Kadar ox-LDL, VCAM-1, hs-CRP, hs-IL-6 dan Fibrinogen Sebagai Marka Prognosis Infark Miocard Akut

Status kesehatan dan pola penyakit telah berubah dengan perkembangan sosial ekonomi. Industrialisasi telah merubah pola penyakit dari defisiensi nutrisi dan penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular , diabetes ataupun tumor. Perubahan ini dikenal dengan the epidemiological transition(perubahan epidemiologis). Perubahan pola penyakit bukan hanya merupakan perubahan dari malnutrisi, diare atau penyakit infeksi lainnya menjadi penyakit kronis atau penyakit degeneratif saja, tetapi juga adanya perubahan spesifik seperti penyakit jantung rematik yang semakin berkurang, menjadi penyakit jantung koroner atau gagal jantung ( Jusuf et al 2001). Penelitian ini dilakukan dengan mengingat adanya peningkatan morbiditas dan mortalitas Infark Miokard Akut (IMA) baik di negara maju maupun di negara berkembang. Di Amerika Serikat dimana tiap tahun 1,5 juta penduduk mengalami infark baru atau infark ulangan yang mengakibatkan 500.000 orang meninggal. Data Survey Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan terdapatnya peningkatan kematian akibat penyakit kardiovaskular dari 16,4 % (1992) menjadi 24,5 %(1995) . Disamping itu kematian akibat penyakit kardiovaskular telah menduduki peringkat pertama (Shaper 1997, Jusuf et al 2001, Joesoef 2002, Khoo et al 2003). Penderita IMA dengan berbagai komplikasi yang terjadi akan menyebabkan penurunan kualitas hidup yang menyebabkan seseorang akan berkurang kemampuannya untuk melakukan tugas pekerjaannya atau menjalankan aktifitas sehari – hari. Dengan berkurangnya kemampuan untuk melakukan tugas pekerjaannya sehingga penderita IMA terpaksa harus melakukan pekerjaan lainnya yang lebih ringan atau bahkan akan berhenti bekerja, maka hal ini akan berpengaruh pada keadaan sosial ekonomi keluarga. Apalagi bila penderita harus berobat secara teratur atau diperlukan tindakan lainnya seperti angiografi koroner, tindakan medis seperti pemasangan balon atau sten atau mungkin dengan operasi pintas koroner, yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bila masalah ini tidak segera ditangani dengan seksama baik pengenalan dini PJK dengan pencegahan, diagnosis serta perawatan dan pengobatannya, hal ini akan berakibat beban yang ditanggung penderita atau keluarganya semakin besar. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti IMA, khususnya peran ox- LDL pada IMA , hubungan serta pengaruh ox- LDL dengan marka biokimia yang berperan pada dis- fungsi endotel seperti VCAM-1, hs- CRP, hs- IL-6 serta fibrinogen dalam peranannya sebagai faktor koagulasi pada IMA yang selanjutnya akan mempengaruhi perjalanan klinis IMA atau prognosis IMA. Dengan paradigma patobiologi molekular, peneliti mengharapkan masalah peningkatan morbiditas dan mortalitas IMA dapat ditekan sehingga akan mengakibatkan terjadinya peningkatan kualitas hidup penderita IMA. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional analitik dengan menggunakan rancangan cohort study prospective(studi cohort propektif). Pada penelitian ini diamati penderita IMA baik laki- laki atau wanita, umur antara 35 – 70 tahun di Rumah Sakit dikota Surakarta tahun 2003 dalam periode waktu 3 bulan, diobservasi selama 2 bulan di Rumah Sakit dan rawat jalan. Diagnosa IMA ditetapkan dengan anamnesa adanya sakit dada spesifik selama 20 menit, Elektro Kardiografi, serta pemeriksaan serum enzim CK- MB, mioglobin dan c Tn-1. Untuk menilai homogenitas dilakukan dengan uji X 2 (chi kwadrat) . Uji normalitas dengan analisa non parametrik. Untuk menguji pengaruh masing- masing faktor risiko dilakukan dengan uji Manova. Untuk menilai perbedaan rerata terhadap variabel disfungsi endotel dan prognosis IMA dilakukan dengan uji t- student. Untuk menguji pengaruh kadar marka prognosis IMA pada prognosis IMA dilakukan dengan test regresi. Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya peningkatan kadar marka prognosis IMA pada penderita IMA. Terdapat perbedaan yang signifikan antara penderita IMA dan Kontrol untuk marka prognosis IMA pada kadar hs-CRP (p≤ 0,005), hs-IL-6(p≤ 0,001) dan Fibrinogen(p≤ 0,001). Terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara kadar ox- LDL dengan Fibrinogen(p≤ 0,05). Terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara kadar marka disfungsi endotel dengan prognosis IMA untuk kadar hs-CRP dan hs-IL-6 masing masing dengan p≤ 0,001. Diantara marka prognosis IMA tersebut diatas, kadar hs- IL-6 menunjukkan korelasi paling dominan dengan prognosis IMA (nilai korelasi 0,614 dengan p≤ 0,05). Pengaruh marka prognosis IMA pada prognosis IMA menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada kadar hs- IL-6 (p ≤ 0,005) sedang pengaruh kombinasi 2,3 serta 4 macam marka prognosis IMA dengan prognosis IMA yang disertai kadar hs-IL-6 hampir semuanya menunjukkan pengaruh yang signifikan(p≤ 0,005). Sedang pada kombinasi 5 macam marka prognosis IMA dengan prognosis IMA tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Jadi kadar hs- IL-6 merupakan faktor dominan dalam pengaruhnya dengan prognosis IMA. Penderita IMA lebih banyak terdapat pada orang laki-laki (86%) dibanding wanita (14%). Umur penderita terbanyak pada umur antara 41 – 50 tahun (54%). Merokok, hipertensi, Diabetes Melitus dan dislipidemia merupakan faktor risiko yang utama. Diantara faktor risiko tersebut, dislipidemia menduduki peringkat pertama(59%), disusul merokok dan Diabetes Melitus (50%) sedang hipertensi sebanyak 31%. Bila dibandingkan dengan kontrol, faktor risiko penderita IMA yang menunjukkan perbedaan signifikan adalah merokok, Diabetes Melitus dan riwayat keluarga dengan PJK. Onset serangan IMA paling banyak ≤ 6 jam (82,7%), disusul onset serangan 7 – 12 jam(13,8%) dan 19 – 24 jam(3,5%). Lokasi IMA terbanyak adalah Anterior (51,7 %) disusul Inferior (34,5 %), IMA Antero- inferior (10,3 %) sedang Reinfark (3,5%). Mortalitas terbanyak adalah IMA Antero- inferior 2 orang (6,8%) sedang mortalitas pada IMA Anterior dan Reinfark masing- masing 1 orang (3,4 %). Penderita IMA Inferior tidak ada yang meninggal. Ini berarti mortalitas IMA ditentukan oleh lakasi IMA. Komplikasi yang terbanyak adalah gagal jantung kiri (41,16 %) terjadi pada IMA Anterior. Shok Kardiogenik terjadi pada penderita Reinfark, Asistole pada IMA Antero- Inferior, CVD terbanyak pada IMA Antero- Inferior, sedang Regurgitasi terjadi pada IMA Antero Inferior.Edi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: