PEMURNIAN BIOGAS DARI KANDUNGAN HIDROGEN SULFIDA (H2S) MENGGUNAKAN LARUTAN ABSORBEN DARI BESI BEKAS (BESI RONGSOK)

Biogas sangat potensial sebagai bahan bakar karena kandungan metana yang tinggi. Biogas juga sudah mulai dikembangkan dan dimanfaatkan oleh beberapa industri sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak. Tetapi biogas mengandung H2S yang tinggi pula yang berpotensi mencemari lingkungan. Dengan demikian biogas perlu dimurnikan dulu sebelum digunakan sebagai bahan bakar.

Secara umum penghilangan (pengurangan) H2S dari gas dapat dilakukan secara fisika, biologi dan kimia, tetapi selama ini masih memiliki kelemahan-kelemahan. Pemurnian biogas (juga gas lain) dari kandungan H2S menggunakan Fe-EDTA (Iron Chelated Solution) memberikan banyak kelebihan.

Kelebihan tersebut diantaranya adalah larutan absorben bisa diregenerasi sehingga biaya operasi murah, sulfur yang terpisahkan dari biogas berupa sulfur padat (komoditas bernilai ekonomi) atau paling tidak berupa residu yang mudah dan aman dalam pembuangannya sehingga tidak mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh absorben dari besi bekas (limbah besi dari industri mesin bubut) untuk pemurnian biogas dari kandungan H2S dengan hasil samping sulfur padat.

Dalam penelitian ini juga mempelajari variabel-variabel yang mempengaruhi penurunan H2S dalam biogas seperti konsentrasi absorben, laju alir biogas, laju alir udara regenerasi dan laju alir absorben . Iron Chelated Solution dibuat dengan melarutkan senyara garam besi ke dalam larutan EDTA. Garam FeCl2 dibuat dengan melarutkan limbah besi dari industri mesin bubut dengan asam khlorida.

Keuntungan pemanfaatan limbah besi ini selain memberikan nilai lebih pada limbah, juga ukuran limbah besi yang sudah relatif kecil sehingga pada proses pelarutan besi oleh larutan HCl, besi bisa langsung dilarutkan, tidak perlu proses perlakuan pendahuluan terlebih dahulu. Penelitian dilakukan dengan mengontakkan larutan absorben Fe-EDTA dengan biogas di dalam kolom absorber setinggi 1 m dan diameter 0,1 m.

Sebelumnya larutan Fe-EDTA dikontakkan dengan udara untuk dioksidasi di kolom regenerator sehingga Fe2+ berubah menjadi Fe3+. Ion Fe3+ inilah yang bereaksi dengan ion S2- dalam biogas menjadi Fe2+ dan S (padat). Sulfur padat yang dihasilkan selanjutnya dipisahkan di dalam tangki pemisah partikel, filtrat yang mengandung ion Fe2+ dari hasil pemisahan ini diregenerasi menggunakan udara menghasilkan ion Fe3+ yang selanjutnya bisa dipakai kembali sebagai larutan absorben pada pemurnian biogas.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    andika said,

    dari penelitian anda mungkin ada yang perlu diperbaikin g???
    so saya ingin melakukan penelitian pemurnian biogas tapi masih bingung kandungan apa yang mau dihilangkan…tolong berikan saran!!!

  2. 2

    Master said,

    Berarti ikatan EDTA lebih lemah dibanding ikatan S?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: