HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI DAN KETERSEDIAAN AIR DENGAN TINGKAT ADOPSI KELOMPOK WANITA TANI DALAM PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN DI KECAMATAN BANYUDONO KABUPATEN BOYOLALI

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang memiliki areal pertanian luas dengan penduduk sebagian besar bermata-pencaharian sebagai petani. Pada umumnya mereka tinggal di sekitar lahan pertaniannya. Lahan pertanian meliputi 2 jenis tanah, yaitu tanah sawah dan tanah kering. Tanah sawah meliputi tanah irigasi tehnis, irigasi ½ tehnis, irigasi sederhana dan tadah hujan. Sedangkan tanah kering meliputi tanah tegal dan pekarangan.
Tanah sawah sudah dimanfaatkan secara optimal oleh petani sebagai lahan produksi tanaman pangan terutama tanaman padi. Sedangkan tanah kering belum dimanfaatkan secara optimal oleh pemiliknya, khususnya lahan pekarangan. Lahan pekarangan merupakan lahan yang pada umumnya menjadi satu kesatuan dengan tempat tinggal pemiliknya. Namun, sebagian besar lahan tersebut ditelantarkan dan belum dikelola dengan sebaik-baiknya. Kegiatan pemanfaatan pekarangan merupakan suatu kegiatan yang   mendukung pembangunan pertanian dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia dan melestarikannya untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan perlu mendapatkan perhatian yang lebih terutama oleh pemiliknya.
Dalam menjaga ketahanan pangan, maka produksi pangan harus selalu ditingkatkan. Salah satu dari berbagai usaha yang dilakukan adalah diversifikasi penanaman. Usaha ini ini lebih ditingkatkan dengan pengembangan beberapa jenis komoditi yang perlu mendapatkan perhatian. Adapun yang dimaksud dengan diversifikasi pertanian adalah usaha menganekaragamkan usahatani, baik secara vertikal mulai dari prapanen sampai dengan pasca panen dan pemasaran maupun secara horizontal yang merupakan imbangan pengembangan antara komoditi dan wilayah. Diversifikasi bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah, pendapatan, mengurangi pengangguran, memperbaiki nilai gizi dan memperbaiki lingkungan hidup. Tujuan pengembangan pekarangan diarahkan kepada peningkatan produksi, baik kualitas maupun kuantitas, untuk mencapai swasembada pangan dan meningkatkan pendapatan petani (Soetomo, 1992)
Pemanfaatan pekarangan adalah pekarangan yang dikelola melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beraneka ragam secara terus-menerus, guna pemenuhan gizi keluarga. Lahan pekarangan dapat ditanami tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman keras, tanaman hias dan tanaman obat-obatan. Meskipun demikian, sebagian besar masyarakat tidak memanfaatkan lahan pekarangan dan tidak mengerti arti penting dari manfaat pekarangan bagi kebutuhan sehari-hari terutama kebutuhan keluarganya sendiri.
Padahal, pemanfaatan lahan pekarangan dapat memberikan pemenuhan gizi bagi keluarga, di samping sebagai usaha penambahan penghasilan untuk membantu keluarga dalam meningkatkan kesejahteraannya. Soemarwoto, et al, (1987), mengemukakan bahwa menurut hasil penelitian Ochse dan Terra (1973) di Kutowinangun, Jawa Tengah bahwa 20% jumlah pendapatan penduduk berasal dari pekarangan dan pekarangan tersebut hanya memerlukan 2% dari jumlah biaya dan 7% dari jumlah tenaga kerja. Dalam peranan pekarangan terhadap pemenuhan gizi, Ochse dan Terra (1973) melaporkan bahwa 44% kalori jumlah makanan dan 32% jumlah protein berasal dari pekarangan. Sedangkan pemanfaatan lahan pekarangan yang baik adalah pemanfaatan lahan pekarangan untuk peningkatan gizi dan pendapatan masyarakat dengan mengacu pada kesesuaian agroklimat dengan target pengembangan wilayah desa dengan sebaran terbentuk sentra produksi buah-buahan potensial dan bernilai.
Bertolak dari faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air setempat terhadap kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan yang mencakup kegiatan persiapan benih, pengolahan tanah, pemupukan, penanaman dan pengairan; wanita tani diharapkan dapat mengadopsi inovasi tersebut terhadap lahan pekarangan tempat tinggalnya. Kegiatan tersebut penting karena dapat membantu mereka untuk memanfaatkan lahan pekarangan dalam usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat pada umumnya melalui pemenuhan gizi dan peningkatan pendapatan. Faktor-faktor sosial ekonomi merupakan faktor-faktor di dalam dan di luar pribadi seseorang yang dapat mempengaruhinya dalam melakukan suatu kegiatan; sedangkan ketersediaan air merupakan pengelolaan air secara integral agar semua orang dapat memiliki akses pada air yang aman untuk dikonsumsi.
Pelaksanaan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan dititik-beratkan pada peningkatan peran serta wanita tani, khususnya yang berada dalam kondisi menganggur dan setengah mengganggur. Wanita tani banyak berperan dalam membantu kegiatan usahatani dan mencari nafkah di luar pertanian. Dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga tani yang berperan dalam membantu usahatani, wanita tani membutuhkan penguasaan teknologi usahatani khususnya dalam bercocok tanam.
Kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan digalakkan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya keluarga wanita tani melalui pemenuhan gizi dan peningkatan penghasilan. Kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan telah dilakukan oleh 2 Desa, yaitu Desa Denggungan dan Desa Tanjung sari, padahal wilayah Kecamatan Banyudono tersebar 15 desa. Kedua desa tersebut memiliki kondisi tanah yang sangat berbeda, yaitu Desa Tanjungsari berupa tanah lempung dan Desa Denggungan berupa tanah Gembur. Kondisi tanah tersebut berdampak terhadap kondisi ketersediaan airnya. Mengingat kenyataan banyak wanita tani di Kecamatan Banyudono belum memanfaatkan pekarangannya dengan baik, maka peneliti ingin meneliti tentang hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.

B.     Perumusan Masalah

Pekarangan yang ideal adalah pekarangan yang ditanami bermacam tanaman, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, bahan obat-obatan, palawija, dan tanaman hias. Sasaran penelitian adalah wanita tani yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT), yaitu KWT Ngudi Rejeki di Desa Tanjungsari dan KWT Agung Mulia di Desa Denggungan. Di daerah penelitian, pekarangan hanya ditanami tanaman buah-buahan, palawija, dan tanaman hias. Maka dari itu diadakan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan melalui demplot. Kegiatan Demplot ini mencakup 2 jenis pertanaman, meliputi tanaman sayur dan tanaman obat. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan jalan intensifikasi pekarangan, yaitu dengan menanami celah atau ruang pada lahan pekarangan yang belum ditanami.
Kegiatan demplot pemanfaatan lahan pekarangan mencakup kegiatan persiapan benih, pengolahan tanah, pemupukan dan penanaman. Dari kegiatan tersebut, mereka diharapkan mampu menerapkan inovasi yang ada terhadap masing-masing lahan pekarangannya. Pekarangan memiliki arti penting dalam pemenuhan gizi dan sebagai tambahan penghasilan keluarga. Di samping itu, pekarangan dapat menunjang kebutuhan pangan sewaktu-waktu karena pekarangan menyediakan berbagai tanaman yang menghasilkan secara bergiliran / kontinyu.
Tingkat adopsi kelompok wanita tani dalam kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan penting bagi pemanfaatan lahan pekarangan yang masih terbengkalai dan belum dimanfaatkan dengan baik. Tingkat adopsi kelompok wanita tani terhadap kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu faktor sosial ekonomi dan faktor ketersediaan air.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka dapat ditarik perumusan permasalahan yang dapat dikaji sebagai berikut:
Apa saja faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air yang mempengaruhi tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali?
Bagaimana tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali?
Bagaimana hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali?
Bagaimana kondisi KWT Ngudi Rejeki dan KWT Agung Mulia yang mengikuti kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali?

C.     Tujuan Penelitian

Setiap penelitian memiliki tujuan yang membawa ke arah mana penelitian tersebut dilaksanakan sehingga penelitian akan memiliki kegunaan bagi berbagai pihak yang akan merasakan manfaatnya baik langsung maupun tidak langsung. Tujuan penelitian yang akan dilaksanakan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali adalah:
Mengkaji faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air yang mempengaruhi tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.
Mengkaji tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.
Mengkaji hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dan ketersediaan air dengan tingkat adopsi bercocok tanam tanaman sayur dan tanaman obat oleh kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.
Mengkaji kondisi KWT Ngudi Rejeki dan KWT Agung Mulia yang mengikuti kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali.

D.    Kegunaan Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan pasti memiliki kegunaan, baik bagi pihak peneliti maupun pihak lain. Penelitian menyangkut setiap bidang kehidupan masyarakat yang di dalamnya terdapat peran serta masyarakat dalam memajukan kehidupan dan kesejahteraannya.
Penelitian ini memiliki kegunaan bagi pihak-pihak, diantaranya:
Peneliti, merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Instansi terkait, yaitu Kantor Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan, sebagai bahan pertimbangan pembuatan setiap kebijakan pemerintah untuk memajukan kehidupan masyarakat tani di Indonesia, khususnya di daerah diadakannya penelitian.
Peneliti lain, dapat dijadikan referensi untuk penelitian lebih lanjut.

1 Response so far »

  1. 1

    risam said,

    pak, sy mau tanya bagaimana hubungannya faktor2 ideal dengan faktor kemasyarakatan


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: