Archive for pemberdayaan

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEDESAAN MELALUI PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS SUMBER DAYA PERTANIAN DI KABUPATEN KARANGANYAR

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Karanganyar memiliki potensi/sumber daya pertanian yang sangat beragam yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata, khususnya wisata agro sebagai salah satu bentuk wisata minat khusus (special interest tourism). Dalam rangka memberdayakan dan mengembangkan potensi pertanian yang dimiliki oleh Kabupaten Karanganyar sebagai daya tarik wisata agro, Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah melakukan berbagai langkah antara lain menyediakan dan mengembangkan berbagai amenitas (sarana penunjang) pariwisata yang dapat memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung ke berbagai objek dan daya tarik wisata agro yang terdapat di kawasan pedesaan di daerah tersebut. Beberapa sarana yang disediakan dalam rangka meningkatkan kepuasan kunjungan wisatawan adalah warung makan, pusat cenderamata, penginapan, baik yang berupa hotel maupun homestay, dan sarana olah raga.

Di samping itu juga memperbaiki aksesibilitas menuju objek dan daya tarik wisata agro di kawasan pedesaan yang terdapat di daerah Kabupaten Karanganyar, meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang berkaitan langsung dengan pengembangan wisata agro, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang meliputi peningkatan kemampuan secara ilmu pengetahuan, peningkatan kemampuan fisik, keterampilan maupun dalam penguasaan sumber-sumber daya pertanian yang ada, mengembangkan kemampuan melalui upaya peningkatan produktivitas dengan cara perluasan kesempatan kerja serta peningkatan produksi melalui penggunaan berbagai macam teknologi yang telah berkembang sangat pesat, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang berkaitan erat dengan pembangunan pariwisata, khususnya wisata agro, mengembangkan jaringan pendidikan, baik formal maupun informal, yang menekankan pada profesionalisme sehingga kualitas calon tenaga kerja yang dihasilkan sesuai dengan tuntutan kualitas yang mampu bersaing di era kompetisi yang tinggi pada saat ini, membangun incentive system yang jelas untuk memberikan motivasi kepada pegawai/pekerja agar memiliki semangat bekerja yang tinggi serta dorongan untuk menunjukkan profesionalisme di bidangnya. Untuk menunjang pelaksanaan incentive system perlu dibangun sistem monitoring dan evaluasi dan meningkatkan competitiveness diantara staf untuk mencapai kualitas dan hasil yang baik, meningkatkan promosi produk wisata agro.

Iklan

Leave a comment »

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGEMBANGAN WISATA ALAM BERBASIS INTERPRETASI UNTUK MENDUKUNG PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP

Penelitian ini bertujuan untuk menemukenali daya tarik dan kegiatan wisata alam yang terdapat di wilayah Kabupaten Boyolali, mengetahui strategi pengelolaan daya tarik wisata alam yang telah dilakukan selama ini, mengidentifikasi kelemahan dan kendala dalam pengelolaan daya tarik wisata alam di wilayah Kabupaten Boyolali agar dapat mendukung kelestarian fungsi lingkungan hidup, mengetahui keterlibatan masyarakat lokal (masyarakat setempat) dalam pengelolaan daya tarik wisata alam yang terdapat di Kabupaten Boyolali, serta mengetahui sejauh mana masyarakat setempat telah dilibatkan dalam penyampaian interpretasi kepada wisatawan guna mendukung pengelolaan daya tarik wisata alam secara ramah lingkungan di wilayah Kabupaten Boyolali.

Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Boyolali dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki beberapa objek dan daya tarik wisata (ODTW) alam yang potensial dan dapat dikembangkan untuk mendukung pengembangan ekonomi wilayah dan ekonomi masyarakat setempat pada khususnya serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Populasi penelitian adalah semua pelaku yang terkait dengan pengembangan wisata alam di Kabupaten Boyolali. Teknik cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan snowball. Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, observasi dan simak.Data akan dianalisis dengan menggunakan analisis interaktif dan analisis 4A (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, Aktifitas).

Leave a comment »

Mengenal Anggaran Responsif Gender

Pernahkah anda mendengar tentang anggaran responsif gender?    Selama ini ada kesalahan anggapan bahwa anggaran responsif gender identik dengan anggaran untuk perempuan.  Beberapa diantaranya juga mengatakan bahwa anggaran responsif gender perlu dialokasikan sebesar 5% dari total anggaran.  Kedua pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar.  Anggaran responsif gender pada hakekatnya adalah : (1)  upaya untuk menjamin agar anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah beserta kebijakan dan program yang mendasarinya dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan setiap warga negara dari kelompok manapun, baik laki-laki maupun perempuan; (2) Merupakan anggaran yang disusun dan disyahkan melalui proses analisis dalam perspektif gender.; (3) Anggaran yang responsif gender bukan anggaran 50% untuk laki-laki dan 50% untuk perempuan; (4)  Anggaran responsif gender bukan pula anggaran yang terpisah untuk perempuan dan laki-laki .  Dalam konteks pendidikan, anggaran yang responsif gender mencakup seluruh anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan pendidikan, demikian pula dalam pembangunan bidang lainnya.  Secara lebih mudah, kategori anggaran dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori: (1)  anggaran untuk pemenuhan kebutuhan specifik perempuan dan laki-laki, misal:  perempuan hamil membutuhkan zat bezi, makanan bergizi dalam jumlah yang memadai, pemeriksaan papsmear, laki-laki butuh khitan, dll: (2) anggaran untuk affirmative action, contoh: pelatihan kepemimpinan bagi perempuan karena ada anggapan bahwa kemampuan memimpin perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki; (3) anggaran untuk capacity building pengarusutamaan gender, misal: pelatihan tehnik analisis gender bagi perencana di daerah agar mereka dapat menyusun perencanaan kebijakan responsif gender; (4) anggaran umum dengan mengintegrasikan keadilan dan kesetaraan gender, misal:  dinas pendidikan memiliki program beasiswa bagi penduduk miskin, maka dalam pemberian beasiswa tersebut perlu dipikirkan bahwa laki-laki dan perempuan memperoleh akses dan manfaat yang sama dari program beasiswa tersebut.  Berdasarkan ke-empat kategori anggaran tersebut, maka anggaran responsif gender adalah penjumlahan dari ke-empat kategori anggaran tersebut di atas.

Leave a comment »

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK USAHA KECIL DAN MIKRO

Sejarah telah menunjukkan bahwa usaha kecil dan mikro (UKM) di Indonesia tetap eksis dan berkembang dengan adanya krisis ekonomi yang telah melanda negeri ini sejak tahun 1997, bahkan menjadi katup penyelamat bagi pemulihan ekonomi bangsa karena kemampuannya memberikan sumbangan yang cukup signifikan pada PDB maupun penyerapan tenaga kerja.
Kecenderungan kemampuan UKM memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian suatu negara sehingga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menetapkan tahun 2004 sebagai tahun International microfinance. Sejalan dengan program PBB tersebut, pemerintah Indonesia juga telah menetapkan tahun 2005 sebagai “Tahun UMKM Indonesia”.
Makalah singkat ini menyajikan uraian tentang dinamika keterlibatan dan hubungan peran antar stakeholder UKM, pemberdayaan masyarakat untuk UKM dan beberapa pengalaman empiris.

Terdapat banyak stakeholder yang harus terlibat dalam pemberdayaan masyarakat untuk UKM, antara lain dapat dilakukan langkah-langkah dengan melalui kegiatan: (1) identifikasi potensi, (2) analisis kebutuhan, (3) rencana kerja bersama, (4) pelaksanaan, (5) monitoring dan evaluasi.
Dari dua pengalaman empiris dapat ditarik pengalaman bahwa kerjasama antar stakeholder UKM akan menghasilkan kinerja yang lebih baik untuk pengembangan UKM. Untuk itu, maka program-program yang menyangkut pengembangan UKM baik yang bersifat technical asistant (TA) maupun yang non TA harus diupayakan adanya koordinasi antar stakeholder agar optimal hasilnya.
Implementasi kebijakan dalam rangka strategi pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan UKM tidak bisa secara parsial hanya bidang ekonomi permodalan saja, namun harus berorientasi secara keseluruhan atas kebutuhan UKM baik secara individu maupun kelompok, termasuk mendasarkan pada potensi sumberdaya manusianya.
Dengan melibatkan secara partisipatif dan lebih bersifat bottom up ternyata pemberdayaan diri UKM telah berhasil dan pada gilirannya secara intergral mampu memberikan dampak bagi perkembangan perekonomian yang lebih luas.

Leave a comment »

STRATEGI PEMBERDAYAAN UMKM DI WILAYAH SURAKARTA

A. PENDAHULUAN
Sejarah telah menunjukkan bahwa UMKM di Indonesia tetap eksis dan
berkembang dengan adanya krisis ekonomi yang telah melanda negeri ini
sejak tahun 1997, bahkan menjadi katup penyelamat bagi pemulihan ekonomi
bangsa karena kemampuannya memberikan sumbangan yang cukup
signifikan pada PDB maupun penyerapan tenaga kerja. Data tahun 2003
menunjukkan bahwa jumlah UMKM secara nasional ada 42,4 juta dengan
memberikan sumbangan terhadap PDB mencapai Rp 1.013,5 trillun (56,7%
dari total PDB) dan kemampuan penyerapan tenaga kerja sebesar 79 juta jiwa
(BDS LPPM UNS, 2005)
Kecenderungan kemampuan UMKM memberikan sumbangan yang
signifikan terhadap perkembangan perekonomian suatu negara tidak saja
terjadi di Indonesia dan negara-negara berkembang namun juga terjadi di
negara-negara maju pada saat-saat negara tersebut membangun kemajuan
perkonomiannya sampai sekarang. Kondisi demikian mendorong Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menetapkan tahun 2004 sebagai tahun
International microfinance. Hal ini dimasudkan tidak saja untuk menunjukkan
keberpihakkan badan dunia tersebut terhadap UMKM namun juga dalam
kerangka mendorong negara berkembang untuk lebih memberikan perhatian
pada pemberdayaan UMKM dengan cara memberikan berbagai stimulan dan
fasilitasi.
Sejalan dengan program PBB tersebut, pemerintah Indonesia
menetapkan tahun 2005 sebagai “Tahun UMKM Indonesia” dengan
melakukan berbagai instrumen dan program fasilitasi pemberdayaan UMKM di
tingkat nasional, sedangkan untuk di daerah diharapkan dilakukan oleh
pemerintah daerah.
Tulisan singkat ini bermaksud menyajikan uraian tentang dinamika
keterlibatan stakeholder UMKM, hubungan peran antar, konsep strategi
pemberdayaan UMKM dan beberapa pengalaman empiris. Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

KKN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

PENGANTAR
1. Pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) yang dirintis pelaksanaaanya sejak tahun akademik
1971/1972 di beberapa perguruan tinggi, kini telah dicoba pelaksanaannya oleh hampir seluruh
perguruan tinggi di Indonesia. Setiap perguruan tinggi pelaksana mempunyai pengalaman yang
berbeda-beda dan bisa mengambil manfaat dari tujuan yang telah ditetapkannya.
2. KKN secara umum merupakan suatu bentuk program pendidikan yang dilaksanakan oleh
perguruan tinggi dalam upayanya meningkatkan isi dan bobot pendidikan bagi mahasiswa
untuk mendapatkan nilai tambah pendidikan tinggi. KKN dilaksanakan guna meningkatkan
relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat, dengan tujuan memberi pendidikan
pelengkap bagi mahasiswa sekaligus membantu masyarakat melancarkan pembangunan di
lokasi KKN dilaksanakan.
3. KKN diselenggarakan dengan bertolak dari permasalahan nyata dalam masyarakat yang
didekati dengan menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Jadi, KKN berdimensi
luas, pragmatis dan praktis. Bagi mahasiswa peserta, KKN seharusnya dirasakan sebagai
pengalaman belajar, suatu pengalaman belajar yang tidak dapat diperoleh di dalam kampus.
Dengan mengikuti KKN mahasiswa seharusnya memiliki pengetahuan baru, perasaan baru,
kemampuan baru, dan kesadaran baru tentang problem dan bagaimana memecahkan yang
dihadapi masyarakat bangsanya, tentang tanah airnya dan tentang bagaimana seharusnya
dirinya berperan lebih jauh. Dengan demikian, melalui keikursertaan dalam KKN, akan
merupakan pengalaman belajar baru yang sangat berguna sebagai bekal sebelum menjadi
sarjana/ahli. Bagi masyarakat, dengan dilakukan KKN di tempatnya seharusnya memperoleh
peningkatan bantuan terutama sumbangan pemikiran dan dorongan untuk merubah atau
meningkatkan cara berpikir, pengetahuan, dan ketrampilannya sehingga dapat meningkatkan
potensinya dan berkembang secara mandiri.
4 .Saat ini sedang terjadi suatu proses perubahan yang sangat cepat di masyarakat kita. Krisis
ekonomi dan krisis politik yang terjadi bersamaan, serta terjadinya paksaaan terhadap
Indonesia untuk meliberalkan ekonominya, akan menimbulkan implikasi yang luas pada saat
ini dan masa depan. Dipihak lain, di masyarakat sedang terjadi gerakan dan kesadaran atas
demokratisasi yang luas, dan tuntutan pembangunan nasional yang sedang berkembang kearah
pemenuhan solusi atas isue-isue global tentang otonomi daerah, reformasi, mekanisme pasar, dan
globalisasi informasi, dengan segala perilaku budaya yang menyertainya.
5. Peran perguruan tinggi ( terutama aspek kegiatan pengabdian kepada masyarakat) harus
diarahkan untuk mampu bersama masyarakat mencari solusi atas permasalahan dan tuntutan
sejalan dengan proses perubahan tersebut. KKN sebagai salah satu kegiatan unsur sivitas
akademika harus diarahkan untuk menunjang peran perguruan tinggi tersebut secara optimal. Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

MEMILIH PENELITIAN YANG MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

PENOPANG TEORITIS RISET KUALITATIF
Apa yang dicari peneliti, bagaimana melakukan Riset dan bagaimana peneliti
menafsirkan hasil riset sangat tergantung perspeftif yang digunakan. Perspektif
fenomologi menempati kedudukan sentral dalam Riset Kuaitatif. Fenomenologi
memandang perilaku manusia, apa yang dikatakan dan dilakukan sebagai produk
bagaimana orang menafsir terhadap dunianya sendiri. Peneliti harus menangkap proses
tersebut. Untuk itu diperlukan pemahaman empatik (verstehen : istilah Weber) yaitu
merasa dalam diri orang lain atau kemampuan mereproduksi diri dalam pikiran orang,
perasaan, motif yang menjadi latar belakang kegiatannya. Fenomonologi berusaha
memahami beragam peristiwa dan interaksi manusia dalam situasi yang khusus. Ia
menekankan aspek subjektif dari perilaku untuk mengerti apa dan bagaimana makna dari
berbagai peristiwa kehidupan peristiwa mereka sehari-hari dibentuk.
Penelitian ini dimulai dengan sikap “diam” untuk bisa menangkap segala
kemungkinan dari yang sedang dipelajari. Peneliti pada mulanya tidak menganggap
dirinya telah mengetahui berbagai hal tentang orang yang sedang dipelajari.
Inilah cara menangkap realitas dimana realitas terbentuk dari interaksi sosial
(social constructed). Maka penelitian ini pertama-tama hendak mendapatkan pemahaman
mendalam atas subjek dari pandangan subjek itu sendiri. Prespektif hermeneutik juga
mendasari penelitian ini. Ia merupakan penafsiran atas penafsiran yang dilakukan pribadi
atau kelompok terhadap situasi mereka sendiri. Setiap peristiwa/karya memiliki makna
bagi pelakunya/pembuatnya. Selanjutnya pengamat-pengamat akan memberikan
interpretasi pula atasnya dan akan memberikan makna baru pula. Setiap ekspresi
mempunyai konteksnya. Untuk mengerti konteks orang harus mengerti ekspresi-ekspresi
individual. Untuk itu sebenarnya peneliti hanyalah akan melakukan interpretasi
didasarkan atas nilai-nilai, minat dan tujuannya atas interpretasi orang lain (subjek) yang
juga didasarkan atas nilai, minat dan tujuan mereka sendiri.
Peneliti haruslah tidak menganggap suatu deskripsi bersifat definitif. Ia harus
selalu menggunakan kesanggupan dan kemungkinan-kemungkinan reflektifnya.
Hubungan peneliti dengan subjek yang diteliti berupa interaksi dialektif. Dalam interaksi,
setiap pengalaman individu memungkinkan terjadinya revisi. Jadi tidak ada tafsir tunggal.
Disamping kedua prespektif tersebut, interaksi simbolik juga menunjang model penelitian
ini. Ia mengatakan bahwa pengalaman diperoleh lewat interpretasi, objek, situasi,
peristiwa, orang, hanyalah memiliki makna karena diberi secara interpretasi. Interpretasi
itu bukan kerja otonom individual tapi dilakukan dengan interaksi dengan orang lain.
Interpretasi ini penting karena akan melahirkan definisi sebagai landasan orang bertindak
atau melakukan aksi. Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »