PENERAPAN TEKNOLOGI UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

PENDAHULUAN
Tuntutan akan lulusan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena
semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam
pendidikan yaitu adanya deregulasi yang membuka peluang lembaga pendidikan ( termasuk
perguruan tinggi asing) membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan di
pasar kerja akan semakin berat.
Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin
besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan untuk mengupayakan segala
cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik lainnya, yang
antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan.
Dengan segala keterbatasannya, tulisan ini hanya membahas tentang paradigma baru
dalam penyelenggaraan pendidikan, bagaimana menghasilkan mutu bisa berlangsung dalam
pendidikan, dan bagaimana peran teknologi serta sistem manajemen untuk mendukung
berlangsungnya pencapaian mutu pendidikan tersebut.


PARADIGMA BARU

Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu, dikenal dengan perlunya
paradigma baru pendidikan yang difokuskan pada otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan
evaluasi. Keempat pilar manajemen ini diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan
pendidikan bermutu ( Wirakartakusumah, 1998).
Mutu
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan
berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya.
Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang
memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan.
Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan,
mutu adalah suatu keberhasilan proses belajar yang menyenangkan dan memberikan
kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan
jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk dan jasa tersebut.
Otonomi
Pengertian otonomi dalam pendidikan belum sepenuhnya mendapatkan kesepakatan
pengertian dan implementasinya. Tetapi paling tidak, dapat dimengerti sebagai bentuk
pendelegasian kewenangan seperti dalam penerimaan dan pengelolaan peserta didik dan
staf pengajar/ staf non akademik, pengembangan kurikulum dan materi ajar, serta
penentuan standar akademik. Dalam penerapannya di sekolah, misalnya, paling tidak
bahwa guru/pengajar semestinya diberikan hak-hak profesi yang mempunyai otoritas di
kelas, dan tak sekedar sebagai bagian kepanjangan tangan birokrasi di atasnya.
Akuntabilitas
Akuntabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output dan outcome
yang memuaskan pelanggan. Akuntabilitas menuntut kesepadanan antara tujuan lembaga
pendidikan tersebut dengan kenyataan dalam hal norma, etika dan nilai (values) termasuk
semua program dan kegiatan yang dilaksanakannya. Hal ini memerlukan transparansi
(keterbukaan) dari semua fihak yang terlibat dan akuntabilitas untuk penggunaan semua
sumberdayanya.
Akreditasi
Suatu pengendalian dari luar melalui proses evaluasi tentang pengembangan mutu
lembaga pendidikan tersebut. Hasil akreditasi tersebut perlu diketahui oleh masyarakat
yang menunjukkan posisi lembaga pendidikan yang bersangkutan dalam menghasilkan
produk atau jasa yang bermutu. Pelaksanaan akreditasi dilakukan oleh suatu badan yang
berwenang.
Evaluasi
Evaluasi adalah suatu upaya sistematis untuk mengumpulkan dan memproses
informasi yang menghasilkan kesimpulan tentang nilai, manfaat, serta kinerja dari lembaga
pendidikan atau unit kerja yang dievaluasi, kemudian menggunakan hasil evaluasi tersebut
dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan. Evaluasi bisa dilakukan secara
internal atau eksternal.


BAGAIMANA MENGHASILKAN MUTU PENDIDIKAN

Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut Slamet (1999) terdapat empat usaha
mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan, yaitu :
1. Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi “kalahmenang”
diantara fihak yang berkepentingan dengan lembaga pendidikan
(stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga
harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu
produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut.
2. Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang
terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pendidikan harus
tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus
menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.
3. Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan
manajemen mutu terpadu dalam pendidikan bukanlah suatu proses perubahan jangka
pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.
4. Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai mutu
yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku
proses mencapai hasil mutu. Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang
mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang
harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan mutu
sesuai yang diharapkan.
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak
lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelangggannya,
yaitu mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut (Karsidi, 2000).
Para pelanggan layanan pendidikan terdiri dari berbagai unsur paling tidak empat
kelompok ( Sallis, 1993). Mereka itu adalah pertama yang belajar, bisa merupakan
mahasiswa/pelajar/murid/peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan primer
(primary external customers). Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan
pendidikan dari lembaga tersebut. Kedua, para klien terkait dengan orang yang
mengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut
bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external
customers). Pelanggan lainnya yang ketiga bersifat tersier adalah lapangan kerja bisa
pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary external customers).
Selain itu, yang keempat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya
yaitu yang berasal dari intern lembaga; mereka itu adalah para guru/dosen/tutor dan tenaga
administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal customers).
Walaupun para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi, serta pimpinan lembaga
pendidikan tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga
pelanggan jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga
tersebut untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas dari suatu lembaga pendidikan
mereka akan diuntungkan, baik kebanggaan maupun finansial.
Seperti disebut diatas bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada
kebutuhan/harapan pelanggan, maka layanan pendidikan suatu lembaga haruslah
memperhatikan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan dan kebanggaan dari mereka
sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan bagi program
peningkatan mutu layanan pendidikan.
Potensi perkembangan, dan keaktifan murid tentu saja merupakan yang paling utama
dalam peningkatan mutu pendidikan. Perkembangan fisik yang baik, baik jasmani maupun
otak, menentukan kemajuannya. Demikian pula dengan lainnya, misalnya bakat,
perkembangan mental, emosional, pibadi, sosial, sikap mental, nilai-nilai, minat,
pengertian, umur, dan kesehatan; kesemuanya akan mempengaruhi hasil belajar dan mutu
seseorang. Untuk itu, maka perhatian terhadap paserta didik menjadi sangat penting.
APLIKASI TEKNOLOGI
Aplikasi teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusankeputusan
tentang proses pendidikan yang spesifik. Umpama : aplikasi itu mempunyai
dampak penting terhadap isi (content) yang akan diajarkan, tingkat standarisasi dan
pemilihan isi, jumlah dan kualitas sumber-sumber yang tersedia.
Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting
adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi
pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang
hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber
yang tersedia bertambah terbatas dan langka.
Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pemecahan
masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping caracara
penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang
dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu
alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi. Secara umum aplikasi teknologi dalam
pendidikan akan mampu :
1. menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan cepat.
2. membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru.
3. dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik secara langsung maupun
sebagai produk sampingan.
4. menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat.
5. menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan belajar.
6. menambah daya tarik untuk belajar.
7. membantu mengubah sikap pemakai.
8. mempengaruhi pandangan pemakai terhadap bahan dan proses.
9. mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan sistem
tradisional. (Miarso, 1981)
Jika semula teknologi pendidikan (dalam arti yang sangat terbatas) dipandang hanya
berperan pada taraf pelaksanaan kurikulum di kelas, konsepsi baru menghendaki teknologi
pendidikan sebagai masukan (input) bahkan sejak tahap perencanaan kurikulum. Dengan
demikian sudah sejak perencanaan kurikulum harus pula dikaji dan ditentukan bentuk
teknologi pendidikan yang akan diterapkan.
Pemilihan teknologi dalam pendidikan akan membuka kemungkinan untuk lahirnya
berbagai alternatif bentuk kelembagaan baru yang menyediakan fasilitas belajar, disamping
dapat melayani segala bentuk lembaga pendidikan yang telah ada Misalnya kemungkinan
bagi suatu bentuk sekolah terbuka yang fasilitas dan tata belajarnya berbeda sekali dengan
sekolah konvensional, tetapi dengan hasil (output) yang sama.
Serangkaian kriteria pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, antara lain: harus
dijaga kesesuaiannya (kompatibilitas) dengan sarana dan teknologi yang sudah ada, dapat
menstimulasikan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta mampu memacu
usaha peningkatan mutu pendidikan itu sendiri.
Dengan demikian, adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat
mungkin terjadi perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumbersumber
belajar dengan pelaku belajar.
Salah satu kemungkinan perubahan tersebut adalah penerapan dan perubahan
teknologi informasi dalam pendidikan.


PERANAN INFORMASI DAN REVOLUSI TEKNOLOGI INFORMASI

Salah satu esensi dari proses pendidikan tidak lain adalah penyajian informasi. Dalam
menyajikan informasi, haruslah komunikatif. Dalam komunikasi pada umumnya, demikian
pula dalam pendidikan, informasi yang tepat disajikan adalah informasi yang dibutuhkan ,
yakni yang bermakna, dalam arti : (1) secara ekonomis menguntungkan. (2) t secara teknis
memungkinkan dapat dilaksanakan, (3) secara sosial-psikologis dapat diterima sesuai
dengan norma dan nilai-nilai yang ada, dan (4) sesuai atau sejalan dengan kebijaksanaan
/tuntutan perkembangan yang ada
Konsep “bermakna” ini penting bagi keberhasilan penyebarluasan informasi yang
dapat diserap dan dilaksanakan sasaran/peserta didik. Karena itu, Williams (1984)
menyebutkan bahwa komunikasi adalah saling pertukaran simbol-simbol yang bermakna.
Williams menekankan bahwa : (1) kita tidak dapat saling bertukar makna, (2) kita hanya
secara fisik bertukar simbol, dan (3) komunikasi tidak akan terjadi, kecuali kita berbagi
makna untuk simbol-simbol tertentu.
Dalam memberikan/menyampaikan informasi kepada orang lain (misalnya kepada
peserta didik), maka informasi tersebut haruslah informasi yang bermakna bagi orang yang
bersangkutan. Untuk dapat mengetahui dan memahami informasi yang benar-benar
dibutuhkan, bahkan prioritas informasi yang dibutuhkan perlu kita pahami, komunikator
perlu bertindak sebagai pengamat dan pendengar yang baik. Jadi bukan informasi yang kita
ketahui yang disampaikan, tetapi yang kita sampaikan adalah informasi yang benar-benar
bermakna dan dibutuhkan sasaran.
Informasi yang dibutuhkan dan bermakna adalah informasi yang mampu
membantu/mempercepat pengambilan keputusan untuk terjadinya perubahan, dan yang
bermanfaat untuk mendorong terjadinya perubahan tersebut. Untuk itulah maka, pemilihan
informasi harus benar-benar selektif dengan mempertimbangkan jenis teknologi mana yang
tepat dipilih sebagai medianya.
Sejarah, kini dengan berkembangnya komputer dan sistim informasi modern, kembali
menawarkan pencerahan baru. Revolusi teknologi informasi menjanjikan struktur interaksi
kemanusiaan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih efisien.
Revolusi informasi global adalah keberhasilannya menyatukan kemampuan
komputasi, televisi, radio dan telefoni menjadi terintegrasi. Hal ini merupakan hasil dari
suatu kombinasi revolusi di bidang komputer personal, transmisi data, lebar pita
(bandwitdh), teknologi penyimpanan data (data storage) dan penyampaian data (data
access), integrasi multimedia dan jaringan komputer. Konvergensi dari revolusi teknologi
tersebut telah menyatukan berbagai media, yaitu suara (voice, audio), video, citra (image),
grafik, dan teks ( Sasono, 1999).
Akibat adanya revolusi teknologi informasi telah, sedang dan akan merubah
kehidupan umat manusia dengan menjanjikan cara kerja dan cara hidup yang lebih efektif,
lebih bermanfaat, dan lebih kreatif. Sebagaimana dua sisi, baik dan buruk, dari suatu
teknologi, teknologi informasi juga memiliki hal yang demikian. Kemana seharusnya
teknologi ini diarahkan dan ditempatkan dan dimanfaatkan dengan sebenar-benarnya
haruslah diperhitungkan, karena apabila keliru, suatu bangsa akan mengalami akibatnya
secara fatal.
Dalam dunia pendidikan, revolusi informasi akan mempengaruhi jenis pilihan
teknologi dalam pendidikan, bahkan, revolusi ini secara pasti akan merasuki semua aspek
kehidupan,(termasuk pendidikan ), segala sudut usaha, kesehatan, entertainment,
pemerintahan, pola kerja, perdagangan, pola produksi, bahkan pola relasi antar masyarakat
dan antar individu. Inilah yang merupakan tantangan bagi semua bangsa, masyarakat dan
individu. Siapkah lembaga pendidikan kita menyambutnya?
Dunia pendidikan harus menyiapkan seluruh unsur dalam sistim pendidikan agar
tidak tertinggal atau ditinggalkan oleh perkembangan tersebut. Melalui penerapan dan
pemilihan yang tepat teknologi informasi ( sebagai bagian dari teknologi pendidikan), maka
perbaikan mutu yang berkelanjutan dapat diharapkan. Perbaikan yang berlangsung terus
menerus secara konsisten/konstan akan mendorong untuk berorientasi pada perubahan
untuk memperbaiki secara terus menerus dunia pendidikan. Adanya revolusi informasi
dapat menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan karena mungkin kita belum siap
menyesuaikan. Sebaliknya, juga akan menjadi peluang yang baik bila lembaga pendidikan
mampu menyikapi dengan penuh keterbukaan dan berusaha memilih jenis teknologi
informasi yang tepat, sebagai penunjang pencapaian mutu pendidikan.


PENUTUP

Paradigma baru pendidikan memihak kepada pemilihan mutu pendidikan dengan
mengedepankan prinsip dan praktek otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi. Untuk
mencapai mutu tersebut tidak lain juga dengan penerapan teknologi yang tepat. Penerapan
teknologi dalam pendidikan di era global informasi tidak lain adalah bentuk aplikasi jenisjenis
teknologi informasi mutakhir dalam praktek pendidikan.
Proses belajar mengajar yang menerapkan teknologi informasi mutakhir dapat
berupa penggunaan media elektronik seperti radio, TVm, internet dan sistim jaringan
komputer, serta bentuk-bentuk teledukasi lainnya.
Pemilihan jenis media sebagai bentuk aplikasi teknologi dalam pendidikan harus
dipilih secara tepat, cermat dan sesuai kebutuhan, serta bermakna bagi peningkatan mutu
pendidikan kita (rk).

DAFTAR RUJUKAN
Karsidi, Ravik, 2000. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Bahan Ceramah di Pondok Assalam, Surakarta 19 Februari.
Miarso, Yusufhadi.1981. Dalam Buku Akta V-B : Penerapan Teknologi Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Universitas Terbuka ( 1984/85)
Sasono, Adi, 1999. Ekonomi Kerakyatan dalam Dinamika Perubahan, Malakah Konferensi Internasional Ekonomi Jaringan, Hotel Sangri-La, Jakarta 5-7 Desember.
Sallis, Edward, 1993. Total Quality Management in Education, Kogam Page, London.
Slamet, Margono, 1999. Filosofi Mutu dan Penerapan Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu Terpadu, IPB Bogor.
William, Frederick, 1989. The News Communication, Los Angeles : Wadsworth, Inc.
Wirakartakusumah, 1998. Pengertian Mutu Dalam Pendidikan, Lokakarya MMT IPB, Kampus Dermaga Bogor, 2-6 Maret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: