Posts tagged BEBERAPA TEMUAN METODOLOGIS

MEMILIH PENELITIAN YANG MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

PENOPANG TEORITIS RISET KUALITATIF
Apa yang dicari peneliti, bagaimana melakukan Riset dan bagaimana peneliti
menafsirkan hasil riset sangat tergantung perspeftif yang digunakan. Perspektif
fenomologi menempati kedudukan sentral dalam Riset Kuaitatif. Fenomenologi
memandang perilaku manusia, apa yang dikatakan dan dilakukan sebagai produk
bagaimana orang menafsir terhadap dunianya sendiri. Peneliti harus menangkap proses
tersebut. Untuk itu diperlukan pemahaman empatik (verstehen : istilah Weber) yaitu
merasa dalam diri orang lain atau kemampuan mereproduksi diri dalam pikiran orang,
perasaan, motif yang menjadi latar belakang kegiatannya. Fenomonologi berusaha
memahami beragam peristiwa dan interaksi manusia dalam situasi yang khusus. Ia
menekankan aspek subjektif dari perilaku untuk mengerti apa dan bagaimana makna dari
berbagai peristiwa kehidupan peristiwa mereka sehari-hari dibentuk.
Penelitian ini dimulai dengan sikap “diam” untuk bisa menangkap segala
kemungkinan dari yang sedang dipelajari. Peneliti pada mulanya tidak menganggap
dirinya telah mengetahui berbagai hal tentang orang yang sedang dipelajari.
Inilah cara menangkap realitas dimana realitas terbentuk dari interaksi sosial
(social constructed). Maka penelitian ini pertama-tama hendak mendapatkan pemahaman
mendalam atas subjek dari pandangan subjek itu sendiri. Prespektif hermeneutik juga
mendasari penelitian ini. Ia merupakan penafsiran atas penafsiran yang dilakukan pribadi
atau kelompok terhadap situasi mereka sendiri. Setiap peristiwa/karya memiliki makna
bagi pelakunya/pembuatnya. Selanjutnya pengamat-pengamat akan memberikan
interpretasi pula atasnya dan akan memberikan makna baru pula. Setiap ekspresi
mempunyai konteksnya. Untuk mengerti konteks orang harus mengerti ekspresi-ekspresi
individual. Untuk itu sebenarnya peneliti hanyalah akan melakukan interpretasi
didasarkan atas nilai-nilai, minat dan tujuannya atas interpretasi orang lain (subjek) yang
juga didasarkan atas nilai, minat dan tujuan mereka sendiri.
Peneliti haruslah tidak menganggap suatu deskripsi bersifat definitif. Ia harus
selalu menggunakan kesanggupan dan kemungkinan-kemungkinan reflektifnya.
Hubungan peneliti dengan subjek yang diteliti berupa interaksi dialektif. Dalam interaksi,
setiap pengalaman individu memungkinkan terjadinya revisi. Jadi tidak ada tafsir tunggal.
Disamping kedua prespektif tersebut, interaksi simbolik juga menunjang model penelitian
ini. Ia mengatakan bahwa pengalaman diperoleh lewat interpretasi, objek, situasi,
peristiwa, orang, hanyalah memiliki makna karena diberi secara interpretasi. Interpretasi
itu bukan kerja otonom individual tapi dilakukan dengan interaksi dengan orang lain.
Interpretasi ini penting karena akan melahirkan definisi sebagai landasan orang bertindak
atau melakukan aksi. Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »