EKSPLOITASI KOLONIAL DAN PERUBAHAN MASYARAKAT DESA HUTAN DI KARESIDENAN REMBANG, 1865-1940

Masyarakat desa hutan di Karesidenan Rembang mengalami perubahan penting selama periode 1865-1940. Penelitian ini secara spesifik bertujuan, pertama, mengungkap perubahan social ekonomi dan ekologi desa hutan yang terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 akibat adanya penetrasi kekuatan eksternal. Kedua, mengungkap terjadinya perubahan akses dan hilangnya hak-hak tradisi penduduk atas sumberdaya hutan. Ketiga, memahami bentuk-bentuk respons dan reaksi penduduk desa hutan dalam menghadapi tekanan structural.

Penelitian ini memanfaatkan sumber arsip sezaman, baik yang tersimpan di Negeri Belanda maupun di Indonesia. Sumber arsip yang dimaksud antara lain Memorie van Overgave, arsip Daerah Rembang, arsip Kehutanan, arsip Perkebunan, arsip Algemeen Secretarie, dan arsip Binnenlandsch Bestuur. Di samping itu juga dimanfaatkan beberapa terbitan berbahasa Belanda sezaman, seperti TNI, TBG, BKI, IG, TECTONA, Het Bosch, dan lain-lain. Kemudian publikasi seperti Koloniaal Verslag, Indisch Verslag, Regeeingsalmanak, laporan Mindere Welvaart Commissie, Statsblad, Verslag van den Dienst van het Boschwezen, Volkstelling, dan lain-lain juga dijadikan sumber data.

Penelitian ini juga memanfaatkan sumber sejarah lisan, folklore, dan sumber artefak lainnya. Hasil penelitian menunjukkan, selama periode 1865-1940 masyarakat desa hutan mengalami tiga fase perkembangan penting. Pertama, periode 1865-1890 adalah masa transisi dari masyarakat tradisi yang relatif otonom menjadi masyarakat yang teralienasi dan tersubordinasikan; kedua, periode 1980-1920 merupakan masa adaptasi dan penyesuaian-penyesuaian terhadap lingkungan yang berubah. Ketiga, tahun 1920-1940 adalah masa stagnasi dan involusi.

Masuknya kekuatan eksternal yang direpresentasikan oleh rezim pemerintah colonial Belanda dan pengusaha swasta asing mengakibatkan terjadinya perubahan structural social ekonomi dan ekologi desa hutan. Muncullah dua gejala yang secara simultan menjadi tekanan baru bagi penduduk desa hutan yaitu tertutupnya akses penduduk atas sumberdaya hutan dan rusaknya lingkungan hutan yang menjadi basis perekonomian desa hutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: