PERPINDAHAN PEKERJAAN DARI PETANI KE PENGRAJIN

Salah satu masalah pembangunan di pedesaan Indonesia adalah sangat kecilnya peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa memberikan penghasilan memadai. Hal ini terkait dengan tingkat kualitas sumberdaya manusia (SDM) di pedesaan, terbatasnya luas lahan yang dapat dibudidayakan (khususnya di Jawa) dan sedikitnya kemampuan bidang pertanian untuk menyerap tambahan tenaga kerja.
Adanya masalah tersebut telah muncul dan dikembangkan suatu strategi pengembangan sektor pertanian yang harus terkait dengan sektor lainnya , sehingga diharapkan mampu memacu tumbuhnya kegiatan nonfarm termasuk munculnya industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Sejak pemerintah Indonesia mengarahkan kebijakan pembangunannya dengan strategi diatas, telah terjadi kelambatan pertumbuhan penduduk yang bekerja di bidang pertanian, atau terjadi penurunan rata-rata sebesar 1,66 persen/tahun antara tahun 1985-1989, dan sebaliknya terjadi percepatan jumlah pertumbuhan penduduk yang bekerja di bidang industri, atau terjadi kenaikan rata-rata sebesar rata-rata 12 persen per tahun dalam waktu yang sama (BPS, 1994). Ini artinya dapat diduga terjadi proses perpindahan pekerja secara berangsur-angsur dari bidang pertanian ke industri.
Dari pengamatan penulis, di sebagian pedesaan Jawa Tengah (terutama di sekitar pengembangan sentra-sentra industri kecil) telah terjadi proses perpindahan pekerja dari bekas petani ( baik yang semula pemilik lahan maupun buruh tani) ke pengrajin industri kecil. Tulisan singkat ini ingin memberikan gambaran tentang proses perpindahan tersebut secara deskriptif dari pengamatan di sentra industri kayu Serenan, sentra pengecoran logam Ceper, dan sentra pande besi Koripan semuanya di
Klaten, serta sentra industri rotan di Trangsan, Sukoharjo, kesemuanya berada di wilayah Surakarta, Jawa Tengah .
Proses yang Panjang Belajar dari sejarah munculnya suatu kerajinan, pada umumnya dimulai dengan usaha yang bersifat mencoba-coba untuk sekedar memenuhi kebutuhan rumahtangga sendiri dan lingkungan, lalu dari sana muncullah pesanan dari tetangga dan lingkungan mereka bertempat tinggal, sampai kemudian meluas kepada permintaan yang terus berkembang
setelah mendapat pengakuan (recognition) atas kemampuannya tersebut dari fihak lain. Kepercayaan dan pengakuan inilah kemudian menjadi peneguh bagi dirinya bahwa ia mampu sebagai pengrajin. Proses demikian ini berlangsung cukup lama, sehingga disetiap keahlian kerajinan didapati pekerja dari kelas “tukang” sampai “empu” yang dipandang paling menguasai
keahlian tersebut. Selanjutnya, keahlian-keahlian tersebut kemudian berlangsung secaraturun-temurun; artinya, diajarkan oleh  pendahulunya kepada penerusnya, dan berlangsung sebagai pekerjaan sambilan dari pekerjaan petani. Jenis-jenis
pekerjaan empu atau tukang tersebut pada saat ini disebut pekerjaan pengrajin.
Di wilayah pedesaan Jawa, posisi pekerjaan kerajinan tersebut
mulanya masih sebagai pekerjaan sambilan, karena dengan hanya bekerja
itu saja tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, dan/atau karena masih
sedikitnya jumlah pesanan atau daya jualnya yang masih rendah.
Setelah jumlah pesanan meningkat dan menghasilkan pendapatan
yang lebih baik daripada pekerjaan pertanian, maka barulah orang
mempertimbangkan pengrajin sebagai pekerjaan utama.
Proses penyebaran keahlian tersebut berlangsung secara tradisional,
yaitu magang industri kecil kepada pendahulunya yang dianggap ahli. Akibat
meluasnya tingkat permintaan barang produksi kerajinan mereka, maka
keinginan orang untuk memasuki pekerjaan ini semakin meningkat, dan
proses magangpun menjadi sangat diperlukan oleh masyarakat . Magang
menjadi proses pendidikan yang penting bagi mereka sebagai salah satu
bentuk transisi dari yang semula masih bertani kemudian sepenuhnya
bekerja sebagai pengrajin.
Sejalan dengan meningkatnya tekanan penduduk dan semakin
terbatasnya pekerjaan pertanian dan rendahnya upah yang didapatkannya,
disatu pihak pekerjaan pengrajin terbuka peluang baginya dan menjanjikan
pendapatan yang lebih baik, maka secara berangsur-angsur orang mencoba
memasuki pekerjaan sebagai pengrajin. Berlangsungnyapun tidak cepat,
yaitu dengan cara hanya bekerja sebagai pengrajin disela-sela pekerjaan
pertaniannya, dan memasukinya dengan cara mencoba-coba sampai
kemudian bisa berhasil. Berhasil yang dimaksud disini adalah hingga ada
peneguhan pada diri pengrajin tersebut, bahwa ia bisa menjadi pengrajin.
Untuk menjadi pengrajinpun, mereka harus melalui proses menjadi
buruh atau mengikut kerja kepada orang pendahulunya terlebih dahulu,
kemudian baru mecoba sendiri hingga kemudian lepas sama sekali dari
pendahulunya tersebut. Lamanya proses tersebut tidak dapat ditentukan
dengan ukuran waktu, tetapi sangat tergantung pada kemampuan masingmasing
pengrajin. Proses perpindahan pekerjaan dari petani ke pengrajin,
dapat dikatakan melalui bentuk-bentuk transisi yang cukup lama waktunya.
Untuk kelengkapan penjelasan tersebut, dibawah ini diuraikan analisis
proses transformasi pekerjaan petani ke pengrajin industri kecil.
Faktor Dorong-Tarik
Perpindahan Petani ke Pengrajin
Dari studi lapang didapatkan informasi bahwa terdapat beberapa
motivasi dan alasan berpindahnya petani ke pengrajin industri kecil. Motivasi
dan alasan tersebut menjadi faktor pendorong (push factor) para bekas
petani menjadi pengrajin, yaitu meliputi unsur pemenuhan kebutuhan hidup,
terbatasnya pendapatan dan pekerjaan pertanian, ajakan orang lain dan
mencoba-coba, dan meneruskan pekerjaan orang tua, serta peneguhan hati
karena mitos.
(1) Pemenuhan kebutuhan hidup
Kebanyakan mereka baik yang kini sebagai pengrajin maupun buruh,
sebenarnya yang mendorong atau melatarbelakanginya pindah kerja ke
industri kecil adalah karena penghasilan mereka dari sektor pertanian
kurang atau tidak mencukupi untuk kehidupan dirinya dan keluarganya.
Dari pengalaman mereka bekerja di bidang pertanian, penghasilan
yang didapat lebih rendah dibandingkan dengan bekerja di bidang
industri kecil, yang paling tidak selalu mempunyai uang sungguhpun
dapat dikatakan pas-pasan.
Sebagai gambaran motivasi yang terjadi pada para buruh yang bekerja
di pengrajin kayu, dalam sehari dengan model kerja borongan bisa
mendapatkan uang rata-rata Rp.8.000,- masih mendapat sekali makan
siang. Adapun bila mereka bekerja di bidang pertanian sebagai buruh
tani (pemacul, pembajak tanah atau jenis lainnya seperti mengetam,
ndaut, tanam padi dan lain-lain) hanya mendapatkan upah sekitar
Rp.3000 sampai Rp.4000,- dan mendapat makan dua kali (pagi dan
siang, dan kadang juga sore). Belum lagi mereka harus bekerja
ditempat panas terik matahari, sedangkan bekerja sebagai buruh
pengrajin kayu bisa dilakukan dirumah sambil mendengarkan radio atau
tape recorder.
(2) Terbatasnya pendapatan dan pekerjaan pertanian
Baik pengrajin maupun buruh pengrajin industri kecil merasakan tanahtanah
yang mereka miliki atau di desanya tidak cukup lagi untuk
memenuhi kebutuhan hidup, sehingga pekerjaan pertanian sangat
terbatas. Desakan atau pertambahan penduduk semakin lama
menyebabkan tanah pertanian yang digarap semakin sempit, juga
dirasakan oleh mereka. Pekerjaan industri kecil/ kerajinan menjadi
alternatif karena tidak memerlukan lokasi yang luas, dan hanya dengan
beberapa meter persegi saja mereka bisa membuka usaha.
(3) Karena ajakan orang lain dan mencoba-coba
Banyak dari mereka bekerja di bidang industri kecil karena mencobacoba
dari pengalaman melihat orang lain yang sukses. Pekerjaan
sebagai buruh industri kecil atau sebagai pengrajin tidak pernah
dipelajarinya secara khusus. Umumnya mencoba-coba ( trial and error)
dan magang industri, serta melihat orang lain sukses dan kemudian
meniru. Sebagai contoh misalnya, meluasnya kegiatan industri
perkayuan di dukuh Ngepringan, Desa Serenan. Mula-mula hanya
seorang saja yang mencoba dengan bimbingan LPSM tertentu yang
mengkampanyekan mesin bubut kayu. Kini hampir seluruh dukuh telah
menjadi pengrajin kayu. Bagi orang desa ini, tampaknya contoh
keberhasilan seseorang telah menjadi “guru” bagi orang yang lain.
(4) Meneruskan usaha orang tua
Mereka yang termasuk klasifikasi ini, pada umumnya bukan berlatar
belakang sebagai petani. Orang tua mereka sudah terlebih dahulu
sebagai pengrajin, atau petani bekerja sambilan sebagai pengrajin,
kemudian ada tuntutan untuk meneruskan usaha orang tua, atau
bahkan mengembangkannya.
(5) Peneguhan hati karena mitos
Dari keempat lokasi didapatkan cerita rakyat yang dari mulut ke mulut
menjadi mitos, yaitu sejarah tentang alasan dahulu didesanya dapat
dimulai adanya industri kecil. Muncul semacam kepercayaan bahwa
sebagai pengrajin, baik sebagai pengecor logam, pande besi, tukang
kayu/ukir kayu, atau pengrajin rotan adalah untuk menjalani keharusan
yang namanya takdir. Mitos tersebut rata-rata karena dari ucapan raja
atau pembesar atau orang sakti pada zaman dahulu, yang mengatakan
bahwa orang desa tersebut bisa menjadi pengrajin. Hal ini dipercaya
turun temurun, hanya sebagai peneguh hati dan motivasi ekstrinsik
mereka untuk memulai dan menekuni pekerjaan tersebut. Jadi mereka
mendapatkan pengakuan (recognition) atas kemampuannya tersebut dari
orang lain, dalam hal ini pemesan.
Adapun yang menjadi faktor daya tarik (pull-factor) petani memasuki
pengrajin industri kecil adalah termasuk yang juga menjadi pendorong
diatas, yaitu tingginya penghasilan dan lebih nikmatnya bekerja sebagai
pengrajin daripada sebagai petani, serta ajakan orang lain. Selain itu, karena
banyaknya publikasi melalui media baik radio maupun TV, serta penjelasan
orang lain tentang masa depan kehidupan industri, misalnya melalui pidatopidato
pemuka setempat walaupun tidak secara langsung menyebut
pengrajin industri kecil tetapi bermakna mengajak orang tentang pentingnya
pekerjaan industri itu, dan melalui komunikasi interpersonal antar sesama
warga, terutama antar pengrajin industri kecil.
Khusus komunikasi interpersonal ini, terutama adalah beredarnya
cerita sukses seseorang pendahulu. Kebiasan ingin meniru dan menjadi
penganut berikutnya ini sangat efektif penyebarannya melalui komunikasi
interpersonal sesama warga desa, tetangga, dan sanak kerabat dekat.
Magang: Penghantar Petani ke Pengrajin
Pendidikan “magang” menjadi kunci untuk memulai dalam proses alih
pekerjaan ini. Tidak ada sekolah khusus yang menyiapkan seseorang
menjadi pengrajin/buruh pengrajin, kecuali bahwa proses pendidikan harus
dijalaninya secara praktikal dengan orang yang telah terlebih dahulu
memulainya dan berhasil menjalankannya. Waktu magang tidak dapat
ditentukan lamanya, dan sangat tergantung pada kemampuan pemagang
menyerap pengetahuan yang dipelajarinya dan kemauannya kapan harus
meninggalkan pekerjaan magang, jika sekiranya telah ada kesempatan
baginya untuk memulai sendiri pekerjaan tersebut.
Pada umumnya proses magang dimulai dengan seseorang mengikut
kepada pengrajin dengan gaji ala kadarnya. Bagi beberapa orang yang
kebanyakan hanya tamatan SD di Sentra Industri Kayu Serenan, misalnya,
hanya diberi imbalan makan dan dibelikan pakaian pada saat hari raya.
Proses mengikut ini disebut sebagai “kenek,” dan lama waktunya tidak dapat
ditentukan kecuali tergantung pada kemampuan dan ketrampilan “kenek”
tersebut. Jika seseorang telah dipandang menguasai ketrampilan tertentu,
maka akan naik statusnya sebagai “buruh tukang.” Buruh tukang adalah
tenaga buruh harian dengan spesifikasi pekerjaan tertentu yang belum
memerlukan keahlian tinggi. Mereka digaji secara harian atas dasar hasil
produksi yang diselesaikan. Seorang dengan status “buruh tukang” dapat
disebut pula sebagai “buruh panggilan,” yaitu dapat dipanggil oleh pengrajin
manapun jika sedang memerlukan buruh tukang tambahan, pada saat
terjadi lonjakan pekerjaan yang banyak, yakni buruh yang ada tidak
mencukupi untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada. Proses ini berjalan
sambil terjadinya proses penilaian tidak langsung dari para pengrajin atau
majikannya atas kualifikasi buruh tukang tersebut. Jika seseorang buruh
tukang dianggapnya memiliki ketrampilan yang baik, maka pengrajin
memberikan tawaran gaji mingguan dengan standar tertentu secara tetap.
Buruh yang maju akan menggunakan waktu-waktu mereka bekerja
sambil belajar terus-menerus meningkatkan diri, baik peningkatan dari segi
kuantitas maupun kualitas pengetahuan/ ketrampilan maupun kuantitas dan
kualitas produksi yang akan berdampak pada peningkatan penghasilan
mereka. Disini sebenarnya masih berlangsung pekerjaan magang dalam arti
untuk peningkatan kemampuan seseorang.
Seorang buruh pengrajin yang telah teruji kemampuannya, jika
berkemauan maka akan berkesempatan menjadi pengrajin apabila didukung
oleh kualitas ketrampilan dan modal usaha untuk pemilikan aset usaha,
serta tersedianya pasar yang mau menampung produksinya.
Bagi buruh pengrajin yang berasal dari keluarga mampu akan dengan
mudah menjadi pengrajin jika syarat kemampuan/ketrampilan terpenuhi,
karena masalah pasar atau penampungan barang produksi untuk saat ini
dapat dikatakan mudah (paling tidak menggabung atau sub-kontrak dengan
bekas juragannya). Sebaliknya, bagi buruh pengrajin dari kalangan yang tak
mampu secara ekonomis dan tak sanggup mengakumulasikan modal usaha
dari hasil pekerjaannya maka akan tetap menjadi buruh.
Sebenarnya proses magang bagi pemagang yang bukan anggota
keluarga, berlangsung bukan secara terbuka, tetapi lebih banyak “tertutup.”
Magang secara tertutup yaitu para pekerja berusaha “mencuri” atau meniru
pengetahuan dan ketrampilan pengrajin pendahulunya. Setelah merasa bisa
berdiri sendiri, kemudian mereka berusaha memisahkan diri dengan
pendahulunya yang “dimagangi,” atau yang disebut sebagai pengrajin atau
“juragan.” Pemisahan diri pemagang menjadi penyebab bagi yang
bersangkutan naik tahta menjadi “juragan kecil” baru. Hal ini disadari
sepenuhnya oleh pengrajin pendahulu tersebut, dan karena itulah hanya
orang-orang terpilih yang diperlakukan sebagai keluarga dekatnya,
sedangkan kepada buruh atau pemagang yang notabene adalah orang lain
tetap dijaga jarak.
Belajar melalui pendidikan magang industri kecil yang utama adalah
menguasai ketrampilan produksi, tetapi tidak menutup kemungkinan juga
pada proses belajar aspek lain, seperti belajar tentang manajemen dan
pemasarannya. Biasanya proses pembelajaran selain ketrampilan produksi
hanya diberikan oleh pengrajin kepada keluarga dekat atau orang-orang yang
dipercaya saja. Hal ini berhubungan dengan keamanan kelanjutan usaha
pengrajin, terutama tidak diinginkan terjadinya saingan usaha dikemudian
hari yang bisa mengancam usahanya. Apabila telah terjadi suatu pola
hubungan “patron-client” antara pengrajin dan pemagang, baru kemudian
proses pembelajaran menyeluruh tentang aspek-aspek usaha diberikan
kepada pemagang. Hal-hal diatas sekaligus menjadi syarat tak terkatakan
bahwa pemagang harus menjaga hubungan baik dengan pengrajin yang
memberi kesempatan magang tersebut. Hubungan baik ini juga harus terus
dilangsungkan seandainya pemagang telah menyudahi proses magangnya.
Hubungan patron-client semacam menjadi pengikat diantara mereka.
Proses magang yang menghantarkan petani ke pekerjaan baru
sebagai pengrajin industri kecil, menghasilkan kualitas pengrajin yang
bermacam-macam tingkatannya, tergantung pada masing-masing motivasi
pemagang dan kesempatan yang diberikan oleh pendahulunya. Paling tidak,
melalui magang setiap orang pemagang memahami satu jenis teknis
produksi yang dapat mengantarkan seseorang menjadi pekerja/buruh industri
kecil. Kualitas buruhpun sangat tergantung pada kesinambungan proses
belajar dan memperbaiki pengetahuannya terus menerus. Disinilah makna
belajar terus menerus harus diterapkan bagi setiap buruh yang ingin
meningkatkan diri menjadi pengrajin.
Dari uraian diatas, transformasi pekerjaan dari petani ke pengrajin
industri dapat dikatakan tidak linier, dalam arti sewaktu yang bersangkutan
telah mulai bekerja di bidang industri kecil juga masih ada yang terus bekerja
sebagai petani atau buruh tani. Setelah yang bersangkutan merasakan lebih
enak dan menguntungkan sebagai pengrajin industri kecil, baru kemudian
meninggalkan pekerjaan pertanian. Sungguhpun demikian, masih banyak
buruh pengrajin yang sebagian waktunya dipergunakan untuk bertani, bahkan
status sosialnya masih sebagai petani, dan pekerjaan industri adalah
sebagai pekerjaan sambilan. Hanya para pengrajin besar yang sering disebut
juragan sajalah, kini yang telah meninggalkan sama sekali pekerjaan
pertanian dalam arti tidak mengerjakan pekerjaan itu.
Lebih lanjut, karena keadaan sosial ekonomi para pengrajin mereka
lebih baik dibandingkan yang lain di desanya, menjadi penyebab bagi
penduduk yang lain untuk bertransformasi pekerjaaan ke bidang pengrajin
industri sedikit demi sedikit. Keberhasilan atau kesuksesan seseorang
menjadi daya tarik bagi orang lain untuk mengikutinya.
Ada kecenderungan bahwa semakin seorang menguasai seluruh
aspek kemampuan dalam industri kecil, baik aspek penguasaan produksi,
permodalan, manajemen dan pemasaran, maka yang bersangkutan akan
berkembang usahanya ke arah fabrikasi industri, yakni seluruhaspek
tersebut dilakukannya. Inilah yang disebut pengrajin berhasil, yang
selanjutnya masyarakat disekitarnya menamakan mereka itu “pengrajin
pengusaha.” Dalam kenyataannya, jumlah mereka tersebut saat ini masih
sangat terbatas, hanya sekitar 13,4 persen saja, suatu jumlah yang terlalu
sedikit dibandingkan dengan populasi pengrajin yang ada. Mungkinkah,
menambah jumlah mereka yang berhasil ini?
Buruh yang maju akan menggunakan waktu-waktu mereka bekerja
sambil belajar terus-menerus meningkatkan diri, baik peningkatan dari segi
kuantitas maupun kualitas pengetahuan/ ketrampilan maupun kuantitas dan
kualitas produksi yang akan berdampak pada peningkatan penghasilan
mereka. Disini sebenarnya masih berlangsung pekerjaan magang dalam arti
untuk peningkatan kemampuan seseorang.
Seorang buruh pengrajin yang telah teruji kemampuannya, jika
berkemauan maka akan berkesempatan menjadi pengrajin apabila didukung
oleh kualitas ketrampilan dan modal usaha untuk pemilikan aset usaha,
serta tersedianya pasar yang mau menampung produksinya.
Bagi buruh pengrajin yang berasal dari keluarga mampu akan dengan
mudah menjadi pengrajin jika syarat kemampuan/ketrampilan terpenuhi,
karen masalah pasar atau penampungan barang produksi untuk saat ini
dapat dikatakan mudah (paling tidak menggabung atau sub-kontrak dengan
bekas juragannya). Sebaliknya, bagi buruh pengrajin dari kalangan yang tak
mampu secara ekonomis dan tak sanggup mengakumulasikan modal usaha
dari hasil pekerjaannya maka akan tetap menjadi buruh.
Sebenarnya proses magang bagi pemagang yang bukan anggota
keluarga, berlangsung bukan secara terbuka, tetapi lebih banyak “tertutup.”
Magang secara tertutup yaitu para pekerja berusaha “mencuri” atau meniru
pengetahuan dan ketrampilan pengrajin pendahulunya. Setelah merasa bisa
berdiri sendiri, kemudian mereka berusaha memisahkan diri dengan
pendahulunya yang “dimagangi,” atau yang disebut sebagai pengrajin atau
“juragan.” Pemisahan diri pemagang menjadi penyebab yang bersangkutan
naik tahta menjadi “juragan kecil” baru. Hal ini disadari sepenuhnya oleh
pengrajin pendahulu tersebut, dan karena itulah hanya orang-orang terpilih
yang diperlakukan sebagai keluarga dekatnya, sedangkan kepada buruh
atau pemagang yang notabene adalah orang lain tetap dijaga jarak.
Persyaratan Magang
Dari empat sentra industri lokasi penelitian, hanya di sentra industri
kayu Desa Serenan saja didapati bahwa untuk seseorang bisa magang pada
suatu pengrajin dipersyaratkan untuk membayar “uang tanggungan” terlebih
dahulu kepada pengrajin. Uang tanggungan tersebut merupakan bentuk
motivasi agar seseorang yang magang industri bersungguh-sungguh untuk
belajar, sekaligus sebagai pinjaman modal kerja bagi pengrajin tanpa bunga.
Uang tanggungan tersebut pada umumnya kemudian dikembalikan setelah
pemagang menganggap selesai proses magangnya. Besarnya uang
tanggungan antara Rp.150.000 sampai Rp.300.000 untuk jangka waktu
sekitar tiga bulan. Biasanya aturan ini hanya diberlakukan bagi pemagang
bukan keluarga. Setelah tiga bulan, jika masih terus menjadi pemagang,
biasanya diperlakukan sebagai buruh, walaupun dengan gaji /imbalan
sekedarnya.
Magang dengan sistim membayar terlebih dahulu ini, dapat dikatakan
sebagai suatu proses institusionalisasi pendidikan magang, sekaligus bentuk
pengakuan masyarakat bahwa pendidikan magang merupakan bentuk proses
pendidikan yang harus dilalui oleh para calon pengrajin industri kecil.
Belajar melalui pendidikan magang industri kecil yang utama adalah
menguasai ketrampilan produksi, tetapi tidak menutup kemungkinan juga
pada proses belajar aspek lain, seperti belajar tentang manajemen dan
pemasarannya. Biasanya proses pembelajaran selain ketrampilan produksi
hanya diberikan oleh pengrajin kepada keluarga dekat atau orang-orang yang
dipercaya saja. Hal ini berhubungan dengan keamanan kelanjutan usaha
pengrajin, terutama tidak diinginkan terjadinya saingan usaha dikemudian
hari yang bisa mengancam usahanya. Apabila telah terjadi suatu pola
hubungan “patron-client” antara pengrajin dan pemagang, baru kemudian
proses pembelajaran menyeluruh tentang aspek-aspek usaha diberikan
kepada pemagang. Hal-hal diatas sekaligus menjadi syarat tak terkatakan
bahwa pemagang harus menjaga hubungan baik dengan pengrajin yang
memberi kesempatan magang tersebut. Hubungan baik ini juga harus terus
dilangsungkan seandainya pemagang telah menyudahi proses magangnya.
Hubungan patron-client semacam menjadi pengikat diantara mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: