DASAR ILMU TANAH

  1. I. PENDAHULUAN
A.     Latar belakang

Dalam dunia pertanian, tanah mempunyai peranan yang penting, tanah  sangat dibutuhkan tanaman. Dengan bertambah majunya peradaban manusia yang sejalan dengan perkembangan pertanian dan disertai perkembangan penduduk yang begitu pesat, memaksa manusia mulai menghadapi masalah-masalah tentang tanah, terutama untuk pertanian sebagai mata pencaharian pokok pada waktu itu.

Tanah adalah  akumulasi tubuh tanah alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai  akibat  pengaruh  iklim dan jasad  hidup yang  bertindak  terhadap bahan induk  dalam  keadaan  relief  tertentu  selama  jangka  waktu  tertentu  pula. Ilmu tanah sebagai ilmu pengetahuan alam yang  masih  muda,  sehingga  masih belum lengkap  untuk   menampung  semua   persoalan   teori  dan  praktek  dengan memuaskan. Untuk  membahas  ilmu ini dapat ditempuh dua jalan yang  berbeda dalam sudut pandangnya adalah :

-         Pedologi : ilmu tanah yang mempelajari tanah sebagai suatu bagian dari alam   yang berada dipermukaan bumi, yang menekankan hubungan antara tanah itu sendiri dengan faktor pembentuknya.

-         Edaphologi : ilmu tanah yang mempelajari tanah sebagai suatu alat produksi  pertanian  yaitu  yang mempelajari  tanah  sebagai  alat  dengan hubungannya  pada tanaman.

Dalam kenyatannya  sebagian besar dari tanah yang  ada  dipermukaan  bumi ini dipergunakan  sebagai  usaha  pertanian,  maka  dapat  dikatakan  bahwa tanah adalah  alat  produksi  yang  menghasilkan  berbagai  produk pertanian. Sehingga tanah   merupakan  komponen   hidup  dari  lingkungan  yang   penting,   yang dimanipulasi  untuk mempengaruhi  tanaman dengan  memperhatikan  sifat  fisik, kimia  dan  biologinya.

Sebagai  manusia  biasa  mungkin  kita  hanya  dapat  mempelajari  sedikit tentang  sifat – sifat  tanah , struktur  tanah,  tekstur  tanah  maupun  pengetahuan  tentang unsur-unsur yang terkandung dalam tanah. Tanah merupakan kendaraan  pokok bagi  kegiatan  pertanian  manusia, oleh  karena  itu adalah  sangat penting  mempelajari  ilmu  tanah  guna  menunjang kegiatan pertanian  di  masa  mendatang. Disinilah  pentingnya  membekali  kegiatan  praktikum  mengenai  ilmu  tanah bagi  mahasiswa  pertanian  yang  motabene akan menjadi generasi  yang  akan  berjuang  memajukan dunia pertanian Indonesia.

B  Tujuan Praktikum

Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah ini bertujuan yaitu :

  1. Mengetahui pencandraan bentang lahan ( morfologi lahan )
  2. Mengetahui profil tanah ( morfologi tanah )
  3. Mengetahui sifat-sifat fisika tanah.
  4. Mengetahui sifat-sifat kimia tanah.
C.     Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 4 Juni 2005, pukul  10.00 – 12.00 WIB bertempat di Desa  Sukosari, Jumantono Karanganyar .

  1. II. TINJAUAN   PUSTAKA
  1. A. Pencandraan Bentang Lahan.

Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan   relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Berdasar definisi tanah, dikenal lima macam faktor pembentuk tanah, yaitu :

1.  Iklim

2.  Kehidupan

3.  Bahan induk

4.  Topografi

5. Waktu

Dari  kelima  faktor  tersebut yang bebas  pengaruhnya adalah iklim. Oleh karena itu pembentukan tanah kering dinamakan dengan istilah asing weathering. Secara garis  besar  proses  pembentukan  tanah  dibagi  dalam  dua  tahap,  yaitu proses  pelapukan dan proses perkembangan tanah  (Darmawijaya, 1990 ).

Proses  pelapukan  adalah  berubahnya  bahan  penyusun  didalam  tanah dari  bahan  penyusun  batuan.   Sedangkan  proses  perkembangan  tanah  adalah terbentuknya  lapisan  tanah  yang  menjadi ciri, sifat, dan kemampuan yang khas dari  masing – masing  jenis tanah. Contoh  proses pelapukan adalah  hancurnya batuan  secara fisik,  sedangkan  contoh  untuk  peristiwa  perkembangan  tanah adalah terbentuknya horison tanah, latosolisasi (Darmawijaya, 1990 ).

Bentang lahan yang berbentuk atau bertopografi miring, mudah sekali tererosi sehingga untuk mengatasi erosi tersebut perlu adanya perlakuan terhadap bentang lahan tersebut diantaranya dengan :

1. Membuat pematang

Pematang harus dibuat dengan melintang dan tidak boleh  membujur  karena pematang  dapat  menahan  air  dan  mengurangi  kecepatan  aliran  sehingga      hanyutnya tanah dapat dikurangi. Pada pematang yang membujur aliran air akan bertambah cepat sehingga banyak tanah yang dibawahnya.  Pematang-pematang harus pada ketinggian yang sama atau dibuat  mendatar. Banyaknya tanggul tergantung pada miringnya tanah.

2. Membuat parit

Pada lereng yang curam dibangun parit – parit  karena  pada  lereng itu   mengalirnya air lebih cepat sehingga mungkin dapat menghancurkan pematang. Parit – parit tersebut mempunyai dua fungsi yaitu untuk  menerima  air yang   berlebihan dan  mengurangi  kecepatannya serta untuk menampung tanah-tanah  yang hanyut.

3. Membuat Teras.

Bila tanah sangat curam, perlu dibangun teras memanjang. Pada tepi teras dibuat  pematang dari tanah atau batu kali untuk menahan tanah. Hal semacam ini dibuat di perkebunan yang terletak didaerah pegunungan (Soepardi,1979).

Relief mempengaruhi pembentukan tanah yang secara langsung menyebabkan terbukanya permukaan bumi terhadap pengaruh matahari angin dan udara dan secara tidak langsung mempengaruhi drainase run-off dan erosi. Berdasarkan pengaruhnya terhadap genesa tanah, relief dapat dibedakan atas :

  1. Relief datar : permukaan tanah yang datar atau hampir datar tanpa kenampakan tanda-tanda run-off dan erosi, tetapi juga tidak menjadi tempat penggenangan air atau penimbunan bahan yang dihanyutkan.
  2. Relief miring :  permukaan tanah yang miring yang menampakkan tanda-tanda run-off yang lambat dan adanya erosi yang tersembunyi pada vegetasi lebat.
  3. Relief cekung : permukaan tanah cekung yang merupakan tempat tertimbunnya air dan bahan endapan dari semua jurusan.
  4. Relief cembung : aliran air dipermukaan tanah mengalir ke semua jurusan seolah datang dari semua pusat.
  5. Relief perbukitan : menunjukkan permukaan tanah yang berbukut-bukit, jika kecil disebut bergelombang dan jika bukitnya lebih kecil disebut berombak  ( Darmawijaya, 1990 ).

Timbulan mikro adalah bentuk tanah berskala kecil yang masih dapat lengkap diamati dalam batas-batas perbatasan pedon sebagai suatu satuan pengamatan. Bentuk-bentuk timbulan mikro adalah :

  1. Rata, dimana tidak ada benda yang lebih tinggi.
  2. Berlipatan, yaitu bentuk pematang dan alur silih berganti, saling sejajar
  3. berarah ke satu tujuan atau jurusan tertentu.
  4. Keriput, karena ketinggian dan kerendahan relatif rapat dan tak beraturan.
  5. Gilgai, yaitu apabila longgok atau onggok dan lekukan bertebaran tidak rapat dengan garis asosiasi tidak menentu. Hal ini ditimbulkan oleh pengerutan dan pembengkakan lempung yang kuat sesuai ayunan lengas tanah.
  6. Biogen, yaitu kemanpakan khas hasil kegiatan jasad  penghuni tanah.
  7. Antropogen, yaitu kenampakan khas karena kegiatan penggunaan tanah.

Kemas muka tanah adalah pola hubungan antar butir atau gumpal tanah satu sama lain yang menampakkan pada muka pencandraan.

Erosi dapat juga disebut pengikisan atau kelongsoran sesungguhnya merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan atau kekuatan air dan angin baik yang berlangsung secara alami maupun sebagai akibat tindakan manusia. Erosi merupakan bentuk dan taraf ( Kartasapoetra,1987 ).

Tanah merupakan hasil evolusi dan susunan yang teratur dan unik yang terdiri dari lapisan-lapisan dan horison-horison yang berkembang secara genetik.  Proses pembentukan  dan  perkembangan tanah  dapat  dilihat  dari penambahan, pengurangan dan perubahan  atau  translokasi. Tanaman dan hewan memperoleh lingkungan pada semua jenis  tanah.  Menjadi bagian dari  bahan organik adalah bagian yang digunakan dalam proses translokasi dari suatu tempat ke tempat lain dalam tanah dengan perantara air dan aktivitas hewan ( Henry, 1988 ).

B.     Penyelidikan Profil Tanah

Pada suatu  profil tanah yang lengkap, dapat kita lihat beberapa lapisan yang membentuk  tanah.  Dan  lapisan – lapisan  tersebut pada  beberapa macam tanah dikenal  sebagai  horison  genesa  tanah   (  lapisan  yang  terbentuk  di tempat itu sehubungan  dengan  berlangsungnya  proses  perombakan  bahan  induk  tanah ).

Adanya lapisan – lapisan di dalam tanah ini  karena  berlangsungnya  perombakan atau tingkat  perkembangan yang merupakan hasil perombakan yang tidak sama. Lain   halnya  dengan  tanah  yang  tergolong  Entisol,   disini   lapisan – lapisan merupakan hasil penimbunan bahan yang berasal dari tempat lain. Lapisan- lapisan yang terbentuk sebagaimana kita lihat pada profil tanah dapat dikatakan tidak selamanya tegas dan nyata sehingga kerap kali batas-batasnya agak kabur dan kejadian demikian akan meyulitkan peneliti  ( Foth, 1991 ).

Profil tanah adalah penampang melintang ( vertikal ) tanah yang terdiri dari lapisan tanah ( solum ) dan lapisan bahan induk. Solum tanah adalah bagian dari profil tanah yang terbentuk  akibat proses pembentukan tanah ( horison A dan B ) ( Hardjowigeno, 1993 ).

Proses  pembentukan  tanah  akan menghasilkan  benda  alami  yang  disebut tanah. Penampang  vertikal tanah  tersebut  menunjukkan  susunan  horison  yang  disebut profil tanah.  Sedangkan  horison-horison di atas bahan induk seluruhnya disebut  solum.  Tiap  tanah  berkembang  dengan  baik  dan  masih  keadaan  asli mempunyai sifat-sifat profil yang khas. Sifat-sifat ini digunakan dalam klasifikasi dan penjajagan ( survey ) tanah dan sangat besar manfaatnya. Untuk menentukan pendapat tentang tanah, sifat-sifat profil perlu diperhatikan sebagai pertimbangan (Buckman, 1982 ).

Solum  menggambarkan   suatu  kedalaman  dibawah  permukaan  walaupun tidak  begitu  pasti. Tanah  didaerah  sedang memiliki kedalaman beberapa meter, dalam hal ini yang perlu diperhatikan  adalah  perubahan  dibawah  sub  soil yang  berangsur – angsur  bercampur  dengan  bagian  regolit  yang  kurang  mengalami suatu pelapukan. Bagian regolit dinamakan bahan induk untuk bisa membedakan dengan  lapisan yang  ada  diatasnya. Bahan induk ini mengalami pelapukan  dan bagian yang atas akan menjadi sub soil, sedangkan bagian bawah tergolong bagian yang disebut solum ( Buckman, 1982 ).

Lapisan atas profil tanah biasanya cukup banyak mengandung bahan organik dan biasanya berwarna gelap karena penimbunan (akumulasi   bahan  organik tersebut. Lapisan dengan ciri-ciri demikian sudah umum dianggap sebagai daerah ( zone ) utama  penimbunan bahan organik yang  disebut  tanah  atas  atau  tanah olah.  Sub  soil  adalah  tanah  dibagian  bawahnya,   yang  mengalami  cukup pelapukan, mengandung sedikit bahan organik. Lapisan organik yang berlainan itu terutama dalam tanah yang sudah mengalami pelapukan mendalam di daerah lembab  ( Buckman, 1982 ).

Tanah itu biasanya ada beberapa lapisan, akan tetapi dalam garis besar lapisan tanah itu dibagi menjadi empat yaitu :

1. Lapisan tanah atas

Lapisan  ini tebalnya 10 – 30 cm, warnanya coklat sampai kehitam-hitaman, lebih gembur yang biasanya disebut tanah pertanian. Lapisan ini merupakan tempat pertumbuhan tanaman yang utama. Di sini hidup dan berkembangbiak semua jasad hidup tanah dan merupakanlapisan tanah yang tersubur.

2. Lapisan bahan induk tanah

Lapisan ini mencolok warnanya, yaitu kemerah-merahan atau kelabu keputih-putihan. Lapisan ini disebut lapisan bahaninduk tanah karena merupakan asal  atau induk dari lapisan tanah bawah. Lapisan ini dapat pecah dan dirubah dengan   mudah tetapi sukar ditembus akar.

3. Lapisan Mineral

Pada lapisan ini terkandung berbagai bahan mineral.

4. Lapisan batuan induk

Lapisan ini masih merupakan batuan pejal, belum mengalami proses pemecahan. Inilah merupakan bahan induk tanah yang mengalami perubahan beberapa proses dalam waktu yang cukup lama. Batuan ini jauh lebih dalam maka jarang kelihatan pada permukaan tanah. Tidak semua susunan tanah itu seperti apa yang telah diuraikan diatas  ( Yutono, 1983 ).

Tanah itu pada berbagai tempat tebalnya tidak sama, tergantung dari letak tanah itu sendiri. Tanah yang baik untuk pertanian adalah tanah yang terletak didaerah lembah, sedang dilereng-lereng akan tampak lapisan bahan induk tanah  atau lapisan batuan induk.

Terjadinya tanah dari batuan induk menjadi bahan induk tanah yang berangsur-angsur menjadi lapisan bawah yang akhirnya membentuk lapisan  tanah atas dimana memerlukan waktu yang lama bahkan berabad-abad. Adapun yang. menyebabkan batuan induk itu menjadi lapisan tanah yang baik karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu : air, udara, tumbuh-tumbuhan, jasad hidup lain yang ada ditanah dan iklim  (Sugiman, 1982 ).

Profil tanah yang akan diamati, ciri-cirinya harus memenuhi syarat-syarat:  tegak ( vertikal ), baru artinya belum terpengaruh keadan luar, dan juga tidak memantulkan cahaya ( profil tanah pada waktu pengamatan tidak langsung  terkena sinar matahari ). Pengamatan dimulai dengan pengukuran dalamnya dari batas-batas horison dapat diketahui. Masing-masing horison dibedakan dari horison yang diatas atau dibawahnyaoleh ciri-ciri yang spesifik dan genetis.

Meskipun didalam menguraikan suatu profil tanah tidak mutlak, perlu memberi nama masing-masing horison. Pada garis besarnya horison-horison dapat dibedakan atas horison  organik O dan horison mineral  A,  B,  C  dan  R ( Darmawijaya, 1990 ).

C.     Sifat-Sifat Fisika Tanah

Dalam menilai kesuburan suatu tanah maka sifat fisika tanah mempunyai peranan yang penting disamping sifat kimia. Sifat-sifat fisika itu yaitu tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah, warna tanah, temperatur tanah, tata air dan udara tanah. Sifat-sifat fisika ini bisa berubah dengan adanya pengolahan tanah. Dengan pengolahan tanah ini strukturnya menjadi baik sehingga akan membantu berfungsinya faktor pertumbuhan tanaman secara optimal  ( Sarief, 1979 ).

Struktur tanah merupakan susunan  ikat an partikel  tanah  satu  sama  lain. Ikatan  tanah  berbentuk  sebagai  agregat  tanah.  Apabila  syarat  agregat  tanah terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar  disebut  ped,  sedangkan ikatan  yang  merupakan  gumpalan  tanah  yang  sudah   terbentuk  akibat penggarapan  tanah  disebut  clod.  Untuk  mendapatkan  struktur tanah yang baik dan valid  harus  dengan  melakukan  kegiatan  dilapangan,  sedang laboratorium elatif  sukar  terutama  dalam  mempertahankan  keasliannya  dari bentuk agregatnya. Pengamatan dilapangan pada umumnya didasarkan atas type struktur, klas struktur dan derajat struktur. Ada macam-macam tipe tanah dan pembagian menjadi bermacam-macam klas pula. Di sini akan dibagi menjadi 7 type tanah yaitu : type lempeng ( platy ), type tiang, type gumpal ( blocky ), type remah ( crumb ), type granulair, type butir tunggal dan type pejal ( masif ). Dengan pembagian klas yaitu dengan fase sangat halus, halus, sedang, kasar dan  sangat kasar. Untuk semua type tanah  dengan ukuran klas berbeda-beda untuk masing-masing type. Berdasarkan tegas dan tidaknya agregat tanah dibedakan atas : tanah tidak beragregat dengan struktur pejal atau berbutir tunggal, tanah lemah ( weak ) yaitu tanah yang jika tersinggung  mudah pecah menjadi pecahan-pecahan yang masih dapat terbagi lagi menjadi sangat lemah dan agak lemah tanah sedang/cukup yaitu tanah  berbentuk agregat yang jelas yang masih dapat dipecahkan, tanah kuat ( strong ) yaitu tanah yang telah membentuk agregat yang tahan lama dan jika dipecah terasa ada tahanan serta dibedakan lagi atas sangat kuat dan cukupan  (Baver, 1961 ).

Tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan tekstur tanah, tanah    pasir biasanya tak lekat, tak liat serta tak lepas. Akan tetapi tanah lempung berat  berkonsistensi sangat lekat, sangat liat, sangat teguh dan keras. Analisis konsistensi dapat dilakukan dengan meletakkan tanah diatas ibu jari dan telunjuk  dalam genggaman tangan tergantung dari kelengasan tanah. Khusus tanah yang  dalam keadaan basah ini dapat diamati dengan kelekatan dan kekenyalan berbeda dengan tanah kering ( Darmawijaya, 1990 ).

Dinamika bahan organik ditentukan oleh pemasukan sisa – sisa nabati dan hewani secara sinambung dan pngalihragamannya secara sinambung pula oleh faktor biologi sebagai penindak utama dan sampai batas tertentu juga oleh faktor-faktor kimia dan fisik (Kononova, 1966)

Umumnya bahan organik memberikan warna kelam, semakin stabil bahan organik maka warnanya kan semakin tua. Humus yang paling stabil mempunyai warna hitam, warna merah dapat menunjukkan tanah yang telah lanjut mengalami perkembangan yang intensif, misalnya tanah latosol. Warna

kuning sebagian besar disebabkan oleh adanya oksida besi. Tanah warna coklat berarti banyak dalam mengandung oksida besi yang tercampur bahan organik. Warna kelabu disebabkan oleh kuarsa, kaolin, dan mineral lempung, karbonat Ca dan Mg, gibs serta macam garam serta senyawa ferro. Tanah yang kelabu menandakan  gejala gleisasi dimana Fe terbentuk ferro. Tanah yang drainasenya buruk hampir selalu terdapat bercak-bercak kelabu, coklat, merah dan kuning, warna putih terjadi karena pengaruh bahan induk. Hampir setiap horison menunjukkan warna yang berbeda, warna reduksi dan bercak menunjukkan adanya bahwa drainase yang terjadi buruk ( Darmawijaya, 1990

Untuk menentukan warna tanah menggunakan patokan yaitu Munsell Soil

Colour Chart, yang terdiri dari kartu yang berbeda warna spektrum. Cara menentukan warna tanah adalah dengan membandingkan warna sampel dengan warna pembanding dalam kartu. Kesukaran yang timbul dari cara ini adalah :

  1. Dalam memilih kartu Hue yang cocok dengan warna tanah.
  2. Membedakan chroma dan value yang tepat.
  3. Bersifat subjektif tergantung pengamat ( Darmawijaya, 1990 ).

Salah satu sifat fisika tanah yang secara langsung dapat dilihat dengan mata telanjang yaitu warna tanah. Warna tanah adalah merupakan campuran dari warna abu-abu, coklat dan komponen warna lainnya yang terjadi oleh adanya pengaruh berbagai faktor atau senyawa tunggal atau bersama memberikan jenis warna tertentu. Warna tanah yang dominan bukan warna-warna tanh yang murni tetapi sudah merupakan campuran dari warna abu-abu, coklat dan warna seperti karat. Warna hijau atau biru yang murni tidak dijumpai pada tanah, sedang dua warna atau lebih yang terjadi pada suatu bidang permukaan atau tempat tertentu disebut becak-becak ( nottling ). Warna tanah dipengaruhi oleh kondisi atau sifat tanah lainnya melalui pengaruhnya atas radiasi dari energi sinar matahari. Warna yang semakin hitam atau semakin gelap akan lebih banyak menyerap panas dari sinar matahari dari pada warna tanah yang terang. Sejumlah energi panas yang terdapat dalam tanah mengakibatkan tingkat evaporasi yang tinggi, sehingga tanah yang semakin gelap akan lebih cepat mengering dibanding warna yang

lebih muda. Temperatur tanag dipengaruhi oleh warna tanah dan akan berpengaruh pada pertumbuhan  tanaman dan aktifitas jasad renik serta struktur tanah. Jadi dengan adanya warna tanah secara tidak langsung berpengruh pada pertumbuhan tanaman dan jasad renik. Selain itu warna tanah secara langsung dapat dipakai untuk menentukan tingkat pelapukan, menilai kandungan bahan organik, menilai keadaan pembuangan air, melihat adanya horison pencucian dan horison pengendapan serta untuk dapat menaksir kandungan mineral. warna tanah yang semakin merah menunjukkan  tingkat pelapukan semakin lanjut. Tanah yang semakin gelap warnanya akan semakin banyak kandungan bahan organiknya. Warna kuning, coklat, atau merah menunjukkan drainase baik, sedang warna kelabu kebiruan atau bercak-bercak menunjukkan drainase jelek. Warna putih atau pucat menunjukkan horison pengendapan ( akumulasi ) bahan dari horison diatasnya. Warna pucat atau kekuningan ini menunjukkan berasal dari mineral kuarsa, sedang warna merah menunjukkan berasal dari mineral mengandung besi ( Soepardi, 1983 ).

D.    Sifat-Sifat Kimia Tanah

Sejumlah proses tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah laju dekomposisi mineral tanah dan bahan organik dipengaruhi oleh reaksi tanah. Pembentukan tanaman juga dipengaruhi oleh reaksi asam basa dalam tanah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh tidak langsung terhadap tanaman adalah pengaruh terhadap kelarutan dan ketersediaan hara tanaman. Pengaruh secara langsung ion H+ dilaporkan mempunyai pengaruh beracun terhadap tanaman jika terdapat dalam konsentrasi yang tinggi ( Tan, 1991 ).

Pengujian PH tanah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan menggunakan kertas lakmus, dengan menggunakan kertas indikator universal dan dengan alat PH dilaboratorium dapat menggunakan PH meter Beckman H5 ( Kuswandi, 1993 ).

Ion H+ dalam tanah dapat berada dalam keadaan terjerap. Ion H+ yang terjerap menentukan kemasaman aktif atau aktual kemasaman potensial dan aktual secara bersama menentukan kemasaman total. pH yang diukur pada suspensi tanah dalam larutan garam netral (misal KCl) menunjukan kemasaman total oleh karena K+ dapat melepaskan H+ yang terjerap dengan mekanisme pertukaran (Notohadiprawiro, 1998)

Binatang biasanya dianggap sebagai penyumbang sekunder setelah tumbuhan. Mereka akan menggunakan bahan ini atau bahan organik sebagai sumber energi. Bentuk kehidupan tertentu terutama cacing tanah, sentripoda atau semut memainkan peranan penting dalam pemindahan sisa tanaman dari permukaan ke dalam tanah ( Soepardi, 1983 ).

Bahan kapur pertanian ada tiga macam, yaitu CaCO3 atau CaMg(CO3)2, CaO atau MgO dan Ca(OH)2. Kapur yang disarankan adalah CaCO3 atau CaMg(CO3)2 yang digiling dengan kehalusan 100 % melewati saringan 20 mesh dan 50 % melewati saringan80 – 100 mesh.

Pemberian kapur dapat menaikkan kadar Ca dan beberapa hara lainnya, serta menurunkan Al dan kejenuhan Al, juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemberian kapur yang menyebabkan sifat dan ciri tanah membaik, meningkatkan produksi tanaman ( padi, jagung, kedelai )

( Bailey, 1986 ).

Penentuan PH tanah dapat ditentukan secara kalorimetrik dan elektrometrik baik dilaboratorium ataupun dilapangan. Elektrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan PH meter Backman, sedangkan kalorimetrik dapat ditentukan dengan suatu alat atau menggunakan kertas PH, pasta PH dan larutan universal. Penentuan car terakhir umumnya lebih murah tetapi peka terhadap pengaruh dari luar. Pada prinsipnya dikerjakan dengan membandingkan warna larutan tanah dengan warna larutan standart dari kertas, pasta dan larutan indikator universal ( Darmawijaya, 1990 ).

Perilaku kimia tanah dapat ditafsirkan sebagai keseluruhan reaksi fotokimia dan kimia yang berlangsung  antar penyusun tanah dan bahan yang ditambahkan kepada tanah insitu. Faktor kelajuan semua reaksi kimia  yang berlangsung dalam tanah berentangan sangat lebar, antara yang sangat singkat berhitungan menit ( reaksi serapan tertentu ) dan yang luar biasa berhitung abad ( reaksi yang berkaitan dengan pembentukan tanah ). Reaksi-reaksi tanah diimbas oleh tindakan faktor lingkungan tertentu                                      ( Notohadiprawiro,1998 )

  1. III. ALAT, BAHAN dan CARA KERJA
  1. Pencandraan Bentang Lahan
    1. Bentang lahan.
    2. Tanah.
    3. Klinometer
    4. Kompas
    5. Rollmeter
    6. Altimeter
    7. Profil Tanah
      1. Penampang vertikal tanah.
      2. Cangkul
      3. Belati
      4. Rollmeter
      5. Sifat-Sifat Fisika tanah
        1. Tanah dengan horison-horisonnya.
        2. Air ( Aquades )
        3. Buku “ Munsell Soil Color Chart “
        4. Penetrometer
        5. Lup
      6. Sifat-Sifat Kimia Tanah
        1. Sampel tanah tiap horison
        2. Akuades ( H2O )
  1. Bahan
  1. Alat
  1. Bahan
  1. Alat
  1. Bahan
  1. Alat
  1. Bahan
  1. KCl
  2. H2O2 10 % dan  3 %
  3. HCl  10 %
  4. KCNS  10 %
  5. K3Fe(CN)5 0,5 %
  6. Kertas marga
  7. Flakon  15  buah
  8. Pipet
  9. pH meter  /  pH  stick
  10. Pengaduk
  11. Kertas saring
  1. Alat

CARA   KERJA

A.     Pencandraan Bentang Lahan
B.     Menentukan Profil Tanah
C.     Sifat-Sifat Fisika Tanah
  1. Menentukan tekstur tanah.
Merasakan penyusun tanah apabila kasar maka pasir, lekat licin lempung, licin debu.
  1. Menentukan struktur tanah.
  1. Konsistensi tanah.
  1. Warna tanah

5.  Mengamati aerasi dan drainase tanah.

Kemudian bandingkan warna yang paling dominan.
  1. D. Menentukan Sifat Kimia Tanah.
  1. Pengamatan pH tanah.
  1. Pengamatan Bahan Organik Tanah.
  1. Pengamatan konkresi Mn dalam tanah.
  1. Pengamatan adanya CaCO3 dalam tanah.

DAFTAR   ISI

  1. IV. HASIL PENGAMATAN

A.     Pencandraan Bentang Lahan

Daerah / Lokasi : Desa Sukasari, Jumantono

Tanggal               : 4 Juni 2005

No Profil             : V

Tinggi Tempat      : 240 m dpl

Tabel 1.1 Deskripsi Lingkungan

No. Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

Kemiringan

*Kucera, 1988

Relief

Kemas Muka Tanah

Timbunan Mikro

Batuan Permukaan

Batuan Singkapan

Genangan

Banjir

Pengunaan Lahan

Erosi

Bentuk

Tingkat

Land Form

Fisiologi Lahan

Geologi

Bahan Induk

Vegetasi

8 – 15 %

Miring

Bergelombang

Licin

Antropogen

< 0,01 % (Tidak Berbatu)

0 % (Tidak Ada)

Bebas

Tanpa

Tegal

Alur

Ringan

Vulkanik (v)

Lahan bergelombang antara pegunungan Vulkanik dan Sungai

Formasi Vulkanik

Batuan Vulkanik

Ketela Pohon, Mangga, kacang panjang

Sumber : Laporan Sementara

Tabel 1.2 Klasifikasi Tanah

No. Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

PPT

FAO Unesco

Soil Taxonomy

Latosol

Ferassol

Alfisol

Sumber : Laporan Sementara

B.     Penyidikan Profil Tanah

Tabel 1.3 Penyidikan Profil Tanah

No. Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Jeluk mempan atau Solum Tanah

Kedalamam regolit

Gleisasi

Ketegasan batas horizon

  1. Lap I dan Lap II
  2. Lap II dan Lap III
  3. Lap III dan Lap IV

Bentuk Batas Horizon

  1. I dan II
  2. II dan III
  3. III dan IV

Perakaran

a. Jumlah

Lapisan I

Lapisan II

Lapisan III

Lapisan IV

b. Ukuran

Lapisan I

Lapisan II

Lapisan III

Lapisan IV

> 90 cm (dalam)

> 200 cm (sangat dalam)

Bebas

Jelas

Baur

Jelas

Bergelombang

Baur

Rata Miring

Sangat Banyak

Banyak

Cukup Banyak

Sedikit

Halus

Sedang

Kasar

Kasar

Sumber : Laporan Sementara

C.     Sifat-Sifat Fisika Tanah

Tabel 1.3. Sifat Fisika Tanah

No Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Sumber Laporan Sementara

7.

Tekstur Tanah

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Struktur Tanah

  1. Tipe

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

  1. Ukuran

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

  1. Derajat

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

Konsistensi

c.   Kering

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

Warna

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Aerasi Draenasi

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Permebilitas

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Penetrometer

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV
Cl (Clay Loam)

Cl (Clay Loam)

Sc (Shandy Clay)

Sc (Shandy Clay)

Crumb

Sub Angular Blocky

Angular Blocky

Angular Blocky

Halus

Sedang

Kasar

Kasar

Lemah

Sedang

Kuat

Kuat

Lunak

Agak Keras

Keras

Sangat Keras

7,5 YR 5/3 (Brown)

7,5 YR 4/6 (Strong Brown)

7,5 YR 4/4 (Brown)

7,5 YR 3/4 (Dark Brown)

Jelek

Jelek

Sedang

Agak Baik

Cepat

Cepat

Agak Cepat

Agak Cepat

2,5 kgf/cm2

3,8 kgf/cm2

4,5 kgf/cm2

4,5 kgf/cm2

D.     Sifat-sifat Kimia Tanah

Tabel 1.4 Sifat Kimia Tanah

No. Deskripsi Keterangan
1.

2.

3.

4.

Kemasaman

a. pH H2O

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

b. pH KCl

1).    Lapisan I

2).    Lapisan II

3).    Lapisan III

4).    Lapisan IV

Bahan Organik

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Kapur CaCO3

  1. Lapisan I
  2. Lapisan II
  3. Lapisan III
  4. Lapisan IV

Konkresi Mn

  1. Letak
  2. Jenis
  3. Ukuran
  4. Kelimpahan
5

5

5 – 6

5 – 6

5

5

5 – 6

6

Sangat Tinggi

Tinggi

Cukup Tinggi

Sedang

Nihil

Sedang

Sedang

Nihil

Sangat Tinggi

Tinggi

Cukup Tinggi

Sedang

Sumber : Laporan Sementara

Gambar 1.1 Penampang tegak profil tanah di daerah sukosari

  1. V. PEMBAHASAN
A.     Deskripsi Lingkungan

Deskripsi Lingkungan merupakan usaha untuk mendeskipsikan keadaan daerah daerah yang diamati. Hal-hal yang perlu diamati dalam pendeskripsian lingkungan meliputi fisiografis, geologi, bahan induk, vegetasi, timbunan mikro, batuan permukaan, batuan singkapan, genangan, banjir, pengunaan lahan, dan land form.

Fisiografi adalah deskripsi tentang genesis dan evaluasi bentuk wilayah yang dipandang dari faktor dan proses pembentukannya.  Dalam hal ini fisiografi di Desa Sukasari Kecamatan Jumantono merupakan lahan bergelombang diantara pegunungan vulkanik dan aktifitas fluvial (sungai).

Geologi adalah kondisi formasi batuan yang terdapat dalam tanah. Kegunaan geologi adalah menaksir kesuburan yang terbentuk dari pelapukan batuan induknya. Dari hasil pengamatan di lapangan diperoleh hasil bahan induk adalah batuan vulkanik dan termasuk formasi vulkanik karena masih berada dalam aktifitas gunung api yaitu gunung lawu.

Timbulan makro adalah bentuk muka tanah berskala kecil yang masih lengkap diamati dalam arti dalam batas-batas perbatasan profil. Timbulan makro yang tampak adalah sengkedan dengan kemiringan 8 – 15 %, sedangkan timbulan mikronya berupa antrhopogen karena telah dipengaruhi kegiatan kemanusiaan. Hal ini ditandai dengan adanya vegetasi yang tumbuh didaerah tersebut seperti ketela pohon mangga dan kacang panjang.

Kemas Muka tanah adalah pola hubungan antara butir atau gumpalan tanah yang satu dengan tanah yang lain yang nampak pada permukaan tanah. Didaerah penelitian kemas muka tanah termasuk kategori licin, hal ini ditanda dengan tidak ditemukkannya retakan yang terjadi.

Batuan permukaan didaerah jumantono termasuk tidak berbatu dengan porsentase < 0,01 sehingga didaerah jumantono ini juga tidak ditemukan batuan singkapan.

Erosi adalah pengikisan atau kelongsoran tanah oleh desakkan atau kekuatan air dan angin baik yang berlangsung secara alamiah atau sebagai akibat tindakan manusia, dari hasil pengamatan diketahui bahwa erosi yang terjadi adalah erosi alur dengan tingkat yang ringan.

Hasil pengamatan hidrologi menunjukan bahwa lahan penghamatan bebas dari banjir sehingga tidak ada genangan air pada lahan pengamatan, sehingga lahan pertanian yang digunakkan adalah system tegalan.

Sementara itu untuk land form dari hasil penelitian menunjukan bahwa lahan yang digunakan untuk penelitian merupakan lahan volkanik (V) yaitu bentuk lahan yang dipengaruhi aktivitasi gunung api dalam hal ini gunung lawu. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa klasifikasi tanah lahan penelitian di daerah Jumantono menurut PPT adalah Latosol, menurut FAO Unesco adalah Ferrasol sedangkan untuk ukuran Soil Taxonomy adalah Alfisol.

B.     Penyidikan Profil Tanah

Profil tanah merupakan penampang vertikal tanah yang terdiri dari lapisan solum  dan lapisan bahan induk. Profil tanah yang kami amati memiliki ukuran panajang 150 cm dan lebar 150 cm. Adapun pembuatan profil tanah harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  • Membuat penampang melintang tanah secara Vertikal pada tanah yang diusahakan alami atau belum mengalami perubahan akibat ulah manusia.
  • Kedalaman penampang setidaknya + 100 cm dengan tidak terkena sinar matahari langsung.
  • Tiap kali pengamatan harus dalam keadaan baru, yaitu dengan cara mengerupus dengan cangkul.

Untuk menentukan batas lapisan tanah ada tiga cara yaitu dengan melihat langsung perbedaan warnanya, dengan menusuk-menusuk dan memukul – mukul tanah dengan gagang pisau. Dari hadil identifikasi diperoleh ternyata profil V memiliki empat lapisan dengan ketegasan tanah profil I dan profil II jelas, untuk lapisan II dan lapisan III baur, dan untuk lapisan III dan lapisan IV jelas sedangkan untuk untuk batas lapisannya lapisan I dan lapisan II gelombang, lapisan II dan III berombak III dan IV berbentuk rata miring.

Gleisasi adalah kondisi dimana tanah telah mengallami penggenangan atau jenih air sehingga suasana lebih reduktif. Di daerah penelitian yang diamati  mempunyai gleisasi bebas hal ini disebabkan karena keadaan rea praktikum tidak tergenang air sehingga bahan berupa tegal dengan kedalaman > 20m  atau > 200 cm sehingga tergolong kedalaman regolit sangat dalam.

Adapun perakaran pada masing-masing lapisan tanah yaitu lapisan I mempunyai jumlah perakaran sangat banyak dengan ukuran halus, pada lapisan II mempunyai jumlah perakaran banyak dengan ukuran sedang, pada lapisan III  perakaran cukup banyak dengan ukuran kasar dan pada lapisan IV perakaran sedikit dengan ukuran kasar. Semakin dalam lapisan maka semakin sedikit jumlah perakarannya. Banyak sedikitnya jumlah perakaran bergantung pada adanya kondisi udara air zat hara dalam tanah selain itu kondisi perakaran juga berkaitan dengan konsistensi tanah.

C.     Sifat Fisika Tanah

Sifat fisika tanah adalah sifat yang data dilihat secara fisik antara lain stuktur tanah, konsistensi, warna, aerasi dan drainasi, permibilitas dan penetrometer.

Tektur tanah merupakan perbandingan relatif tiga fraksi – fraksi tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara farksi liat, debu dan pasir. Pengamatan tekstur tanah dengan mengunakan indera perasa yaitu dengan membasahi sedikitkemudia tanah dibentuk bola dengan dikepal- kepal jika tidak dapat berarti termasuk golongan pasir. Setelah itu tanah dibentuk pita ditekan-tekan ibu jari dan telunjukpabila tidak dapat termasuk pasir geluh, jika dapat maka termasuk kelas geluh (<2,5 cm), (2,5 – 5 cm) lempeng bergeluh, (> 5 cm) kelas lempung. Dari hasil pengamatan lapang diperoleh hasil yaitu pada lapisan I dan lapisan II memiliki tekstur Clay Loam (Geluh Berlempung) dan pada lapisan III dan lapisan IV memiliki tekstur Sandy Clay (lempung bergeluh). Tekstur tanah menentukan tata air tanah berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi dan kemampuan pengikatan air tanah. Semakin liat tekstur tanah maka semakin semkin lambat dalam proses penyerapan air, begitu pula sebaliknya semakin tinggi persentase pasir maka semakin besar pori daiantara partikel-partikel tanah sehingga semakin memperlancar gerakan udara.

Cara menentukan struktur tanah ialah dengan mengambil gumpala tanah, dipecah dengan jari pecahan tersebut merupakan agregat kemidian ditentukan tipe ukuran dan derajat. Tipe berarti bentuk dan susunan agregat sedangkan derajat adalah menentukan lamanya agregat. Dari hasil pengamatan diperoleh struktur tanah pada lapisan I bertipe crumb dengan ukuran halus dan derajat lemah, lapisan II bertipe sub angular dengan ukuran halus dan derajat sedang sdangkan lapisan III dan lapisan IV memiliki tipe yang sama yaitu angular blocky dengan ukuran kasardan derajat halus.

Konsistensi tanah adalah ketahanan tanah terhadap pertumbuhan bentuk atau perpecahan, keadaan ini ditentukan oleh sifat kohesi dan adhesi. Cara menetukan konsistensi tanah yaitu dengan meremas memijit atau menekan tanah dalam berbagai kandungan seperti basah lembab dan kering diantara ibu jari dan telunjuk. Pengamatan disesuaikan kondisi lapangan sebenarnya apakah basah, lembab, kering. Pengamatan disesuaikan kondisi lapangan sebelumnya dimana kondisi lapangan kering pada lapisan I diperoleh hasil lunak, lapisan II agak keras, lapisan III keras, lapisan IV sangat keras hal ini dikarenakan tahan terhadap tekanan dan mudah dipatahkan dengan tangan.

Sifat fisik yang paling jelas dan yang paling mudah ditentukan adalah warna tanah dimana warna tanah dapat digunakan untuk

  1. Menaksir tingkat kesuburan
  2. Menentukan Jenis dan kadar BO
  3. Keadaan aerasi dan draenasi
  4. Tingkat perkembangan tanah
  5. Kadar air tanah dan adanya bahan-bahan tertentu.

Warna tanah ditentukan oleh Munsell Sort Colour Chart (MSCC), warna tanah dalam MSCC dinyatakan dalam 3 satuan yaitu hue, value, dan chroma. Dalam pembentukan warna tanah perlu diperhatiakan

    1. Tanah harus lembab
    2. Terlindung dari Sinar Matahari
    3. Tanah ditaruh dilubang kertas MSCC
    4. Tanah tidak boleh mengkilap kecuali pada warna bidang struktur.

Untuk Lapisan I mempunyai warna 7,5 YR 5/4 (brown) dengan kata lain memmiliki Hue 7,5 YR; Value 5/; dan Chroma /4. Lapisan II mempunyai warna 7,5 YR 4/6 (Strong brown) dengan kata lain Hue 7,5 YR; Value 4/; dan Chroma /6. Lapisan III mempunyai warna 7,5 YR 4/4 (brown) dengan memiliki Hue 7,5 YR; Value 4/; dan Chroma /4. Lapisan IV mempunyai warna 7,5 YR 3/4 (Dark Brown) dengan Hue 7,5 YR; Value 3/; dan Chroma /4.

Aerase dan draenase merupakan sifat tanah yang erat kaitannya dengan kemampuan tanah dalam penyediaan air dan udara. Drainase menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lama dan seringnya jenis air. Untuk pengamatan digunakan reagen KCNS dan K3Fe (CN)6. Dalam bereaksi dengan KCNS akan terbentuk warna merah, sedangkan reaksi dengan K4Fe(CN)6 akan membentuk warna biru. Apabila warna merah lebih dominan dibandingkan warna biru, berarti aerase dan draenasenya baik, begitu pula sebaliknya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pada lapisan I dan II mempunyai aerasi dan draenasi jelek, lalu pada lapisan III memiliki aersi dan draenase sedang dan yang terakhir pada lapisan IV memiliki aerase dan draenase agak baik.

Permebilitas tanah adalah lewatnya air tanah di dalam profil tanah setelah melewati proses inflrasi dari air hujan yang jatuh ke bumi atau air dari sumber lain. Permebilitas sangat dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Tanah dengan kandungan lempung tinggi akan menyebabkan permebilitas terhambat dan bila berpasir justu sebaliknya permebilitas yang didapatkan dari hasil pengamatan lapisan I dan II memiliki permebilitas cepat, sedangkan untuk lapisan III dan IV memiliki tingkat permiabilitas yang agak cepat, hal ini di karenakan kandungan lempung lebih banyak dari lapisan I dan Lapisan II.

Uji penetrometer atau uji kekerasan tanah digunakan sebagai alat untuk mengetahui daya mekanik/topang tanah. Caranya dengan mula-mula cincin geser pembaca daya topang digeser ke belakang sampai patok (terbaca 0). Batang tusuk kemudian ditusukkan ke dalam tanah secara tegak hingga ujungnya masuk sedalam tanda batas. Pada waktu ditusukkan inilah cincin geser pembaca terdorong ke depan dan terhenti pada saat penusukan juga terhenti. Makin keras tanahnya, cincin geser pembaca makin jauh teredorong ke depan. Satuan yang digunakan adalah kgf/cm2. Dari hasil pengamatan dilapangan didapatkan data bahwa pada lapisan I uji penetrmeternya 2,5 kgf/cm2 yang artinya tanah lembek, lapisan II 3,8 kgf/cm2yang artinya tanah cukup kuat untuk menahan beban, dan lapisan III dan lapisan IV memiliki daya topang sama-sama 4,5 kgf/cm2 yang artinya cukup mampu untuk menahan beban yang berat seperti traktor.

D.    Sifat Kimia Tanah

Hal-hal yang perlu diamati dalam analisis kimia tanah adalah pH tanah, kandungan BO, kadar kapur (CaCO3) dan konkresi Mn.

pH tanah digunakan untuk mengetahui aktvitas organisme, ketersediaan hara, keracunan dan jenis tanaman yang dapat tumbuh pada kondisi tanah tersebut. Penentuan pH tanah dapat dilakukan secara elektronik dan kalorimetrik, baik laboratorium maupun lapangan. Elektrometrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter, sedangkan kalorimetrik dapat dikerjakan dengan kertas pH. Sedangkan pada praktikum ini pH tanah ditentukan dengan pH stick. PH aktual dianalisis dengan cara mencampurkan tanah dengan air (H2O), sedangkan pH potensial diukur dengan cara mencampurkan tanah dengan KCl. Dari hasil pengamatan pH H2O diketahui bahwa pH tanah pada lapisan I dan lapisan II adalah 5 sedangkan untuk lapisan III dan lapisan IV pH 5-6. pH KCl untuk lapisan I sebesar 5, lapisan II sebesar 5, lapisan III sebesar 5 – 6  dan untuk lapisan IV pH sebesar 6. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pH KCl lebih tingi dari pH H2O. Hal ini diakibatkan karena pada tanah alisol terjadi pencucian basa-basa dalam tekstur dan struktur tanah, sehingga Solusi yang digunakan untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan pengapuran mengingat daerah ini tidak ada kadar kapurnya.

Bahan organik merupakan akumulasi seresah tumbuhan dan hewan yang telah mati dan telah terombakkan oleh jasad hidup tanah. Penentuan jumlah bahan organik secara kualtatif yaitu dengan mengamati banyaknya percikan atau buih yang timbul setelah massa tanah ditetesi dengan H2O2 10%. Dari hasil pengamatan kandungan BO pada lapisan I sangat tinggi, pada lapisan II tinggi, serta pada lapisan III cukup tinggi dan pada lapisan IV sedang. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pada proses pembentukan horizon, BO akan terakumulasi di lapisan atas kemudian mengalami pencucian sehingga semakin ke bawah kandungan BO semakin sedikit.

Kadar kapur (CaCO3) dalam tanah dapat ditentukan dengan cara menetesi tanah dengan HCl 10%. Diukur secara relatif jelas tidaknya cara membuihnya kapur di tanah dengan tetesan HCl tadi. Tanah pada lapisan I dan lapisan IV tidak mengandung kapur karena tidak terjadi percikan sedangkan untuk tanah lapisan II dan III terdapat kandungan kapur dengan kadar sedang.

Konkresi merupakan konsentrasi lokal senyawa kimia yang berupa butir atau batang yang keras. Konkresi terjadi akibat adanya proses oksidasi-reduksi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya konkresi dilakukan pengambilan sample tanah tiap lapisan dan kemudian ditetesi dengan H2O2, jika timbul percikan maka pada lapisan tersebut terdapat konkresi Mn, Konkresi pada hasil pengamatan ditemukan pada lapisan I konkersinya sangat tinggi, lapisan II konkresinya tinggi, lapisan III cukup tinggi, dan lapisan IV sedang.

  1. VI. KOMPREHENSIF

Dari hasil pengamatan lahan di desa Sukosari, Jumantono yang terletak di daerah hunid tropis memiliki temperatur dan curah hujan yang tinggi, sehingga memiliki solum tanah yang dalam. Daerah yang memiliki profil dalam dan memiliki jenis tanah alfisol dengan tekstur geluh berlempung mempengaruhi timbulan mikro berupa tegalan hal ini juga mempengaruhi timbulan mikro yang anropogen yang disebakan karena adanya kegiatan penggarapan tanah oleh manusia. Bentuk fisiogafi yang berupa Lahan bergelombang antara pegunungan Vulkanik dan Sungai menyebabkan kemas muka tanah yang licin yang hanya dapat menyebabkan erosi pada permukaan dengan taraf atau tingkat yang ringan dan dengan fisiografis yang seperti itu menyebabkan lahan tersebut bebas dari banjir dan genangan. Karena pengaturan yang tepat dan tidak menyebabkan adanya genangan, lahan di desa Sukosari ini cocok dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dengan sistem tegal dan ditanami dengan tanaman budidaya seperti ketela pohon dan mangga.

Ketegasan batas tiap lapisan cenderung jelas dan baur dengan bentuk yang tidak beraturan sehingga menyebabkan gleisasi yang bebas. Aerasi drainase yang sangat buruk dan permeblitas yang capat dari lapisan atas ke bawah menyebabkan tanah memiliki strktur yang lepas dengan tekstur, tersusun geluh berlempung (SC). profil tanah yang diamati didominasi oleh geluh berlempung yang ditandai dengan rasa licin. Tekstur ini mempunyai airase dan drainase yang baik sehingga dapat dengan mudah ditembus air. Sehingga tidak ada bahan yang diendapkan kecuali pada lapisan III dan IV yang masing-masing mengandung lempung sehingga pada lapisan III dan lapisan IV terdapat endapan Mn. Hal ini terbukti dengan adanya konkresi pada masing-masing lapisan tersebut.

Tipe struktur dari tiap-tiap lapisan tanah yang diamati adalah struktur tipe crumb, tipe blocky dan sub angular blocky merata halus, sedang dan sangat kasar dengan derajat lemah, sedang dan kuat. profil tanah ini memiliki penetrometer yang mampu menahan berat beban yang besar, dan dengan warna merah kecoklatan menandakan bahwa tanah tersebut merupakan tanah latosol.

pH KCl yang lebih besar daripada pH H2O terjadi karena adanya pecucian basa-basa dalam tekstur dan struktur tanah. Jenis tanah alvisol cenderung memiliki kadar BO cukup tinggi dan tidak memiliki kandungan kapur (CaCO3).

pH tanah menyebabkan perubahan berupa sifat kimia yaitu apabila pH naik maka kelarutan besi, alumunim dan mangan menurun,tersedianya fosfat bertambah dengan kejenuhan basa meningkat dengan demikian CaCO3 bermanfaat untuk mengurangi kadar keasaman tanah.

  1. KESIMPULAN
  1. Morfologi tanah di desa Sukosari Jumantono cocok untuk kegiatan pertanian dengan sistem tegal karena lokasinya bebas dari banjir dan genangan dan sedikit erosi
  2. Lahan di desa Sukosari merupakan tanah alfisol dengan fisiologi lahan bergelombang antara pegunungan vulkanik dan sungai.
  3. Kemampuan permeabilitas tanah ditempat penelitian cukup baik.
  4. Aerasi dan draenasi pada lahan pengamatan di daerah jumantono tergolong sedang.
  5. Sifat fisika tanah yaitu tekstur Clay Loam dan Sandy Clay dengan struktur tanah tipe Crumb, aub angular blocky dan angular blocky dengan ukuran halus sedang dan kasar.
  6. Warna tanah pada lapisan I adalah 7,5 YR 5/3 (brown), lapisan II adalah 7,5 YR 4/6 (strong brown), lapisan III adalah 7,5 YR 4/4 (brown), lapisan IV adalah 7,5 YR 3/4 (dark brown),
  7. Tanah di desa Sukosari memiliki tekstur tanah lempung begeluh (berdebu) dengan variasi struktur derajat dan struktur.
  8. Sifat kimia tanah hadil pengamatan dipeoleh kemasaman tanah rata-rata 5-6, bahan organik pada lapisan I sangat tinggi, dimana kandungan kapurpada lapisan II dan III sedang dan konkresi Mn pada lapisan I sangat tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Baver, L.D. 1961. Soil Physics. John Wiley & Sons Inc. New york.

Buckman. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Darmawijaya, M. Isa. 1990. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Foth, H.D. 1991. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis. Akapress. Jakarta.

Henry. 1988. Fundamentalis of Soil Science. John Wiley & Sons. Inc. New york.

Kartasapoetra. 1987. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian

Universitas Padjajaran. Bandung.

Kononova.M.M. 1996. Soil organic matter. Diterjemahkan dari bahasa Rusia oleh T.Z. Nowokowski & A.C.D. Newman 2nd English Edition. Pergamon Press Ltd. Oxford. London

Kuswandi. 1993. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Sarief. 1979. Ilmu Tanah Umum. Bagian Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran. Bandung.

Sugiman. 1982. Ilmu Tanah Terjemahan. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Soepardi. 1979. Sifat Dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah Fakultas

Pertanian IPB. Bogor.

Tan, Kim. 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Balai Penelitian Teh & Kina. Bandung.

About these ads

6 Tanggapan so far »

  1. 1

    husein efendi said,

    trimakasih banyak……………………

  2. 2

    heru supratikno said,

    MAKASIH MAS…. BERBAGI HASIL LAORAN…

  3. 3

    nietza said,

    thanks yahhhhhhhhhh

  4. 4

    Yesri said,

    Thank U so much…

    Ur report helps me a lot….:))

  5. 5

    Leni Mustika said,

    mau nanya nch . . .
    1.Diketahui:Hasil analisis dari 100gram tanah adalah sbb;
    H+ =15 mg BA H+ = 1
    Al+3 =81 mg BA Al+3=27
    K+ =78mg BA K+ =39
    Na + =115 mg BA Na+=23
    Ca+2=100 mg BA Ca+2=40
    Mg +2=72 mg BA Mg +2=24
    berat Equivalen 1me=BA/valensi mg
    hitung tolong mas KPK nya

  6. 6

    radich said,

    mau tanya ni gan…
    kan diatas tertulis “LAPISAN MINERAL” kalau boleh tau mang itu maksudnya gimana n ketebalan tanah berapa cm?
    minta pustaka nya dunk gan?
    terima kasih


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: