – Indonesia, 2007).
Wanita Tani
Kelompok tani merupakan kumpulan orang – orang tani (dewasa, wanita, pemuda) yang terikat secara informal dalam satu wilyah kelompok atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta di lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani (Mardikanto, 1994).
Wanita tani dengan status sebagai pengusaha tani dalam kelompok tani dimasukkan ke dalam kelompok tani dewasa. Wanita tani dengan status pengusaha tani sudah menyerahkan sebagian tugas – tugas mengatur rumah tangga kepada anggota keluarga tani yang lain. Tenaga dan pikirannya lebih banyak dicurahkan kepada kegiatan pengelolaan usahatani keluarga. Dengan kata lain, wanita tani dengan status pengusaha tani lebih banyak membutuhkan teknologi yang menyangkut pengelolaan usahataninya (Siwi, et al, 1994).
Perhitungan secara kumulatif, jumlah ibu-ibu tani pada dasarnya hampir sama dengan bapak taninya. Begitu juga di dalam berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga, karena selain bapak tani terjun langsung mengelola usahatani, para ibu tani biasanya ikut ambil bagian seperti mengolah aneka makanan untuk keluarga atau dijual, memelihara ternak, menanam aneka tanaman di lahan pekarangan dan sebagainya. Dalam upaya meningkatkan pendapatan dan memperbaiki kesejahteraan keluarga tani, peranan ibu-ibu tani perlu lebih diberdayakan, karena kegiatan yang dilakukan selama ini belum optimal, sehingga masih banyak waktu luang yang dibiarkan tanpa kegiatan produktif. Agar peranan ibu-ibu tani bisa lebih optimal di dalam melaksanakan kegiatan produktif, para ibu-ibu tani yang tergabung di dalam kelompok tani perlu lebih diberdayakan peranannya, misalnya dengan memberikan ketrampilan, sarana kerja, bahan baku dan sebagainya. Melalui kegiatan tersebut diharapkan akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga tani. Agar program pemberdayaan wanita bisa dilaksanakan secara efektif dan efisien, perkumpulan ibu-ibu tani perlu dihimpun di dalam sebuah kelompok, sehingga akan sangat memudahkan dalam melakukan kegiatan, baik mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai monitoring dan evaluasinya. Dengan demikian, berhimpunnya ibu-ibu di dalam wadah Kelompok Wanita Tani sangat memberikan pengaruh positif terhadap para anggotanya, karena tumbuh rasa kebersamaan dan kekeluarganaan di dalam kelompok, sehingga segala kegiatan dilakukan melalui kerjasama sama, tolong-menolong dan penuh tanggung jawab (FAO – Indonesia, 2007).
Dalam rangka meningkatkan partisipasi aktif wanita dalam bidang pembangunan, maka peningkatan ketahanan mental dan spiritual serta kemampuan dan kesempatan dalam semua bidang merupakan sasaran utama bagi terlaksananya secara efektif pe­ningkatan peranan wanita dalam pembangunan. Peningkatan peranan wanita sebagai mitra sejajar kaum pria dalam pembangunan berarti meningkatkan tanggung jawab wanita sebagai pribadi yang mandiri dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Kaum wanita berperan serta aktif dalam pemba­ngunan dan dalam menjawab tantangan kemajuan zaman. Wanita dari golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah umumnya melaksanakan peran ganda karena tuntutan kebu­tuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya. Oleh karena itu untuk kelompok wanita tersebut perlu diusaha­kan upaya khusus untuk meringankan pelaksanaan peran ganda mereka serta untuk meningkatkan taraf hidup dan keluarga me­reka. Di sektor pertanian peranan wanita terutama diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan ke­giatan aneka usaha tani yang meliputi tanaman pangan, ternak kecil, ikan dan tanaman obat-obatan (Bappenas, 2007).
Faktor-faktor Sosial Ekonomi
Petani sebagai orang yang menjalankan usahataninya mempunyai peranan yang termasuk sebagai manajer, juru tani dan kepala keluarga. Sebagai kepala keluarga petani dituntut untuk dapat memberikan kehidupan yang layak dan mencukupi kebutuhan semua anggota keluarga. Sebagai manajer dan juru tani, yang berkaitan dengan kemampuan mengelola usahataninya akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di dalam dan di luar pribadi petani itu sendiri yang sering disebut karakteristik sosial ekonomi (Mosher, 1991).
Di dalam mengelola usahataninya, petani dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, diantaranya: faktor tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, dan jumlah anggota keluarga, juga faktor-faktor ekonomi, diantaranya: tingkat pendapatan dan luas penguasaan lahan                 (Syafa’at, 1990).
Dalam penelitian ini faktor-faktor sosial ekonomi yang akan dikaji hanya luas pekarangan, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Sedangkan, faktor-faktor sosial mengenai pengalaman usahatani dan jumlah anggota keluarga tidak dikaji. Hal tersebut disebabkan oleh adanya materi penyuluhan dan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan tentang tanaman sayur dan tanaman obat yang merupakan suatu inovasi bagi masyarakat disana. Jadi, di sini pengalaman dalam penanganan tanaman sayuran dan tanaman obat-obatan berbeda dengan tanaman pangan seperti padi, dimana rata-rata mereka adalah buruh tani. Selain itu, sasaran penelitian dalam tingkat adopsi pemanfaatan lahan pekarangan merupakan masyarakat yang berpartisipasi dalam pelaksanaan demplot pemanfaatan lahan pekarangan yang mana adalah wanita tani yang berada dalam kondisi menganggur dan setengah menganggur. Jadi, hal itu tidak menyangkut kondisi jumlah keluarga karena sasaran sudah ditetapkan, yaitu wanita tani. Faktor-faktor sosial ekonomi yang akan dikaji antara lain sebagai berikut:

Luas pekarangan
Menurut Lionberger dalam Mardikanto (1996), faktor yang mempengaruhi seseorang untuk mengadopsi inovasi salah satunya adalah luas usahatani. Semakin luas usahatani biasanya semakin cepat mengadopsi, karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.
Luas sempitnya lahan berpengaruh pada sistem pertanian yang dilakukan. Pemilikan lahan yang sempit cenderung pada sistem pertanian yang intensif, terlebih ditunjang dengan tanah yang subur. Namun demikian petani dengan kepemilikan lahan yang rata-rata luas akan lebih mudah menerima perubahan dalam sistem pertanian (Raharjo, 1999).
Bidang lahan pertanian yang luas mungkin merupakan usaha tani yang relatif kecil jika hanya digunakan untuk tanaman-tanaman yang ekstensif. Demikian juga sebuah usahatani yang relatif besar dapat dikembangkan di atas lahan tani yang sempit dengan mengembangkan diversifikasi usaha yang intensif. Untuk membangun sebuah usaha yang besar di atas lahan yang sempit dibutuhkan kerja keras, imajinasi, dan manajemen yang baik, tangguh, dan tanggap atas usahataninya serta menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian (Soetomo, 1992).
Persediaan sumber daya lahan dapat ditentukan dengan mengukur luas usahatani, tetapi hasil pula diperhatikan bagian-bagian yang tidak dapat digunakan untuk pertanian, seperti lahan yang sudah digunakan untuk bangunan, jalan dan saluran. Sering pula diperlukan penggolongan lahan dalam beberapa kelas sesuai dengan kemampuannya, seperti lahan yang baik untuk ditanami dan yang tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian, lahan beririgasi dan yang tidak (Soekartawi, et al, 1986).
Luas pekarangan seluruh Indonesia mencapai sekitar 2.256.266 Ha atau sekitar 16,88% dari seluruh luas tanah pertanian rakyat. Dari luas pekarangan yang ada memang yang terbina terutama di daerah Jawa, Madura, Bali, Minangkabau dan Aceh serta beberapa pulau lain di luar Jawa. Untuk mengubah penghasilan petani dan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat perlu memperhatikan arti penting lahan pekarangan yang walaupun luasnya mungkin semakin lama semakin sempit tetapi mempunyai potensi yang cukup besar (Sunu, et al, 2001).
Menurut Aida Hubeis (1993), Pelaksanaan pembangunan pertanian ini akan berhasil jika semua sumber daya manusia dalam hal ini tidak hanya pria, tetapi juga perempuan yang jumlahnya sekitar 78% dari seluruh penduduk perempuan Indonesia yang tinggal di pedesaan dan lebih dari setengahnya memperoleh nafkah hidup dari sektor pertanian. Tekad dan kerja keras perempuan dalam berupaya ikut membangun pertanian yaitu dengan memberdayakan lahan yang ada baik lahan pekarangan maupun lahan kebun lainnya untuk meningkatkan gizi keluarga maupun meningkatkan pendapatan keluarganya. Semakin luas lahan pekarangan yang dimiliki seseorang, semakin tinggi keinginan untuk mengadopsi teknologi pertanian yang diintroduksikan kepadanya (Dispertanak, 2007).
Tingkat pendidikan
Pendidikan non-formal adalah pengajaran sistematis yang diorganisasi di luar sistem pendidikan formal bagi sekelompok orang yang memenuhi keperluan khusus (Suhardiyono, 1992). Menurut Mardikanto dan Sri Sutarni (1982), pendidikan non-formal diartikan sebagai penyelenggaraan pendidikan yang terorganisasi yang berada di luar sistem pendidikan sekolah, isi pendidikan terprogram, proses pendidikan yang berlangsung berada dalam situasi institusi belajar-mengajar yang banyak terkontrol.
Penyuluhan merupakan sistem pendidikan yang bersifat non-formal atau sistem pendidikan di luar sistem persekolahan. Petani harus aktif dalam mengikuti penyuluhan-penyuluhan sehingga adopsi (penerapan) teknologi atau hal-hal baru akan meluas dan berkembang (Kartasapoetra, 1991).
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menerangkan bahwa upaya pemberdayaan petani dapat dilakukan salah satunya adalah dengan pendidikan nonformal. Pasal 1 angka 12 memberikan pengertian “Pendidikan nonformal sebagai jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang”. Pendidikan nonformal di sini adalah penyuluhan. Penyuluhan itu diselenggarakan oleh Pemerintah dengan mengikutsertakan swasta dan masyarakat. Pemerintah berperan mendorong, menggerakkan masyarakat dalam pembangunan pertanian, pengembangan sumber daya manusia pertanian melalui penyuluhan pertanian (Deptan, 2007).
Menurut Mubyarto dalam Nasution, penyuluhan pertanian dapat disebut sebagai bentuk pendidikan non-formal. Cara-cara, bahan, dan sasaran pendidikan ini disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, menambah kesanggupan petani dalam usahataninya. Berarti melalui penyuluhan diharapkan adanya perubahan perilaku petani, sehingga mereka dapat memperbaiki cara bercocok tanam, menggemukkan ternak, yang pada akhirnya dapat meningkatkan penghasilan dan taraf kehidupan yang lebih baik dari petani tersebut (Nasution, 2004).
Penyuluhan pertanian merupakan pendidikan nonformal yang ditujukan kepada petani beserta keluarganya yang hidup di pedesaan dengan membawa dua tujuan utama yang diharapkannya. Untuk jangka pendek adalah menciptakan perubahan perilaku termasuk di dalamnya sikap, tindakan dan pengetahuan, serta untuk jangka panjang adalah menciptakan kesejahteraan masyarakat dengan jalan meniungkatkan taraf hidup mereka (Sastraatmadja, 1993).
Menurut Lionberger dalam Mardikanto (1996), golongan yang inovatif adalah yang biasanya banyak memanfaatkan beragam informasi salah satunya dari dinas-dinas terkait dalam kegiatan penyuluhan. Jadi, semakin tinggi intensitas mengikuti pendidikan   non-formal, maka semakin besar tingkat adopsinya terhadap suatu inovasi yang ditawarkan.
Tingkat pendapatan
Menurut Lionberger dalam Mardikanto (1996), faktor yang mempengaruhi seseorang untuk mengadopsi inovasi salah satunya adalah tingkat pendapatan. Petani dengan tingkat pendapatan semakin tinggi biasanya akan semakin cepat mengadopsi inovasi.
Pada taraf komersialisasi pertanian yang mula-mula diutamakannya ialah cukup makan bagi keluarganya dan petani ingin menjamin hal itu dengan menghasilkan sendiri bahan pangannya. Untuk memenuhi kebutuhan lain-lain keluarganya, ia menjual hasil bumi secukupnya guna membayar pajak atau sewa tanah, mengangsur hutang (jika ada) dan membeli keperluan-keperluan yang tidak dapat dihasilkannya sendiri. Untuk mencapai tujuan ini melalui perusahaan pertaniannya, ia harus memperhitungkan pengeluaran dan penerimaan. Selisih antara pengeluaran dan penerimaan, pendapatan bersih usahatani, harus terus naik agar ia dapat meningkatkan taraf hidup keluarganya (Mosher, 1991).
Pemanfaatan tanah pekarangan untuk usahatani yang bisa menambah penghasilan belum dilakukan petani. Kalaupun ada tanaman di pekarangan, hanya beberapa pohon dan kurang terpelihara. Melihat potensi luas pekarangan di daerah pemukiman penduduk, maka tanah pekarangan ada merupakan potensi sumber daya yang bisa menambah penghasilan petani jika dimanfaatkan dengan baik (Prayitno dan Arsyad, 1987).
Sistem pertanian di lahan pekarangan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani dan menciptakan lingkungan pekarangan yang rindang. Oleh sebab itu lahan pekarangan harus ditanami tanaman campuran yang meliputi tanaman pangan, tanaman sayuran, tanaman perkebunan, tanaman buah-buahan, tanaman industri / obat-obatan dan tanaman kehutan serta dilengkapi dengan penusahaan ternak (ayam, kambing, sapi). Keliling Lahan Pekarangan ditanami tanaman pagar seperti tanaman pupuk hijau dan sayuran. Pola usaha tani yang dikembangkan mendukung program intensifikasi Lahan Pekarangan (Nakertrans, 2007).
Ketersediaan Air
Ketersediaan air merupakan pengelolaan air secara integral agar semua orang dapat memiliki akses pada air yang aman untuk dikonsumsi. Sedangkan penyediaannya didasarkan tidak hanya pada nilai sosial air tetapi juga lebih menekankan nilai ekonomi air, tanpa mengabaikan konservasi dan aspek lingkungan (Heyneardhi dan Wermasubun, 2004).
Menurut Kartasapoetra (1991), irigasi merupakan kegiatan penyediaan dan pengaturan air untuk memenuhi kepentingan pertanian dengan memanfaatkan air yang berasal dari permukaan dan air tanah.
Pada setiap pemberian air irigasi volume air yang memadai untuk mencukupi kebutuhan tanaman untuk suatu periode berbeda dari beberapa hari sampai beberapa Minggu ditampung pada tanah yang tidak jenuh dalam bentuk air tanah yang tersedia. Kondisi seperti ini dapat dipengaruhi oleh berapa kali (frekuensi) air harus diberikan kepada tanah yang mempunyai sistem yang berbeda dalam rangka mencukupi kebutuhan tanaman, waktu pemberian air irigasi yang dibutuhkan tanaman, jumlah air yang digunakan, sumber air yang dipergunakan untuk tanaman (baik berasal dari presipitasi sendiri, irigasi dan curah hujan, atau air tanah), pemakaian air cukup besar karena adanya galengan, besarnya aliran dan perputaran tanaman yang berbeda-beda (Hansen, et al, 1986).
Keadaan air dan kebutuhan air juga harus dilihat menurut musimnya. Persediaan air di sungai tidak sama sepanjang tahun sehingga pola usahatani irigasi harus diusahakan dengan tersedianya air. Dilihat dari segi kebutuhan air, umumnya periode pemberian air yang tepat bergantung kepada macam tanaman, faktor tanaman, dan metode bercocok tanamnya (misalnya benih langsung ditebar ataukah dibibitkan pada persemaian dahulu). Demikian pola di daerah tadah hujan, curah hujan yang tidak sama sepanjang tahun menyebabkan tambahan kebutuhan air berbeda menurut musimnya (Soekartawi, et al, 1986).
Sistem untuk mendapatkan dan membagi air perlu diselidiki. Yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah persediaan air yang dapat dihandalkan. Karena air biasanya merupakan sumber daya yang langka, cara mendistribusikan air di antara berbagai alternatif penggunaan untuk tanaman musiman, tanaman pohonan, ternak, rumah tangga harus dianalisa untuk mendapatkan cara penggunaan yang seefektif mungkin. Beberapa aspek dalam mengeksploitasi potensi sumber daya air yang terbatas termasuk mengurangi pemborosan, pendistribusian yang lebih baik, memberikan prioritas yang tertinggi pada kegiatan-kegiatan yang berreaksi cepat pada waktu-waktu kekurangan curah hujan tahunan, drainasi yang lebih baik sehingga tidak terjadi penggaraman dan penggunungan air, dan mendaur-ulangkan jaringan dari air drainase. Pompa, pemipaan, penyemprotan yang lebih baik, perataan lahan dan pembuatan kontur yang lebih baik, semuanya perlu (Makeham dan Malcolm, 1991).
Keadaan air yang terkandung dalam tanah sangat diperlukan untuk diketahui, terutama tentang kedalaman dari permukaan air tanah bisa ditentukan melalui sumber-sumber air setempat, juga melalui lubang-lubang pengeboran air. Saluran irigasi ataupun drainase termasuk pula sungai-sungai besar ataupun kecil yang ada di lokasi perlu pula diketahui baik debit airnya, kedalaman air, kualitas air, aliran air, kemiringan lereng dari saluran-saluran air tersebut. Mengetahui dengan penghanyutan air pada waktu hujan turun akan sangat membantu teknologi pembentukan tanah-tanah pertanian itu, sehingga penghanyutan partikel-partikel tanah dari permukaan yang subur itu dapat dicegah (Kartasapoetra, et al, 1991).
Adanya dan banyaknya air di suatu daerah akan menyebabkan perbedaan cara bercocok tanam. Ada cara bercocok tanam dengan pengairan baik sepanjang tahun, ada yang airnya bergantung dari air hujan, ada cara bercocok tanam di daerah pasang surut, dan sebagainya. Selain itu berpengaruh terhadap jenis-jenis tanaman yang diusahakan. Oleh karena, pengaruh berantai air terhadap tumbuhan, hewan, sistem hubungan antar keduanya dan juga terhadap manusia, maka dapat dikatakan bahwa air mempengaruhi peradaban. Apabila air berkurang atau pengelolaannya kurang cermat, maka peradaban akan merosot (Panitia Dies Natalis UNJ ke XIII, 1977).
Teknik konservasi tanah dan air di lahan pekarangan difokuskan pada penanaman mengikuti kontour di alam lorong dengan menggunakan tanaman penyangga (hedge row) berupa campuran tanaman tahunan (perkebunan, buah-buahan, polong-polongan, dan tanaman industri / obat), sayuran dan rumput pakan ternak. Bagian atas lorong tanaman penyangga dibuat saluran penampung air sehingga aliran permukiman dan erosi akan terkontrol. Sisa-sisa tanaman dan hasil pangkasan hendaknya tidak dibakar tetapi dibuat kompos, atau dibenamkan kedalam tanah, atau digunakan sebagai mulsa (Nakertrans, 2007).

B.     Kerangka Berpikir

Menurut Sunarjono (2004), kegiatan pengelolaan lahan pekarangan mencakup: pengolahan tanah, pemupukan, pengelolaan air, penyemaian benih, penanaman, pemeliharaan tanaman, pemungutan hasil, penanganan hasil, dan pemasaran hasil. Pertama, pengolahan tanah merupakan suatu aktivitas dimana tanah yang akan ditanami digemburkan dengan cara dicangkul agar tanah menjadi remah sehingga aerasinya berjalan baik dan zat-zat beracun pun akan hilang. Selain itu sebelum ditanami dibuat bedengan-bedengan untuk tempat penanaman. Kedua pemupukan merupakan suatu usaha untuk menyediakan hara organik bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah, dan menahan air dalam tanah. Ketiga, penyemaian benih di mana benih yang memenuhi syarat dapat disemaikan terlebih dahulu. Keempat, penanaman merupakan proses pemindahan bibit (tanaman muda) dari persemaian ke kebun serta kegiatan yang mendukungnya seperti pemeliharaan lingkungan yang mencakup penyiangan, pengontrolan tanaman, penanganan hama dan penyakit, penjarangan dan penyulaman tanaman.
Dalam penelitian ini hanya mengkaji 4 kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan yang mencakup: persiapan benih, pengolahan tanah, pemupukan dan penanaman. Hal itu dikarenakan kegiatan yang terdapat pada pelaksanaan demplot pemanfaatan lahan pekarangan mencakup 4 kegiatan.
Kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan tersebut merupakan suatu inovasi. Maka dari itu untuk mengetahui tingkat adopsi terhadap kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan yang mencakup kegiatan persiapan benih, pengolahan tanah, pemupukan dan penanaman, perlu ditinjau dari faktor-faktor yang mempengaruhinya baik faktor-faktor sosial ekonomi yang meliputi luas pekarangan, tingkat pendidikan nonformal dan tingkat pendapatan maupun faktor ketersediaan air. Hal itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana masing-masing faktor berpengaruh terhadap tingkat adopsi kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan, apakah termasuk kategori tinggi, sedang ataupun rendah.
Kerangka berpikir pada penelitian hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali secara sitematis dapat disajikan dalam bagan sebagai berikut:

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi pemanfaatan lahan pekarangan:

1.Faktor sosial ekonomi:

a. Luas pekarangan

b.Pendidikan nonformal

c. Tingkat pendapatan

2.Faktor ketersediaan air

Tingkat adopsi kelompok wanita tani terhadap kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan:

  1. Persiapan benih
  2. Pengolahan tanah
  3. Pemupukan
  4. Penanaman
Tinggi
Sedang
Rendah

Gambar 1.  Hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali

C.     Hipotesis

Hipotesis Mayor
Ada hubungan yang nyata antara faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.
Hipotesis Minor
Ada hubungan yang nyata antara luas pekarangan dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.
Ada hubungan yang nyata antara pendidikan nonformal dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.
Ada hubungan yang nyata antara tingkat pendapatan dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.
Ada hubungan yang nyata antara ketersediaan air dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.

  1. 1. Definisi Operasional
  2. Faktor-faktor sosial ekonomi adalah faktor-faktor dalam diri masing-masing wanita tani yang mempengaruhi tingkat adopsi pemanfaatan lahan pekarangan, yang meliputi luas pekarangan, pendidikan nonformal, tingkat pendapatan.
    1. Luas pekarangan adalah besarnya kepemilikan lahan pekarangan yang dimiliki wanita tani, dinyatakan dalam hektar dan diukur dengan skala ordinal.
    2. Pendidikan nonformal adalah pendidikan yang diperoleh wanita tani di luar bangku sekolah dihitung berdasarkan frekuensi dalam mengikuti kegiatan penyuluhan dan diukur dengan skala ordinal.
    3. Tingkat pendapatan adalah besarnya penghasilan yang diperoleh wanita tani dari sektor pertanian dan sektor nonpertanian dalam satu tahun, dinyatakan dalam rupiah dan diukur dengan skala ordinal.
    4. Faktor ketersediaan air adalah pengelolaan air secara integral agar semua orang dapat memiliki akses pada air yang aman untuk dikonsumsi, khususnya dalam hal ini adalah air yang dapat menunjang kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan. Faktor ketersediaan air mencakup frekuensi air, waktu pemberian air, sumber air yang dipergunakan. Faktor ini diukur dengan skala ordinal.
    5. Tingkat adopsi pemanfaatan lahan pekarangan oleh wanita tani.
      1. Persiapan benih adalah kegiatan seleksi benih sebelum benih disemaikan dan persemaian benih untuk mempercepat pertumbuhan sebelum benih ditanam di lahan pekarangan.
      2. Pengolahan tanah adalah kegiatan pencangkulan lahan pekarangan dan pembuatan bedengan-bedengan untuk membedakan saluran untuk air dan lahan penanaman.
      3. Pemupukan adalah kegiatan persiapan pupuk yang meliputi pupuk organik dan pupuk kandang. Pemupukan mencakup jenis pupuk, dosis pupuk, asal pupuk, frekuensi, waktu dan cara pemupukan.
      4. Penanaman adalah memindahkan bibit tanaman dari tempat persemaian ke lahan pekarangan serta pemeliharaan tanamannya. Penanaman mencakup waktu tanam, sistem tanam, dan jarak tanam.

D.    Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

2. Pengukuran Variabel
Faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali
1)      Pengukuran variabel sosial ekonomi meliputi :
Luas pekarangan, yaitu besar kepemilikan lahan pekarangan
Pendidikan nonformal, yaitu frekuensi mengikuti penyuluhan dalam 1 tahun
Tingkat pendapatan, yaitu besar pendapatan yang diperoleh dari sektor pertanian dalam 1 tahun, besar pendapatan yang diperoleh dari sektor nonpertanian dalam 1 tahun dan sumber pendapatan dari sektor nonpertanian
2)      Pengukuran variabel faktor ketersediaan air meliputi :
Sumber mata air, yaitu asal air untuk mengairi lahan pekarangan
Tingkat kemudahan dalam mengakses air, yaitu tingkat kemudahan dalam mengakses air untuk mengairi lahan pekarangan
Sistem pengairan, yaitu cara melakukan pengairan

  1. Intensitas pengairan, yaitu frekuensi pengairan dalam 1 hari
  2. Waktu pengairan, yaitu saat dilakukan pengairan
  3. Tingkat adopsi kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten boyolali

1)      Pengukuran variabel persiapan benih meliputi : asal benih yang digunakan, cara melakukan persemaian benih dan tempat untuk persemaian benih.
2)      Pengukuran variabel pengolahan tanah meliputi : asal tenaga untuk mengolah tanah dan cara mengolah tanah.
3)      Pengukuran variabel pemupukan meliputi : jenis pupuk yang digunakan, asal pupuk kandang yang digunakan, asal pupuk selain pupuk kandang (Urea, NPK, ZA), dosis pemupukan, frekuensi pemupukan tanaman, waktu saat dilakukan pemupukan dan cara melakukan pemupukan.
4)      Pengukuran variabel penanaman meliputi : waktu saat penanaman di lahan, cara penanaman di lahan, jarak yang digunakan dalam penanaman, pemeliharaan tanaman.
(Keterangan lebih lengkap mengenai pengukuran variabel dapat dilihat pada lampiran 8).

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    koropedang said,

    Tulisannya ilmiah sekali.thanks dah bisa baca
    salam kenal dari saya
    devianty di Lengkong bandung
    http://koropedang.wordpress.com


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: