Archive for Partisipasi

Gambar faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi

Gambar syarat-syarat  partisipasi

Iklan

Leave a comment »

Kelompok Organisasi dan Kempemimpinan (studi terhadap KOKITA FM)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kumpulan orang-orang atau biasanya disebut dengan sekerumunan bukanlkah dinamakan sebuah kelompok, ataupun organisasi. Pada hakikatnya keruman tersebut kita menyebutnya sebagai massa. Massa terbentuk dikarenakan adanya situasi kebersamaan dan juga situasi kebersamaan yang menimbulkan kelompok kebersamaan. Perbedaan yang paling signifikan adalah jika kerumunan tersebut memiliki tujuan tersendiri dan berusaha mencapai tujuan maka bisa dikatakan sebagai kelompok. Sebuah organisasi atau kelompok selalu bergerak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dalam hal ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya adalah sebagai berikut; tujuan kelompok, struktur kelompok, fungsi tugas kelompok, pembinaan dan pemeliharaan, kekompakan kelompok, suasana kelompok, tekanan kelompok, keefktifan kelompok dan adanya agenda terselubung (Mardikanto, 1996).

Kokita FM sebagai sebuah wadah dari mahasiswa Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UNS memberikan tempat bagi mhaswiswa yang mempunyai kesamaan minta bakat dan kemampuan dalam hal bidang penyiaran dan keorganisasian yang ada dalam tubuh KOKITA Fm. KOKITA fm bukanlah sekumpulan massa yang memiliki sifat bertanggung jawab dalam waktu relatif pendek dan kurang terorganisir.
Sebagai sebuah organisasi yang memiliki aturan terorganisir dan sistematis, orang-orang yang berkumpul didalammnya memiliki tanggung jawab, wewenang, interaksi, kepemimpinan, pengambilan keputusan dan program kerja demi mencapai tujuan yang telah direncanakan dan sesuai dengan apa yang diharapkan para anggotanya.
Brown dalam teorinya mengklasifikasikan massa sebagi berikut crown  audience  Casual. Massa yang terbentuk oleh KOKITA FM bersifat casual yang artinya suatu kerumunan massa yang terbentuknya tidak direncanakan terlebih dahulu, karena sebelumnya massa tersebut tergerak dan terbentuk karena adanya penggerak yang sama (audience). Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan dibahas bagaimana kokita fm terbentuk dan masssa yang terbentukk oleh kokita fm.
Karena melalui media siaran maka secara tidak langsung akan ada hubungan yang terjadi antara pihak dalam maupun pihak luar, interkasi yang ditimbulkan akan mengarah ke arah yang positif ataupun negatif bergantung kepada pengelolaan dan penghambilan keputusan dari pihak dalam dan pihak luar.

B. Tujuan
Berbagai persoalan tentunya akan selalu muncul dalam sebauh organisasi atau kelompok oleh sebab itu dalam makalah ini membahas apa yang kita sebut kelompok dan kedinamikaan yang ada dalam kelompok, mengingat hal itu tujuan mempelajri kelompok adiantaranta adalah :
1. Individu tidak mungkin hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan masyarakat
2. Individu tidak dapat bekerja sendiri dalam memenuhi kebutuhannya
3. Perlunya pembagian kerja agar pekerjaan efiseien
4. Masyarakat yang demokratis akan berjalan dengan baik apabila lembaga sosial dapat bekerja dengan efektif
5. Semakin banyak manfaat dari penyelidikan tentang kelompok-kelompok

II. ISI
A. Pengertian Kelompok
Smith (1945) melihat pengertian kelompok dalam sudut padang presepsi dengan menggunakan istilah social group yaitu suatu unit yang terdiri atas beberapa anggota anggota yang mempunyai presepsi bersama tentang kesatuan mereka. Lain halnya dengan Bass menitikbertakan kepada adanya rewarding dari kelompok individu-individu yang ada dalam kelompok. Begitu pula dengan teori-teori yang yang lain yang mendefinisikan kelompok pada sudut pandnag tujuan, interdepesi, interaksi dan sturktur.
Hal ini ternyata berlaku di dalam kokita fm, karena dalam sejarahnya kokita fm terbentuk karena adanya kesamaan presepsi antar anggotanya, dimulai dengan kesamaan presepsi dosen-dosen yang ingin menyumbangkan pemikirannya untuk pengembangan jurusan, dilanjutkan kesamaan presepsi anatara mahasiswa dengan dosen untuuk mewujudkan media yang efektif dalam memeperkenalkan jurusan kepada masayarakat luas. Maka terbentuklah kokita fm sebagai radio komunitas yang mencoba untuk menjembatani antara institusi dan juga masyarakat. Sebagai salah satu produk dari tri darma perguruan tinggi maka kokita fm berusaha mewujudkan apa yang diminta oleh audience yang terbentuk secara tidak sengaja dan terbentuk karena kesamaan gerak.

B. Prespektif Teori tentang Kelompok
Ada banyak teori yang dapat dipadankan dengan terbentuknya suatu kelompok, begitu pula presfektif teori tentang kelompok yang muncul, dimulai dengan teori interaksionis atau teori interaksi, terori presfektif funsional, presfektif teori konflik, teori pertukaran sosial dan teori kogitif. Dalam perjalanannya teori ini terus berkmbang dikarenakan ilmu sosial tidak memiliki batas dan kemampuan manusia dalam sebuah kelompok akan selalu dinamis dan tidak satagnan.
Seperti dalam kasus kokita fm, dalam teori interaksi dijelaskan bahwa orang-orang melakukan interaksi terutama dengan menggunakan simbol-simbol yang mencakup tanda (sinyal), isyarat dan kata-kata. Karena interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok ditentukan oleh : 1) karakteristik pelaku-pelakunya, 2). Karakteristik interaksinya dan 3) setting interaksi tersebut. Menurut teori ini organisasi atau kelompok terdiri atas orang-orang yang menghadap keragaman situasi dan masalah yang berbeda-beda. Masalahnya harus dipecahkan dan suatu strategi bersama harus disusun.
Sehingga dalam kehidupan berkelompok seperti halnya yang terjadi di kokita fm maka adanya interaksi-interaksi anggota dimungkinkan ditemukan masalah ataupun inovasi yang dapat memajukan kokita fm, dengan keragaman situasi yang ditemui maka secara tidak langsung akan ditemukan suatu pemecahan atau solusi strategis yang solutif. Sebagai contoh pembuatan program acara baru yang dirundingkan terlebih dahulu atau mengenai jadwal siaran. Pendekatan teori presfektik ini sangat kental.
Dalam presfektik funsional dalam hal ini dilihat dari aspek-aspek yang terdapat dalam kelompok tersebut menurut fungsi-fungsinya, karena menurut pearsons suatu kelompok atau organisasi dapat bertahan dengan memenuhi persayaratan : 1) adaptasi, 2) kemungkinan mencapai tujuan, 3) Integrasi anggota-anggota, 4) kemampuan mempertahankan identitasnya terhadap kegoncangan dan ketegangan yang timbul. Dalam kasus kokita fm para anggota-anggotanya di harapkan dapat beradaptasi dengan lingkungan diluar lingkungan yang biasa yaitu lingkungan pertanian, mereka dihaapkan bisa menyeimbangkan antara dunia siaran dan dunia pertanian (akademis), karena dalam mencapai tujuan yang di inginkan, kokita memliki visi dan misi, sehingga tercipta sense of belong yang mencirikan identitas diri anggota kelompok, dalam hal ini para naggota dapat memperthankan apabila terdapat ketagangan yang timbul.

C. Fungsi Kelompok
Kelompok yang terbentuk tentau saja bukan hanya sebagai wadah saja namun memiliki fungsi yang dirasakan anggota dan juga yang dieasakan oleh kelompok itu sendiri. Sebagai contoh kelompok dapat memberikan kepuasan afektif bagi individu sedangkan fungsi kelompok bagi organisasi sendiri adalah kepuasan pribadi diluar kegiatan organisasi akan terpenuhi, selanjutnya funsi kelompok bagi masyarakat adalah adaya ikatan-ikatan primer seperti lokalisme,komunalisme ataupun kesetiaan pada kerabat, yang terkadang menjadi penghalang terhadap keadilan dan perkembangan.
Kokita fm menjalankan fungsinya sebagai sebuah organisasi yang menaungi orang-orang dengan minat yang sama terhadap dunia brodcast, dengan melihat hal demikian maka fungsi kelompok bagi individu sudah tercipta di kokta fm begitu juga fungsi kelompok dalam organisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan, lalu bagaiman dengan fungsi kokita fm bagi masyarakat? Sebagai media siaran kokita fm dengan sendirinya membentuk apa yang dinamakan audience atau pendengar, hal demikian di tindak lanjuti dengan meberi panggilan kepada audince dengan sebutan ”teman kita”. Dengan demikan kokita sudah memberikan apresiasi dan menjalankan fungsinya sebagi bagian dari masyarakat.
Bagaimana dengan Tim yang terbentuk di kokita
fm yang juga bagian yang berpengaruh dalam perjalanan kokita, seperti dalam pengertiannya tim adalah seperangkat interaksi hubungan antar pribadi yang tersusun untuk mencapai tujuan yang mapan dengan ciri-ciri sebagai berikut tiap-tiap anggpta menyadari interdependensi yag positif untuk menapai tujuan bersama, mempunyai peran danfungsi spesifik, dan mempunyai limited life span keanggotan. Jika dikualifikasikan tim menjadi problem solving team, Specaial Purpose team dan Self Managing Team,kenyataan yang terjadi dalam kokita fm sebagai problem solving team adalah mereka yang duduk di jajaran petinggi seperti, general managaer, HRD, PD, dan juga kesekretarisan. Sedangkan speceial purpose team dan self managing team yang ada dikokita diwakili oleh team-team yang dibentuk oleh atasan seperti divisi PR, divisi Moa dan Divisi Tekpro.
Produktivitas kelompok diukur dengan bagaimana kelompok dapat menyelseaikan tujuannya, semakin produktif suatu kelompok maka semakin berkembang suatu kelompok itu karena produktifitas diukur dengan tugas yang dikerjakan, sumberdaya dan ada dan juga proses yang terjadi, dalam kasus kokita fm dapat dilihat dengan munculnya acara-acara baru atau program baru yang dapat menarik para audince dan audice menyukainya.

D. Struktur Sosial Kelompok
Bisa dikatakan sebai pola hubungan anatar anggoa-anggota suatu masyarakat atau suatu kelompok, dimana teknik studi diterpkan untuk menyelidii hubungan-hubungan afektif dalam kelompok adalah sosiometri, bagaimana dengan metode yang digunakan, metode yang digunakan adalah metode sosiometri yang dugunakan untuk meneliti kelompok-kelompok yang relatif kecil dengan menggunakan data dari kuisioner sosisometri, teknik ini dukemukakan oleh Morano untuk melihat ukuran berteman. Sedangkan untuk melihat baik buruknya interkasi, dilihat daru berbagai macam ukuran diantaranya adalah frekuensi interaksi, intensitas interaksi dan pluralitas interakasi.
Yang terjadi di kokita fm memang belum diterapakan metode tersebut namun pada dasarnya sebagai bagian dari masyarakat, kokita membuka sebuah acara yang ditujukan untuk para audince yang mempunyai pendapat demi perkembangan kokita kedepan. Usul dan kritik yang diterima menjadi sebuah indikator bagaimana kokita merupakan sebuah strktur yang tidak terlepas dari para audiencenya.
Ukuran-ukuran inilah yang dilihat kokita dalam peningkatan produktivitasnya, sebagai contoh kokita melakukan evaluasi terhadap siapa penyiar yang disenangi atau yan menjadi favorite dari audience dan siapa yang tidak disukai, saran yang masuk inilah yang digunakan kokita untuk berkembang.

E. Dinamika Kelompok
Dinamika ditunjukan dengan adanya interaksi dan interdependesia antara anggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok yang lain secara timbal balik dan atara anggota dengan kelompok secara keseluruhan. Sedangkan dinamika kelompok adalah suatu kelomok yang teratur dari dua individu atau lebih mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain. Persoalan yang timbul dalam dinamika kelompok diantaranya kohesi, motif, struk pimpinan dan perkembangan kelompok. Pendekatan-pendekatan diinamika kelompok diantaranya pendekatan oleh Bsales dan Homans, pendekatan oleh Stogdill, Pendekatan oelh sigmund Freud dan Sheidlinger dan pendekatan oleh Yennings dan Morano.
Jika melihat kasusa dalam kokita fm maka dijabarkan sebagai berikut pendekatan yang terjadi dalam kokita fm adalah pendekatan yang diakukan oleh simund freund dan scheidlinger dimana kelompok dapat berbentuk apabila didasarkan pada kesamaan motif antar anggota kelompok. Karena dalam setiap kelompok diperlukan kesatuan agar kelompok tersebut dapat berkembang, kesatuan tersebut dapat diwujudkan apabila tiap-tiap anggota kelompok melaksanakan identifikasi bersama-sama.
Kesamaan motif diantara anggota-anggota kokita fm terhadap dunia broadcast mewujudkan suatu kesatauan yang diwujudkan dengan dibentuknya divisi-divisi yang dapat menggerakkan kokita fm dengan mengadakan identifikasi terlebih dahulu secara bersama apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan. Kesatuan yang terbentuk dapat membuat kokita fm berkembang.
Begitu juga dengan audience yang terbentuk (Teman kita) yang memliki motif sama menjadi bagian dari kokita fm dengan beratensi dan juga memberikan sumbangan baik itu berupa kritik dan saran yang membangun.

F. Pengambilan Keputusan Kelompok
Pengambilan keputusan yang efektif dapat mencerminkan sebuah kedianamisan yang terjadi dalam kelompok, kelompok yang efektif berarti kelompok tersebut dapat dikatakan dinamis, pengambilan keputusan dalam berbagai kelompok dapat berpengaruh kepad kelangsungan hidup suatu kelompok dan juga suasana kelompok. Ada banyak cara dalam pengambilan kelompok melalui top down atau up down, sedangkan yang mempertinggi efektivitas pengambilan kelompok adalah interpendency positif, individual accountabilit, promotive interaction, socially skilled group members, group processing. Faktor yang menghambat diantaranya adalah Lack of Group Maturity, Uncritically giving One’s dominat responses, onflicting Goals of group members, Failure to communicate and untillize Information, Egocentrism of group members, lackof sufficient heterogenity, inappropriate group size, dan lack of sufficient time.
Dalam teori metode pengambilan keputusan diantaranya adalah otoritas tanpa diskusi kelompok, otoritas setelah mengadakan diskusi kelompok, keputusan diambil oleh seorang ahli, dengan rerata pendapat individu, keputusan diambil oleh minoritas, voting, dan kesepakatan bersama.
Selama ini dalam pengambilan keputusan yang terjadi di kokita fm sebagian besar dilakukan dengan kesepakatan bersama yang artinya konsekusni dari kesepakatan bersama menjadi tanggung jawab bersama tidak dilimpahkan kepada yang lain atau hanya ketua saja. Bagaimana keputusan tersebut di buat dapat dilihat pada tabel berikut :
Keterangan
1 Metode Pengambilan keputusan yang biasa diambil menurut urutan 1. Kesepakatan bersama
2. Otoritas telah mengadadakan diskusi
3. Voting
2 Faktor Penghambat Pengambilan keputusan yang dijumpai 1. Failure to communicate and untilize information
2. Kurangnya heterogenitas
3. Waktu yang tidak cukup tersedia

G. Kohesi Kelompok
Kohesi sendiri didefinisikan sebagai bagaimana para anggota kelomopok salin menhyukai dan mencintai satu dengan lainnya, dimana faktor pengikat arti kohesi adalah daya tarik kelompok, moral/tingkat motivasi dari masing-masing anggota dan koordinasi pada usaha-usaha anggota kelompok. Adapula faktor yang memppertinggi tinggi rendahnya kohesi antara lain kesamaan sikap, nilai-nilai, sifat-sifat pribadi dan sifat-sifat demografis.
Kokita fm sebagai sebuah organisasi memiliki daya terik tersendiri kerena memiliki keunikan yang tidak dimiliki organisasi yang lain, didalam tubuh kokita fm terjadi kohesi yang tinggi karena para anggotanya memiliki motivasi yang tinggi, pengukurannya dilihat dari tingkat ketertiban para penyiar dalam melakukan siaran, hal ini diitunjang oleh para anggotanya yang memliki kesamaan sikap dan juga secara demografis tidak dipisahkan jarak yang jauh (tempat tinggal sebagian dari kelompok kos-kosan) sehingga memilki suatu kesamaan pandangan dan nilai-nilai ang dianut dan di junjung tinggi
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kesamaan motif diantara anggota-anggota kokita fm terhadap dunia broadcast mewujudkan suatu kesatauan yang diwujudkan dengan dibentuknya divisi-divisi yang dapat menggerakkan kokita fm dengan mengadakan identifikasi terlebih dahulu secara bersama apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan. Kesatuan yang terbentuk dapat membuat kokita fm berkembang
2. Kokita fm sebagai sebuah organisasi memiliki daya tarik tersendiri kerena memiliki keunikan yang tidak dimiliki organisasi yang lain, didalam tubuh kokita fm terjadi kohesi yang tinggi.
3. Ukuran-ukuran inilah yang dilihat kokita dalam peningkatan produktivitasnya, sebagai contoh kokita melakukan evaluasi terhadap siapa penyiar yang disenangi atau yan menjadi fav
orite dari audience dan siapa yang tidak disukai, saran yang masuk inilah yang digunakan kokita untuk berkembang
4. Audience yang terbentuk (Teman kita) yang memliki motif sama menjadi bagian dari kokita fm dengan beratensi dan juga memberikan sumbangan baik itu berupa kritik dan saran yang membangun

B. Saran
1. Perlu adanya suatu usaha yang dilakukan oleh kokita fm seperti pembuatan kuisioner sebagai ukuran dalam produktivitas kinerja para anggotanya
2. Perlu diadakannya suatu simulasi untuk para anggota bertujuan untuk meningkatkan kohesi antar sesama dan memperkecil kemungkinan konflik sehingga selanjutnya dalam pengambilan keputusan dapat meminimalisir adanya kebuntuan.

REFERENSI

Mardikanto, T. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.
Bahan-bahan Ajar Mata kuliah Kelompok organisasi dan Kepemimpinan
Keluarga Besar Kokita FM

Leave a comment »

Pengertian Partisipasi


Partisipasi adalah keikutsertaan, peranserta tau keterlibatan yang berkitan dengan keadaaan lahiriahnya (Sastropoetro;1995). Participation becomes, then, people’s involvement in reflection and action, a process of empowerment and active involvement in decision making throughout a programme, and access and control over resources and institutions (Cristóvão, 1990).

Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materill (PTO PNPM PPK, 2007).
Hoofsteede (1971) menyatakan bahwa patisipasi adalah the taking part in one ore more phases of the process sedangkan Keith Davis (1967) menyatakan bahwa patisipasi “as mental and emotional involment of persons of person in a group situation which encourages him to contribute to group goals and share responsibility in them”
Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa, partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat. Theodorson dalam Mardikanto (1994) mengemukakan bahwa dalam pengertian sehari-hari, partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi akan lebih tepat diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tumbuh dan berkembangnya partisipasi dapat didekati dengan beragam pendekatan disiplin keilmuan. Menurut konsep proses pendidikan, partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responses atas rangsangan-rangsangan yang diberikan; yang dalam hal ini, tanggapan merupakan fungsi dari manfaat (rewards) yang dapat diharapkan (Berlo, 1961).
Partisipasi masyarakat merutut Hetifah Sj. Soemarto (2003) adalah proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung mempengaruhi kehiduapan mereka. Conyers (1991) menyebutkan tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakata, tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal, alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut. Alasan ketiga yang mendorong adanya partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia.

b. Tipologi Partisipasi
Penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat serngkali terhambat oleh persepsi yang kurang tepat, yang menilai masyarakat “sulit diajak maju” oleh sebab itu kesulitan penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat juga disebabkan karena sudah adanya campur tangan dari pihak penguasa. Berikut adalah macam tipologi partisipasi masyarakat
1). Partisipasi Pasif / manipulatif dengan karakteristik masyrakat diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi, pengumuman sepihak oleh pelkasan proyek yanpa memperhatikan tanggapan masyarakat dan informasi yang diperlukan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran.
2). Partisipasi Informatif memilki kararkteristik dimana masyarakat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian, masyarakat tidak diberikesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penelitian dan akuarasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat.
3). Partisipasi konsultatif dengan karateristik masyaakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi, tidak ada peluang pembutsn keputusan bersama, dan para profesional tidak berkewajiban untuk mengajukan pandangan masyarakat (sebagi masukan) atau tindak lanjut
4). Partisipasi intensif memiliki karakteristik masyarakat memberikan korbanan atau jasanya untuk memperolh imbalan berupa intensif/upah. Masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pembelajan atau eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan asyarakat tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah intensif dihentikan.
5). Partisipasi Fungsional memiliki karakteristik masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek, pembentukan kelompok biasanya setelah ada keptusan-keputusan utama yang di sepakati, pada tahap awal masyarakat tergantung terhadap pihak luar namun secara bertahap menunjukkan kemandiriannya.
6). Partisipasi interaktif memiliki ciri dimana masyarakat berperan dalam analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan penguatan kelembagaan dan cenderung melibatkan metoda interdisipliner yang mencari keragaman prespektik dalam proses belajar mengajar yang terstuktur dan sisteatis. Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas (pelaksanaan) keputusan-keputusan merek, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegitan.
7). Self mobilization (mandiri) memiliki karakter masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebabas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar) untuk mengubah sistem atau nilai-niloai yang mereka miliki. Masyarakat mengambangkan kontak dengan lembaga-lemabaga lain untuk mendapatkan bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang diperlukan. Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada dan atau digunakan
c. Tahap-Tahap Partisipasi
Uraian dari masing-masing tahapan partisipasi adalah sebagai berikut :
1). Tahap partisipasi dalam pengambilan keputusan
Pada umumnya, setiap program pembangunan masyarakat (termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan alokasi anggarannya) selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat, yang dalam hal ini lebih mencerminkan sifat kebutuhan kelompok-kelompok elit yang berkuasa dan kurang mencerminkan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung di dalam proses pengambilan keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah setempat atau di tingkat lokal (Mardikanto, 2001).
2). Tahap partisipasi dalam perencanaan kegiatan
Slamet (1993) membedakan ada tingkatan partisipasi yaitu : partisipasi dalam tahap perencanaan, partisipasi dalam tahap pelaksanaan, partisipasi dalam tahap pemanfaatan. Partisipasi dalam tahap perencanaan merupakan tahapan yang paling tinggi tingkatannya diukur dari derajat keterlibatannya. Dalam tahap perencanaan, orang sekaligus diajak turut membuat keputusan yang mencakup merumusan tujuan, maksud dan target.
Salah satu metodologi perencanaan pembangunan yang baru adalah mengakui adanya kemampuan yang berbeda dari setiap kelompok masyarakat dalam mengontrol dan ketergantungan mereka terhadap sumber-sumber yang dapat diraih di dalam sistem lingkungannya. Pengetahuan para perencana teknis yang berasal dari atas umumnya amat mendalam. Oleh karena keadaan ini, peranan masyarakat sendirilah akhirnya yang mau membuat pilihan akhir sebab mereka yang akan menanggung kehidupan mereka. Oleh sebab itu, sistem
perencanaan harus didesain sesuai dengan respon masyarakat, bukan hanya karena keterlibatan mereka yang begitu esensial dalam meraih komitmen, tetapi karena masyarakatlah yang mempunyai informasi yang relevan yang tidak dapat dijangkau perencanaan teknis atasan (Slamet, 1993).
3). Tahap partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan, seringkali diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak (yang umumnya lebih miskin) untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya di dalam kegiatan pembangunan. Di lain pihak, lapisan yang ada di atasnya (yang umumnya terdiri atas orang kaya) yang lebih banyak memperoleh manfaat dari hasil pembangunan, tidak dituntut sumbangannya secara proposional. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan pembangunan harus diartikan sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja, uang tunai, dan atau beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan diterima oleh warga yang bersangkutan (Mardikanto, 2001).
4). Tahap partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan
Kegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan sangat diperlukan. Bukan saja agar tujuannya dapat dicapai seperti yang diharapkan, tetapi juga diperlukan untuk memperoleh umpan balik tentang masalah-masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan. Dalam hal ini, partisipasi masyarakat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan sangat diperlukan (Mardikanto, 2001).
5). Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil kegiatan
Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan, merupakan unsur terpenting yang sering terlupakan. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan merupakan tujuan utama. Di samping itu, pemanfaaatan hasil pembangunan akan merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk selalu berpartisipasi dalam setiap program pembangunan yang akan datang (Mardikanto, 2001).
d. Tingkat Kesukarelaan Partisipasi
Dusseldorp (1981) membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaan sebagai berikut:
1). Partisipasi spontan, yaitu peranserta yang tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman, penghayatan, dan keyakinannya sendiri.
2). Partisipasi terinduksi, yaitu peranserta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan, pengaruh, dorongan) dari luar; meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi.
3). Partisipasi tertekan oleh kebiasaan, yaitu peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya, atau peranserta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan, nilai-nilai, atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. Jika tidak berperanserta, khawatir akan tersisih atau dikucilkan masyarakatnya.
4). Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi, yaitu peranserta yang dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan.
5). Partisipasi tertekan oleh peraturan, yaitu peranserta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari peraturan/ketentuan-ketentuan yang sudah diberlakukan.
e. Syarat tumbuh partisipasi
Margono Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sangat ditentukan oleh 3 (tiga) unsur pokok, yaitu:
1). Adanya kemauan yang diberikan kepada masyarakat, untuk berpartisipasi
2). Adanya kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi
3). Adanya kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi
Lebih rinci Slamet menjelaskan tiga persyaratan yang menyangkut kemauan, kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi adalah sebagai berikut

a). Kemauan
Secara psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif intrinsik (dari dalam sendiri) maupun ekstrinsik (karena rangsangan, dorongan atau tekanan dari pihak luar). Tumbuh dan berkembangnya kemauan berpartisipasi sedikitnya diperlukan sikap-sikap yang:
1) Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan.
2) Sikap terhadap penguasa atau pelaksana pembangunan pada umumnya.
3) Sikap untuk selalu ingin memperbaiki mutu hidup dan tidak cepat puas sendiri.
4) Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah, dan tercapainya tujuan pembangunan.
5) Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya
b). Kemampuan
Beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat berpartisipasi dengan baik itu antara lain adalah:
1) Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah.
2) Kemampuan untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.
3) Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta sumber daya lain yang dimiliki
Robbins (1998) kemampuan adalah kapasitas individu melaksanakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Lebih lanjut Robbins (1998) menyatakan pada hakikatnya kemampuan individu tersuusun dari dua perangkat faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.
c). Kesempatan
Berbagai kesempatan untuk berpartisipasi ini sangat dipengaruhi oleh:
1) Kemauan politik dari penguasa/pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan.
2) Kesempatan untuk memperoleh informasi.
3) Kesempatan untuk memobilisasi dan memanfaatkan sumberdaya.
4) Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi tepat guna.
5) Kesempatan untuk berorganisasi, termasuk untuk memperoleh dan mempergunakan peraturan, perizinan dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan.
6) Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, menggerakkan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Sementara Mardikanto (1994) menyatakan bahwa pembangunan yang partisipatoris tidak sekedar dimaksudkan untuk mencapai perbaikan kesejahteraan masyarakat (secara material), akan tetapi harus mampu menjadikan warga masyarakatnya menjadi lebih kreatif. Karena itu setiap hubungan atau interaksi antara orang luar dengan masyarakat sasaran yang sifatnya asimetris (seperti: menggurui, hak yang tidak sama dalam berbicara, serta mekanisme yang menindas) tidak boleh terjadi. Dengan dimikian, setiap pelaksanaan aksi tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan orang dari luar ke dalam masrakat sasaran, akan tetapi secara bertahap harus semakin memanfaatkan orang-orang dalam untuk merumuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam masyarakatnya sendiri.
Mardikanto (2003) menjelaskan adanya kesempatan yang diberikan, sering merupakan faktor pendorong tumbuhnya kemauan, dan kemauan akan sangat menentukan kemampuannya.

Gambar 1. Syarat Tumbuh dan Berkembangnya Partisipasi Masyarakat
Kemauan untuk berpartisipasi merupakan kunci utama bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. Sebab, kesempatan dan kemampuan yang cukup, belum merupakan jaminan bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat, jika mereka sendiri tidak memiliki kemauan untuk (turut) membangun. Sebaliknya, adanya kemauan akan mendorong seseorang untuk meningkatkan kemam-puan dan aktif memburu serta memanfaatkan setiap kesempatan. (Mardikanto,2003).
Mardikanto (2003) menjelaskan beberapa kesempatan yang dimaksud adalah kemauan politik dari penguasa untuk melibatkan masyarakat dalam pembagunan, baik dalam pengambilan kepu-tusan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, pemeliharaan, dan pemanfaatan pembangunan; sejak di tingkat pusat sampai di jajaran birokrasi yang paling bawah. Selain hal tersebut terdapat kesempatankesempatan yang lain diantaranya kesempatan untuk memperoleh informasi pembangunan, kesempatan memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya (alam dan manusia) untuk pelaksanaan pembangunan. Ke
sempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi yang tepat (termasuk peralatan perlengkapan penunjangnya). Kesempatan untuk berorganisasi, termasuk untuk memperoleh dan menggunakan peraturan, perijinan, dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan, dan Kesempatan mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, menggerakkan, dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat (Mardikanto,2003).
Adanya kesempatan-kesempatan yang disediakan untuk menggerakkkan partisipasi masyarakat akan tidak banyak berarti, jika masyarakatnya tidak memiliki kemampuan untuk berpartisipasi. Mardikanto (2003) menjelaskan yang dimaksud dengan kemampuan di sini adalah :
1. Kemampuan untuk menemukan dan memahami kesempatan-kesempatan untuk membangun, atau pengetahuan tentang peluang untuk membangun (memperbaiki mutu hidupnya).
2. Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan, yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki.
3. Kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan sumberdaya dan kesempatan (peluang) lain yang tersedia secara optimal.
Yadav dalam Mardikanto (1994) mengemukakan adanya empat macam kegiatan yang menunjukkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu : partisipasi dalam pengambilan keputusan, partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan, partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi, dan partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan.
Tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, menunjukkan adanya kepercayaan dan kesempatan yang diberikan “pemerintah” kepada masyarakatnya untuk terlibat secara aktif di dalam proses pembangunan. Artinya, tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat, memberikan indikasi adanya pengakuan (aparat) pemerintah bahwa masyarakat bukanlah sekedar obyek atau penikmat hasil pembangunan, melainkan subyek atau pelaku pembangunan yang memiliki kemauan dan kemampuan yang dapat diandalkan sejak perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pemanfaatan hasil-hasil pembangunan (Mardikanto, 2001).
f. Pendekatan Partisipatif dan Pemberdayaan.
Dampak pendekatan partisipatif secara umum adalah sebagai berikut:
1. Program dan pelaksanaannya lebih aplikatif terhadap konteks sosial, ekonomi dan budaya yang sudah ada, sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini menyiratkan kebijakan desentralisasi.
2. Menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab diantara semua pihak terkait dalam merencanakan dan melaksanakan program, sehingga dampaknya dan begitu pula program itu sendiri berkesinambungan.
3. Perlunya memberikan peran bagi semua orang untuk terlibat dalam proses, khususnya dalam hal pengambilan dan pertanggungan jawab keputusan sehingga memberdayakan semua orang yang terlibat (terberdayakan).
4. Kegiatan-kegiatan pelaksanaan menjadi lebih obyektif dan fleksibel berdasarkan keadaan setempat.
5. Transparansi semakin terbuka lebar akibat penyebaran informasi dan wewenang.
6. Pelaksanaan proyek atau program lebih terfokus pada kebutuhan masyarakat
Dalam pembangunan partisipatif, pemberdayaan merupakan salah satu strategi yang dianggap paling tepat jika faktor-faktor determinan dikondiskana terlebih dahulu sedemikian rupa agar esensi pemberdayaan tidak terdistorsi. Friedman menyatakan bahwa pemecahan masalah pembangunan melalui pemeberdayaan adalah sebagai berikut
“…involves a process of social an political empowerment whose long term objective is to rebalance the structure of power in society by making state action more accountable, strengthening the powers of civil society in the management of its own affairs, and making corporate business more socially responsible”
(Friedmann, 1992)
Empowerment is the process of increasing the capacity of individuals or groups to make choices and to transform those choices into desired actions and outcomes.
(World Bank, 2008)
World Bank dalam Bulletinnya Vol. 11 No.4/Vol. 2 No. 1 October-Desember 2001 telah menetapkan pemberdayaan sebagai salah satu ujung-tombak dari Strategi Trisula (three-pronged strategy) untuk memerangi kemiskinan yang dilaksanakan sejak memasuki dasarwarsa 90-an, yang terdiri dari: penggalakan peluang (promoting opportunity) fasilitasi pemberdayaan (facilitating empowerment) dan peningkatan keamanan (enhancing security) (Mardikanto,2003).
World bank dalam Mardikanto (2003) menyatakan yang dimaksud dengan pemberdayaan adalah pemberian kesempatan kepada kelompok grassroot untuk bersuara dan menentukan sendiri pilihan-pilihannya (voice and choice) kaitannya dengan: aksesibilitas informasi, keterlibatan dalam pemenuhan kebutuhan serta partisipasi dalam keseluruhan proses pembangunan, bertanggung-gugat (akuntabilitas publik), dan penguatan kapasitas lokal.
Dalam konsep pemberdayaan tersebut, terkandung pema-haman bahwa pemberdayaan tersebut diarahkan terwujudnya masyarakat madani (yang beradab) dan dalam pengertian dapat mengambil keputusan (yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri. Pemberdayaan masyarakat, dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan (capacity strenghtening) masyarakat, agar mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam keselu-ruahn proses pembangunan, terutama pembangunan yang ditawarkan oleh penguasa dan atau pihak luar yang lain (penyuluh, LSM, dll) (Mardikanto, 2003)

Comments (5) »