PERAN SEMAR DALAM TEKS MELAYU SUNTINGAN TEKS SERTA KAJIAN PERAN DAN MAKNA SEMAR I DALAM HIKAYAT AGUNG SAKTI

Disertasi berjudul Peran Semar dalam Teks Melayu Suntingan Teks Melayu serta Kajian Peran dan Makna. Semar dalam Hikayat Agung Sakti ini bertujuan mengungkapkan peran dan makna Semar dalam Melayu-Betawi. Penelitian ini juga bertujuan mengungkapkan proses transformasi dan resepsi masyarakat Melayu-Betawi terhadap Semar. Oleh karena Hikayat Agung Sakti masih dalam bentuk naskah, maka termasuk tujuan penelitian ini ialah menyediakan suntingan teks Hikayat Agung Sakti secara filologis sehingga dihasilkan suntingan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hikayat Agung Sakti merupakan autgaf yang dikarang oleh Muhammad Baqir dari Pacenongan, Jakarta pada 1B Oktober 1892. Suntingan naskah penelitian ini menggunakan metode kritis agar para pembaca dapat terbantu memahaminya. Hikayat Agung Sakti adalah sebuah hikayat yang berasal dari lingkungan masyarakat Melayu Betawi dengan menggunakan bahasa Betawi pinggiran. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat pemilik naskah tersebut adalah kelompok masyarakat Betawi pinggiran atau Betawi ora yang merupakan sisa laskar Demak dan Mataram yang terdiri dari masyarakat yang berkebudayaan Sunda dan Jawa. Penelitian struktur naratif menunjukkan bahwa Hikayat Agung Sakti merupakan bentuk hikayat transformatif dari bentuk pementasan wayang ke bentuk hikayat. Unsur wacana digunakan secara ekstensif untuk menunjukkan karakter Semar yang mempunyai watak ganda, yakni secara lahiriyah ia adalah seorang hamba, tetapi realitas hakikinya adalah seorang dewa yang berkekuasaan tinggi. Kajian secara semiotic menunjukkan bahwa Hikayat Agung Sakti adalah satu ikon (gambaran) pementasan wayang. Semar adalah indeks (tanda-tanda) kekuatan ilahiah. Hikayat Agung Sakti berusaha menunjukkan bahwa di dalam diri hamba yang tampak lugu, tua dan tidak berharga sebenarnya terkandung kekuatan ilahiah yang tersembunyi yang mampu menegakkan keadilan. Implikasi dari pesan ini adalah menuntut para penguasa/raja untuk berbuat adik kepada hamba-hambanya (rakyat) bila menginginkan kekuasaannya abadi. Pendukung kekuasaan adalah pada hamba, bahkan sebenarnya hambalah yang membangun kekuatan dan kekuasaan tersebut. Tanpa hamba, kekuasaan tidak mempunyai arti. Semar juga dapat bermakna bahwa aspek batin (roh) mempunyai nilai dan kekuatan yang lebih tinggi dari pada aspek lahir. Batin Semar digambarkan memiliki kekuatan yang “agung dan sakti”. Semar dalan tradisi Melayu-Betawi didudukkan seagai culture hero. Kajian intertektualitas Hubungan suatu teks dengan teks lain) menunjukkan bahwa Hikayat Agung Sakti memiliki hubungan dengan cerita wayang. Hikayat Agung Sakti telah mendistorsi deskripsi Semar dalam pementasan wayang Jawa. Hikayat tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa hikayat tersebut memberi jawaban terhadap suatu peristiwa yang terjadi di dalam Serat Paramayoga karya Ranggawarsita 1802-1873. Kajian terhadap tanggapan masyarakat Melayu-Betawi terhadap tokoh Semar menunjukkan bahwa visualisasai Semar di Melayu Betawi dekat dengan gambaran Semar dalam wayang kulit purwa Cirebon, yaitu menampilkan bentuk visual Semar dengan wanda watu (gemuk, hitam). Masyarakat Melayu Betawi dalam menerima Semar di samping menerima unsure-unsur dari Jawa, juga melakukan penyesuaian dengan kepentingan mereka. Semar juga didudukkan sebagai lelananging jagat (rajanya laki-laki) dalam wujud asli Semar sebagai Sang Hyang Tunqgal mengindikasikan bahwa Semar memiliki kekuatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Semar dalam tradisi Melayu Betawi adalah jelmaan Sang Hyang Tunggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: