MOBILITAS SOSIAL PETANI DI SENTRA INDUSTRI KECIL

PENDAHULUAN
Pekerjaan industri kecil sering dipandang lebih “halus” dan tidak kasar
dibandingkan sebagai pekerjaan bertani. Seorang buruh pabrik atau pengrajin
industri kecil biasanya dianggap sebagai pekerjaan yang lebih halus, karena dapat
bekerja di tempat yang tidak terkena panas terik matahari, di dalam rumah, tidak
terkena kotoran tanah, sedangkan bekerja di sawah atau tegalan memerlukan
mereka harus ke luar rumah, di bawah panas matahari, kena kotoran tanah dan
lain-lain yang dianggap sebagai pekerjaan kasar. Selain itu, dari segi penampilan
fisik buruh/pengrajin lebih gagah dibandingkan sebagai buruh tani, maka tidak
jarang status sosial buruh pengrajin dipandang lebih tinggi daripada bekerja sebagai
pekerjaan bertani. Walaupun skala usahanya kecil, sebutan yang biasa
dipergunakan bagi mereka adalah juragan. Juragan adalah kelas pemilik usaha
yang menguasai aset produksi dan memepekerjakan buruh. Walaupun sama-sama
menguasai aset produksi dan buruh, status sosial sebagai pengrajin lebih tinggi
dibandingkan sebagai petani.
Dari kajian teoritis, mobilitas sosial petani ke pengrajin tidak lepas dari kategorisasi
masyarakat petani dan karakteristik mentalitasnya, baik yang masih primitif, peasant
maupun farmer ( Marzali, 1995; Foster, 1967; dan Wolf,1966) masyarakat industri
yang menggambarkan masyarakat modern perkotaan dengan segala ciri-cirinya.
Kedua jenis masyarakat tersebut memiliki struktur sosial berbeda, yang dalam
konteks revolusi industri pernah dilakukan analisis oleh Durkheim dengan
membendingkan sifat-sifat pokok masyarakat yang didasarkan pada solidaritas
sosial mekanik dan solidaritas sosial organik. Pembedaan keduanya bersifat
evolusionistis dalam arti bahwa yang kedua adalah perkembangan dari yang
pertama ( Abdullah dan van der Leeden, 1986).
Tulisan singkat ini merupakan kajian deskriptip perpindahan pekerjaan petani
ke pengrajin sebagai suatu bentuk mobilitas sosial di sentra industri kecil di
pedesaan sekitar Surakarta Jawa Tengah 3), yang ternyata pendidikan magang
mempunyai peranan yang penting sebagai jembatan bagi perpindahan pekerjaan
tersebut ( Karsidi, 1999). Uraian berikut merupakan salah satu bagian dari analisa
data deskriptip yang menguraikan proses perpindahan pekerjaan tersebut (yang
didalamnya termasuk pendidikan magang) dan membandingkannya dengan
keberhasilan transformasi pekerjaan dari petani ke industri kecil yang dinyatakan
dengan suatu kondisi yakni pekerjaan sebagai pengrajin industri kecil merupakan
pekerjaan utama (tidak lagi sebagai pekerjaan sambilan) dan menyumbang
penghasilan yang lebih banyak dibanding penghasilan sebagai petani.
Klasifikasi Pengrajin
Klasifikasi pengrajin industri kecil di pedesaan tempat studi ini, dapat
digolongkan menjadi: (1) buruh pengrajin, (2) pengrajin , dan (3) pengrajin
pengusaha .
Pertama: Buruh pengrajin adalah tenaga kerja yang dibayar oleh pemilik
pekerjaan ( dalam hal ini oleh pengrajin), baik sebagai buruh harian atau buruh
mingguan. Di lokasi studi ini tidak dikenal buruh sebagai pegawai tetap (kecuali
tenaga administrasi yang bekerja pada pengrajin pengusaha, dan kepada mereka ini
tidak biasa disebut buruh ). Semua upah pekerjaan buruh dilakukan sesuai dengan
model borongan atau jasa harian atau jasa unit produksi. Pada umumnya buruh
menerima upah secara harian dan diterimakan seminggu sekali setiap akhir minggu.
Proses menjadi buruh hampir dipastikan melalui proses magang, sehingga
dikenal istilah ” buruh magang.” Buruh magang ini disebut buruh walaupun
upahnya sangat minin, bahkan kadang tidak dibayar, kecuali hanya diberi makan
dan tempat tinggal bagi yang berasal dari luar daerah.
Buruh magang yang berasal dari dalam desa atau disekitar sentra industri
kecil, lebih banyak bermotivasi agar kemudian menjadi pengrajin mengikuti jejak
pendahulu mereka, adapun buruh magang dari luar desa pada umumnya datang
dengan motivasi untuk menjadi buruh/pekerja dari pengrajin.
Pada umumnya, buruh pengrajin yang bekerja untuk jangka waktu yang
relatif sudah lama dan bekerja secara purna waktu, berasal dari luar daerah atau
luar desa. Mereka ada yang tinggal di tempat kerja atau pulang setiap hari sebagai
“commuter.” Kebanyakan mereka berasal dari keluarga petani, atau masih aktif
sebagai petani kecil, karena alasan terbatasnya pekerjaan pertanian, maka mereka
mencari pekerjaan sambilan sebagai pengisi waktu luang selagi tidak mengerjakan
pekerjaan petaniannya. Tidak sedikit diantara mereka yang berasal hanya dari
buruh tani, sehingga pekerjaan sebagai buruh pengrajin akhirnya menjadi pilihan
pekerjaan satu-satunya bagi mereka.
Beberapa buruh pengrajin yang sudah relatif lama menekuni pekerjaan
sebagai buruh pengrajin dan telah merasa cukup kemampuannya terutama
menuasai teknologi, memiliki alat dan aset usaha, mereka cenderung berkemauan
untuk meningkatkan diri merintis menjadi pengrajin. Ini terutama terjadi pada buruh
pengrajin yang berasal dari desa setempat.
Orang-orang yang berasal dari luar desa atau luar daerah, yang semula
sebagai buruh pengrajin, dan saat ini telah menjadi pengrajin, pada umumnya
mereka terlebih dahulu mengawini wanita dari desa sentra industri ini kemudian
bertempat tinggal sebagai penduduk setempat, baru kemudian menjadi pengrajin.
Kasus ini menunjukkan bahwa sebenarnya terdapat ketertutupan penyebaran kerja
pengrajin, yakni untuk melindungi pekerjaan itu sendiri agar tetap terjaga hanya
bagi warga setempat ( dalam arti sempit, bagi keluarga atau paling tidak orang3
orang tersebut masih memiliki hubungan keluarga dengan desa tersebut).
Ketertutupan itu dapat dilihat sejak proses magang, yakni hanya orang-orang
terpercaya yang dapat diberikan pengetahuan penuh untuk bisa menjadi pengrajin.
Kedua: Pengrajin adalah mereka yang berusaha dalam industri kecil, baik
sebagai pekerja sendiri maupun pengrajin yang dibantu oleh buruh. Pengrajin
pekerja sendiri melakukan pekerjaan kerajinan yang relatif terbatas bahkan karena
kecilnya skala usaha yang bersangkutan, maka mereka memasarkan sendiri
secara keliling produknya dari desa ke desa lain. Mereka ini umumnya disebut
pengrajin tradisional. Adapun pengrajin dengan dibantu buruh adalah pengrajin yang
usahanya relatif besar, dan pada umumnya melakukan “sub-kontrak pengerjaan
produk tertentu” dari pengrajin pengusaha/pengumpul, atau melayani pemesanan
konsumen tertentu termasuk memasok kebutuhan barang setengah jadi untuk toko
atau show-room. Ada pula di antara mereka yang mengerjakan pekerjaan non
kontrak dengan pengusaha lain, yaitu menjual sendiri dengan menjajakan “keliling”
seperti pengrajin tradisional, tetapi penjajanya adalah buruh upahan dari pengrajin
tersebut.
Ketiga: Pengrajin pengusaha (pedagang pengumpul) adalah pengrajin besar
yang sudah berpengalaman dengan kecukupan modal tertentu bagi usahanya.
Mereka telah menjalin hubungan kerja dengan pengusaha lain, seperti eksportir dan
pemilik toko. Pekerjaan mereka dikenal sebagai memproduk barang-barang “halus”
dengan kontrol kualitas dari pemesannya.
Pengrajin pengusaha/pengumpul mempekerjakan banyak buruh untuk
memproduksi barang dan/atau menjalin hubungan sub-kontrak dengan pengrajin
yang lebih kecil dengan cara “putting out system”. Putting out system adalah cara
kerja produksi barang dengan pelaksanaan produksi di rumah masing-masing
pekerjanya, sementara bahan kerja dan alat produksi dicukupi oleh pemilik usaha.
Pemilik usaha melakukan kontrol kualitas, membayar upah produksi, tetapi tidak
menanggung resiko pekerjaan termasuk kesehatan dan jaminan sosial lainnya bagi
pekerjanya. Sistem seperti ini banyak juga didapati di lingkungan perusahaan batik
di sekitar Solo dan Pekalongan bagi pekerja wanita atau yang sering disebut buruh
rumahan ( Sjaifudian dan Chotim,1994).
Magang: Penghantar Petani ke Pengrajin
Pendidikan “magang” menjadi kunci untuk memulai dalam proses alih
pekerjaan ini. Tidak ada sekolah khusus yang menyiapkan seseorang menjadi
pengrajin/buruh pengrajin, kecuali bahwa proses pendidikan harus dijalaninya
secara praktikal dengan orang yang telah terlebih dahulu memulainya dan berhasil
menjalankannya. Waktu magang tidak dapat ditentukan lamanya, dan sangat
tergantung pada kemampuan pemagang menyerap pengetahuan yang dipelajarinya
dan kemauannya kapan harus meninggalkan pekerjaan magang, jika sekiranya
telah ada kesempatan baginya untuk memulai sendiri pekerjaan tersebut.
Pada umumnya proses magang dimulai dengan seseorang mengikut kepada
pengrajin dengan gaji ala kadarnya. Bagi beberapa orang yang kebanyakan hanya
tamatan SD di Sentra Industri Kayu Serenan, misalnya, hanya diberi imbalan makan
dan dibelikan pakaian pada saat hari raya. Proses mengikut ini disebut sebagai
“kenek,” dan lama waktunya tidak dapat ditentukan kecuali tergantung pada
kemampuan dan ketrampilan “kenek” tersebut. Jika seseorang telah dipandang
menguasai ketrampilan tertentu, maka akan naik statusnya sebagai “buruh tukang.”
Buruh tukang adalah tenaga buruh harian dengan spesifikasi pekerjaan tertentu
yang belum memerlukan keahlian tinggi. Mereka digaji secara harian atas dasar
hasil produksi yang diselesaikan. Seorang dengan status “buruh tukang” dapat
disebut pula sebagai “buruh panggilan,” yaitu dapat dipanggil oleh pengrajin
manapun jika sedang memerlukan buruh tukang tambahan, pada saat terjadi
lonjakan pekerjaan yang banyak, yakni buruh yang ada tidak mencukupi untuk
menyelesaikan pekerjaan yang ada. Proses ini berjalan sambil terjadinya proses
penilaian tidak langsung dari para pengrajin atau majikannya atas kualifikasi buruh
tukang tersebut. Jika seseorang buruh tukang dianggapnya memiliki ketrampilan
yang baik, maka pengrajin memberikan tawaran gaji mingguan dengan standar
tertentu secara tetap.
Terdapat beberapa persyaratan magang. Dari empat sentra industri lokasi
studi, hanya di sentra industri kayu Desa Serenan saja didapati bahwa untuk
seseorang bisa magang pada suatu pengrajin dipersyaratkan untuk membayar
“uang tanggungan” terlebih dahulu kepada pengrajin. Uang tanggungan tersebut
merupakan bentuk motivasi agar seseorang yang magang industri bersungguhsungguh
untuk belajar, sekaligus sebagai pinjaman modal kerja bagi pengrajin tanpa
bunga. Uang tanggungan tersebut pada umumnya kemudian dikembalikan setelah
pemagang menganggap selesai proses magangnya. Besarnya uang tanggungan
antara Rp.150.000 sampai Rp.300.000 untuk jangka waktu sekitar tiga bulan.
Biasanya aturan ini hanya diberlakukan bagi pemagang bukan keluarga. Setelah
tiga bulan, jika masih terus menjadi pemagang, biasanya diperlakukan sebagai
buruh, walaupun dengan gaji /imbalan sekedarnya.
Magang dengan sistim membayar terlebih dahulu ini, dapat dikatakan
sebagai suatu proses institusionalisasi pendidikan magang, sekaligus bentuk
pengakuan masyarakat bahwa pendidikan magang merupakan bentuk proses
pendidikan yang harus dilalui oleh para calon pengrajin industri kecil.
Belajar melalui pendidikan magang industri kecil yang utama adalah
menguasai ketrampilan produksi, tetapi tidak menutup kemungkinan juga pada
proses belajar aspek lain, seperti belajar tentang manajemen dan pemasarannya.
Biasanya proses pembelajaran selain ketrampilan produksi hanya diberikan oleh
pengrajin kepada keluarga dekat atau orang-orang yang dipercaya saja. Hal ini
berhubungan dengan keamanan kelanjutan usaha pengrajin, terutama tidak
diinginkan terjadinya saingan usaha dikemudian hari yang bisa mengancam
usahanya. Apabila telah terjadi suatu pola hubungan “patron-client” antara pengrajin
dan pemagang, baru kemudian proses pembelajaran menyeluruh tentang aspekaspek
usaha diberikan kepada pemagang. Hal-hal diatas sekaligus menjadi syarat
tak terkatakan bahwa pemagang harus menjaga hubungan baik dengan pengrajin
yang memberi kesempatan magang tersebut. Hubungan baik ini juga harus terus
dilangsungkan seandainya pemagang telah menyudahi proses magangnya.
Hubungan patron-client menjadi semacam pengikat diantara mereka.
Buruh yang maju akan menggunakan waktu mereka bekerja sambil belajar
terus-menerus meningkatkan diri, baik peningkatan segi kuantitas maupun kualitas
pengetahuan/ ketrampilan ataupun produksi yang akan berdampak pada
peningkatan penghasilan mereka. Disini sebenarnya masih berlangsung pekerjaan
magang dalam arti untuk peningkatan kemampuan seseorang.
Belajar melalui pendidikan magang industri kecil yang utama adalah
menguasai ketrampilan produksi, tetapi tidak menutup kemungkinan juga pada
proses belajar aspek lain, seperti belajar tentang manajemen dan pemasarannya.
Biasanya proses pembelajaran selain ketrampilan produksi hanya diberikan oleh
pengrajin kepada keluarga dekat atau orang-orang yang dipercaya saja. Hal ini
berhubungan dengan keamanan kelanjutan usaha pengrajin, terutama tidak
diinginkan terjadinya saingan usaha dikemudian hari yang bisa mengancam
usahanya. Apabila telah terjadi suatu pola hubungan “patron-client” antara pengrajin
dan pemagang, baru kemudian proses pembelajaran menyeluruh tentang aspekaspek
usaha diberikan kepada pemagang. Hal-hal diatas sekaligus menjadi syarat
tak terkatakan bahwa pemagang harus menjaga hubungan baik dengan pengrajin
yang memberi kesempatan magang tersebut. Hubungan baik ini juga harus
dilangsungkan seandainya pemagang telah menyudahi proses magangnya.
Hubungan patron-client menjadi semacam pengikat diantara mereka. Sebenarnya
proses magang bagi pemagang yang bukan anggota keluarga, berlangsung bukan
secara terbuka, tetapi lebih banyak “tertutup.” Magang secara tertutup yaitu para
pekerja berusaha “mencuri” atau meniru pengetahuan dan ketrampilan pengrajin
pendahulunya. Setelah merasa bisa berdiri sendiri, kemudian mereka berusaha
memisahkan diri dengan pendahulunya yang “dimagangi,” atau yang disebut
sebagai pengrajin atau “juragan.” Pemisahan diri pemagang menjadi penyebab
yang bersangkutan naik tahta menjadi “juragan kecil” baru. Hal ini disadari
sepenuhnya oleh pengrajin pendahulu tersebut, dan karena itulah hanya orangorang
terpilih yang diperlakukan sebagai keluarga dekatnya, sedangkan kepada
buruh atau pemagang yang notabene adalah orang lain tetap dijaga jarak.
Proses magang yang menghantarkan petani ke pekerjaan baru sebagai
pengrajin industri kecil, menghasilkan kualitas pengrajin yang bermacam-macam
tingkatannya, tergantung pada motivasi masing-masing pemagang dan kesempatan
yang diberikan oleh pendahulunya. Kualitas buruhpun sangat tergantung pada
kesinambungan proses belajar dan memperbaiki pengetahuannya terus menerus.
Disinilah makna belajar terus menerus harus diterapkan bagi setiap buruh yang
ingin meningkatkan diri menjadi pengrajin. Seorang buruh pengrajin yang telah teruji
kemampuannya, jika berkemauan akan menjadi pengrajin harus didukung oleh
kualitas ketrampilan dan modal usaha sebagai pemilikan aset usaha, serta
tersedianya pasar yang mau menampung produksinya.
Dari uraian diatas, transformasi pekerjaan dari petani ke pengrajin industri
dapat dikatakan tidak linier, dalam arti sewaktu yang bersangkutan telah mulai
bekerja di bidang industri kecil juga masih ada yang terus bekerja sebagai petani
atau buruh tani. Setelah yang bersangkutan merasakan lebih enak dan
menguntungkan sebagai pengrajin industri kecil, baru kemudian meninggalkan
pekerjaan pertanian. Sungguhpun demikian, masih banyak buruh pengrajin yang
berstatus kerja sambilan dan sebagian waktunya dipergunakan untuk bertani. Hanya
para pengrajin besar yang sering disebut pengrajin pengusaha atau juragan sajalah,
kini yang telah meninggalkan sama sekali pekerjaan pertanian.
Deferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial
Dari uraian di atas, diketahui bahwa terjadinya transformasi pekerjaan dari
petani ke pengrajin industri kecil dalam suatu desa yang semula merupakan desa
pertanian, telah mengarah pada terbentuknya kondisi yang tidak saja terjadinya
diferensiasi sosial tetapi juga terjadinya stratifikasi sosial.
Semula pekerjaan yang dikenal oleh anggota masyarakat hanyalah petani
dan/atau buruh tani, pegawai dan penganggur. Kini, kemudian muncul adanya
kelompok sosial lain yaitu pengrajin dengan berbagai jenis dan lapisan, terdiri dari:
buruh pengrajin, pengrajin dan pengrajin pengusaha. Itulah diferensiasi sosial yang
terjadi. Diferensiasi sosial yang demikian ini muncul karena adanya perbedaan
kekayaan/ pemilikan barang, harga diri, dan pekerjaan, yang kemudian
mempertajam stratifikasi sosial. Manakah diantara petani dan pengrajin yang lebih
tinggi kelas sosialnya, menjadi proses yang terus bergulir di masyarakat ini.
Dari pengamatan di lapangan tampaknya, pengrajin secara keseluruhan
lebih tinggi status sosialnya dibandingkan petani. Kepemilikan barang seperti mobil,
sepeda motor, TV, rumah yang permanen, dan lainnya yang lebih banyak dimiliki
oleh pengrajin, misalnya, menjadi ukuran bagi cara pandang masyarakat
membandingkan dua jenis pekerjaan ini. Sungguhpun demikian, dijumpai pula di
lokasi studi ini bahwa ada pengrajin yang berhasil (dari yang semula berasal dari
bekas buruh tani = non pemilik lahan ), berusaha membeli sawah untuk dimilikinya.
Kenyataannya, yang bersangkutan kemudian tidak mengerjakan sendiri sawah itu,
sehingga mungkin secara sosiologis dapat dimaknai bahwa mereka membeli sawah
hanya untuk menyamakan “status sosialnya” dengan para pengrajin bekas pemilik
lahan. Atau, kenyataan itu bisa sebagai tanda bahwa tingkat keterikatan mereka
dengan pertanian masih tinggi. Menggunakan istilah Saragih (1994), bahwa
agroindustri merupakan jembatan antara industri dengan pertanian, maka mereka
ini bisa mungkin akan terus ke depan atau kembali lagi ke pertanian dalam arti
yang lebih luas.
Dengan banyaknya orang petani/buruh tani yang pindah pekerjaan sebagai
pengrajin/buruh pengrajin di desa-desa sentra industri kecil, kemudian masyarakat
tersebut menjadi masyarakat yang lebih majemuk.
Terjadinya transformasi pekerjaan petani ke pengrajin, telah memperjelas
munculnya stratifikasi sosial ( setidaknya dalam kelas pekerja industri kecil itu),
yaitu: adanya kelas buruh, kelas pengrajin dan kelas pedagang
pengumpul/pengusaha. Ketiga pelapisan tersebut sekaligus membedakan status
sosial diantara mereka.
Mobilitas Sosial
Transformasi pekerjaan petani ke pengrajin industri kecil, juga telah
mengakibatkan terjadinya proses mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal.
Mobilitas sosial itu dapat dijelaskan dengan proses mereka menjadi buruh,
pengrajin atau pengrajin pengusaha.
Karena terbatasnya pekerjaan di sektor pertanian, buruh tani pindah atau
bekerja sambilan sebagai buruh di industri kecil. Mereka yang sebagai buruh purna
waktu umumnya tidak memiliki lahan sawah atau tegalan, atau karena terbatasnya
jumlah upah sebagai buruh tani mereka memilih bekerja sebagai buruh pengrajin.
Dengan demikian pekerjaan buruh industri kecil bagi mereka adalah sebagai
“pekerjaan utama.” . Inilah contoh dari mobilitas horisontal.
Adapun bagi buruh pengrajin yang masih memiliki lahan pertanian, mereka
hanya bekerja sebagai buruh sambilan, dan fungsi pekerjaannya hanyalah
penambah pendapatan. Istilah yang sering diungkapkan oleh mereka yaitu “nasinya
dari sawah dan lauknya dari pekerjaan industri.” Dalam kasus ini sebenarnya
merupakan proses mobilitas sosial yang vertikal “ke bawah,” karena kemudian
menjadi pekerja dari orang lain. Namun jika bekerja sambilan ini dilihat sebagai
“proses belajar” untuk dapat menjadi pengrajin, maka disebut mobilitas vertikal.
Bagi pengrajin (sering disebut “juragan kecil”), umumnya masih bekerja
sebagai pengrajin sambil bertani. Kalaulah mereka tidak bertani, tanah-tanah
mereka disewakan kepada petani lain. Mereka belum sepenuhnya menaruh harapan
kepada industri kecil, dan karenanya tanah-tanah pertaniannya dijadikan
penyangga/alternatif jika terjadi kerugian dalam usaha industrinya. Hal ini contoh lain
dari proses mobilitas sosial horizontal. Dalam pembuatan kartu tanda penduduk
(KTP), menurut penuturan pegawai suatu desa di sentra industri kecil tersebut,
orang-orang demikian didesanya lebih menyukai disebut identitas pekerjaannya
dalam KTP sebagai “wiraswasta” daripada sebagai petani, sungguhpun dalam
kenyataannya mereka masih memiliki sawah. Bahkan label pekerjaan “wiraswasta”
dalam KTP, menurut pegawai desa tersebut juga digunakan bagi para buruh industri
kecil. Sebutan “buruh” menurut mereka adalah kasar, sehingga digunakan sebutan
tersebut. Hal ini menandakan bahwa pekerjaan pengrajin lebih dihormati, atau
kebanggaan menjadi pengrajin lebih tinggi daripada sebagai petani.
Bagi pengrajin pengusaha umumnya tidak lagi mempunyai lahan pertanian,
karena lahan mereka sudah dijual untuk modal usaha bagi pengembangan usaha
industri kecil. Mereka begitu yakin tergantung/ menggantungkan hidupnya pada
industri kecil, karena pengalaman mereka telah menunjukkan hasil yang sangat
menggembirakan bagi jaminan hidup keluarganya. Kalaulah mereka memiliki lahan
pertanian (pada umumnya dibeli setelah menjadi pengrajin), dan/atau fungsi lahan
yang masih ada tersebut sebagai “tabungan” atau barang investasi bagi
pengembangan usahanya. Jumlah mereka dalam studi ini hanya sedikit, yaitu
sekitar 13,5 persen dari komunitas industri kecil tersebut. Orang-orang seperti ini
menjadi “teladan” dan “model” bagi lingkungannya, dan dalam kenyataannya
mereka dipandang memiliki status sosial yang lebih tinggi. Kondisi seperti ini ikut
mempercepat dan memacu perkembangan usaha industri kecil di desa-desa sentra
industri kecil tersebut. Mereka inilah yang menjalani mobilitas vertikal dari petani ke
pengrajin industri kecil, dan telah mentransformasikan dirinya dari budaya agraris ke
budaya industri kecil pedesan.
Gambaran proses mobilitas sosial petani ke pengrajin dapat diskemakan
berikut ini:
buruh industri
* Petani masih bertani tdk. lagi
pemilik lahan (sambilan ) bertani
pengrajin
MAGANG masuk industri Pengrajin
INDUSTRI kecil Pengusaha
pengrajin
*Buruh tani tidak lagi buruh
*Penyewa buruh tani industri
*Penyakap tetap buruh
Gambar 1: Skema Mobilitas Sosial Petani ke Pengrajin Industri Kecil
Terdapatnya orang-orang yang semula bekas petani non pemilik lahan
(buruh tani) dan kini telah menjadi pengrajin pengusaha adalah suatu sukses yang
menarik perhatian. Dalam studi ini ditemukan empat orang. Mereka tersebut adalah
tiga orang di pengrajin rotan dan seorang di pengrajin kayu. Kempat orang tersebut
jika dilihat pendidikannya: tiga orang berpendidikan SMTA dan seorang diantaranya
tidak tamat, dan seorang yang lainnya pernah kuliah di perguruan tinggi tapi tidak
tamat. Keempatnya pernah magang, menjadi buruh, dan dua diantaranya pernah
mengikuti kursus yang diselenggarakan oleh Departemen Perindustrian setelah
yang bersangkutan menjadi pengrajin, dan seluruhnya menjalin konsultasi usaha
dengan LSM pembina pengrajin. Mereka berhubungan dengan bank dan pernah
mendapat bantuan pinjaman dari BUMN/PLN. Usia mereka 43 tahun , 48 tahun,
49 tahun dan 52 tahun. Keempatnya berstatus sebagai pedagang pengumpul
sekaligus pengrajin, yaitu menjadi penghubung antara pengrajin dengan
pengekspor. Ini merupakan contoh lain dari mobilitas sosial vertikal. Mereka ini
menjadi “patron dan sumber motivasi” bagi petani kecil lain yang beralih ke
pekerjaan industri kecil untuk berhasil dalam usahanya.
Dengan menggunakan perbedaan ciri-ciri komunitas masyarakat industri dan
komunitas desa pertanian (Suparlan,1994), tampaknya komunitas pedesaan sentra
industri kecil di sekitar Surakarta lokasi studi ini dapat diidentifikasikan bahwa:
pertama, di desa-desa ini telah banyak menggunakan alat produksi berupa mesinmesin
yang memunculkan basis produksi berupa bengkel atau semacam pabrik atau
gudang. Kedua, telah terjadi hubungan antara pemberi upah dan buruh yang
mencirikhaskan hubungan majikan-buruh, walaupun belum seketat birokrasi pabrik.
Ketiga, telah mulai dominan berkembangnya ekonomi pasar dan hubungan
kekeluargaan cenderung semakin mengendor dalam urusan perdagangan.
Keempat, pekerjaan buruh industri kecil lebih menjadi pilihan daripada sebagai
buruh tani. Kelima, dengan adanya tuntutan menjual produk bagi kebutuhan ekspor,
menjadikan pembagian waktu bagi bagi pengrajin relatif ketat batas-batasnya.
Kesimpulan dan Saran
Kondisi yang demikian tersebut dari sisi prosesnya tidak dapat dilepaskan
dengan peranan pendidikan magang sebagai yang menjembatani transformasi
pekerjaan dari yang semula sebagi petani menjadi pengrajin industri kecil. Motivasi
untuk berpindah pekerjaan, kesempatan belajar berusaha terutama melalui
magang, proses kesinambungan belajar, yang didukung oleh pemilikan
modal ketrampilan dan modal usaha sebagai pemilikan aset usaha, serta
tersedianya pasar yang mau menampung produksinya akan mengantarkan
seseorang menjadi pengrajin yang berhasil. Demikian juga makna belajar terus
menerus harus diterapkan bagi setiap orang yang ingin meningkatkan diri menjadi
pengrajin yang berhasil.
Keberhasilan magang industri di kalangan petani telah merubah deferensiasi
sosial dan stratifikasi sosial pedesaan yaitu dengan munculnya kelompok-kelompok
sosial pengrajin dengan berbagai jenis dan lapisan. Dalam perkembangannya kelas
sosial petani yang dianggap tinggi tergeser oleh pengrajin.
Melalui pendidikan magang, mobilitas sosial petani baik secara horizontal
maupun vertikal diantarkan menuju komunitas industri industri. Paling tidak, dari
penjelasan di atas, kalaulah mereka belum dapat disebut sebagai komunitas
industri, maka setidaknya proses menuju kesana sedang terjadi. Penyesuaianpenyesuaian
budaya dari agraris ke industripun mulai mengikuti proses
pembentukan komunitas industri tersebut. Perubahan-perubahan perilaku penduduk
terus berlangsung mengikuti perkembangan industri itu sendiri. Dengan kata lain,
setidaknya bahwa desa yang masyarakatnya seperti ini tidak lagi dapat
diasosiasikan sebagai wilayah agraris, sungguhpun disekitarnya masih terbentang
sawah yang luas.
Mendasarkan hal-hal diatas, maka perlu dilakukan optimalisasi fungsi
pendidikan magang sebagai metode penyuluhan industri kecil di pedesaan.

Daftar Pustaka
Abdullah, Taufik dan A.C. van der Leeden, 1986. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Foster, George M.1967.”Introduction: What is a Peasant” Diedit oleh Jack M. Potter dalam Peasant Society: A Reader, Boston: Litlle, Brown and Companny.
Karsidi, Ravik, 1999. Kajian Keberhasilan Transformasi Pekerjaan dari Petani ke Pengrajin Industri Kecil (Disertasi Doktor Institut Pertanian Bogor), tak diterbitkan.
Marzali, Amri, 1995. Masyarakat Pedesaan Indonesia, Universitas Indonesia, Makalah tak diterbitkan
Saragih, Bungaran, 1998. Agribisnis Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian, Bogor: YMPI dan LSP IPB.
Scott,James.C.1993 (terjemahan).Perlawanan Kaum Tani.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Syaifudian, Hetifah dan Erna Ernawati Chotim, 1994. Dimensi Starategis Pengembangan Usaha Kecil: Subkontrak pada Industri Garmen Batik, Akatiga: Bandung.
Suparlan, Parsudi,1994. “Mempersiapkan Maysrakat Pedesaan Menuju Era Industrialisasi: Dalam Pembangunan Yang Terpadu dan Berkesinambungan. Diedit P.Suparlan, Jakarta: Balitbangsos Depsos RI.
Wolf, Eric R. 1966/1983. Petani, Suatu Tinjauan Antropologis terjemahan. Jakarta; YIIS.

1 Response so far »

  1. 1

    abenk said,

    nice post….salam kenal….


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: