Posts tagged SENSUS

KONTROL UNTUK HAMA DAUN KELAPA SAWIT – SETOTHOSEA ASIGNA

Siklus Hidup dan Biologi

Ulat api jenis S. asigna merupakan salah satu jenis ulat api yang dapat menyebabkan kerusakan yang sangat serius. Hal ini disebabkan karena siklus hidup yang panjang, produksi telur yang tinggi dan daya konsumsi daun yang banyak.

Siklus hidup S. asigna antara 86 – 109 hari, dan pada musim kering yang panjang siklus hidupnya sedikit lebih pendek. Berikut diuraikan biologi masing-masing stadia.

Telur                :     Telur diletakka secara berkelompok pada permukaan       bawah anak daun arah ketepi tiap kelompok berkisar antara 33 – 111 telur. Telur akan menetas setelah 4 – 8 hari.

Larva               :      Periode larva antara 49 – 51 hari dan terbagi dalam VI – VIII instar. Pada waktu baru menetas instar I – II larva memakan epidermis bawah daun sehinga gejala yang terlihat adalah adanya strip-strip transparan berwarna putih kekuningan sampai putih coklat.

Strip-strip transparan ini dapat digunakan sebagai indikasi adanya serangan awal dan sangat bermanfaat bagi petugas sensus. Dengan bertambahnya umur larva dan meningkatnya makanan yang dikonsumsi, larva akan mulai makan dari tepi daun sehingga gejala yang terlihat adalah daun tinggal lidinya. Larva yang sudah dewasa akan turun ketanah untuk berkepompong disekitar pangkal batang, piringan dan gawangan. Biasanya larva menyukai tempat-tempat yang sedikit lembab dan tanah gembur sehingga mudah masuk kedalam tanah.

Kepompong    :      Larva yang berkepompong membentk kokon dengan     ukuran  16 x 13mm untuk jantan dan 20 x 16,5mm untuk betina. Masa kepompong ± 40 hari. Waktu akan menetas menjadi kupu-kupu kepompong berwarna coklat tua.

Kupu-kupu     :      Kupu-kupu mempunyai periode hidup yang pendek yaitu 7 hari.   Waktu yang pendek tersebut hanya digunaka untuk kawin dan bertelur dengan produksi telur antara 300 – 400 butir/induk.

Untuk lebih jelasnya silahkan klik LINK di bawah ini :

http://www.ziddu.com/download/17963037/PP6-3SensusdanApplikasiVirusPedoman4.doc.html

Iklan

Comments (3) »

PENGENDALIAN RAYAP PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PENDAHULUAN

Rayap dari jenis Coptotermes curvignathus merupakan masalah hama yang serius terutama pada perkebunan kelapa sawit di tanah gambut. Pengolahan lahan sebelum penanaman yang tidak sempurna dan kandungan bahan organik yang tersedia cukup banyak akan menyebabkan rayap berkembang secara cepat.

Pada tanaman muda, rayap akan mulai menyerang mulai dari pangkal pelepah dan naik sampai daun tombak. Serangan  rayap dapat terdeteksi   dengan adanya alur-alur  tanah berwarna  hitam basah  pada bagian  pangkal  pelepah  sampai daun tombak.  Apabila  alu-alur  itu  dirusak  makan  akan  dijumpai  rayap yang  masih aktif. Selanjutnya  rayap  akan  menyerang  jaringan  tanaman  yang  masih  muda yaitu  bagian  pangkal  daun  tombak, akibatnya  daun  muda  akan mati. Serangan rayap  pada  jaringan  muda  dapat  menyebabkan  infeksi  sekunder  oleh jamur/bakteri sehingga titik tumbuh busuk dan mati.

 POTENSI KERUSAKAN

Serangan rayap pada kelapa sawit dapat terjadi sejak penanaman sampai umur 11 tahun dengan tingkat serangan dapat mencapai 5% atau 7-8 pohon/Ha. Serangan yang tidak dilakukan pengendalian secara dini dapat menyebabkan kematian kelapa sawit. Tanaman muda pada umumnya lebih peka daripada tanaman tua. Selain dapt menyebabkab kematian pohon, serangan yang tidak dikendalikan dapat menyebar ke pohon-pohon disekelilingnya.

HABITAT RAYAP

Pada umumnya rayap hidup di hutan terutama di daerah rendahan dan daerah yang mempunyai curah hujan dengan distribusi merata. Sarang-sarang dapat dijumpai pada kayu-kayu mati yang berada diatas atau dibawah permukaan tanah. Sarang-sarang rayap tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain hingga mencapai panjang 90 m pada kedalaman 30-60 cm dibawah tanah.

Untuk lebih jelasnya silahkan klik LINK di bawah ini :

http://www.ziddu.com/download/17886363/PP6-1SeranggaRayapPedoman3.doc.html

Comments (2) »