PENDAPATAN DAN KONSUMSI RUMAH TANGGA

I. PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Pada dasarnya setiap keluarga sangat membutuhkan adanya rekapitulasi  tentang pelaksanaan manajemen yang dilakukan sehari-hari di dalam rumah tangganya.untuk itu kegiatan pencatatan sangat diperlukan.

Rumah tangga baik ditingkat keluarga maupun pemerintahan pasti membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Biaya tersebut diperoleh dari pendapatan seluruh anggota keluarga tersebut. Pendapatan dan pengeluaran dalam suatu rumah tangga pasti berbeda-beda. Pendapatan dapat dipergunakan untuk pengeluaran konsumsi maupun tabungan. Pengeluaran untuk konsumsi tersalur ke pengeluaran pangan, sandang, perumahan, bahan bakar, pengangkutan, hiburan dan perawatan kesehatan, sedangkan bagian yang tidak dikonsumsi masuk kedalam tabungan.

Fungsi laporan ini berhubungan dengan pencatatan transaksi-transaksi dalam rumah tangga pada bulan April 2005. tanda untuk melihat lebih dalam informasi ekonomi sudah cukup apabila informasi tersebut terdiri dari data keuangan yang dinyatakan dalam satuan uang untuk membantu manusia dalam membuat penilaian dan keputusan yang berhubungan dengan tindakan-tindakan masa mendatang. Makin dekat hubungannya dengan kegiatan yang bersifat keuangan maka makin besar kebutuhan untuk mengerti konsep dan istilah ekonomi. Pengetahuan tentang pencatatan pendapatan dan konsumsi ini dapat dibandingkan dengan pencatatan sebelumnya sehingga keadaan yang baru saja berjalan mungkin akan dapat menunjukan adanya trend yang baik dan mengurangi mana-mana yang menunjukan adanya trend yang kurang baik.

Dalam ilmu ekonomi, konsumsi diartikan sebagai semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengeluaran konsumsi dilakukan dengan maksud untuk mempertahankan taraf hidup. Pada tingkat pendapatan rendah, pengeluaran konsumsi pertama-tama dibelanjakan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok guna memenuhi kebutuhan jasmani. Konsumsi pangan adalah terpenting, karena pangan merupakan jenis barang utama untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Akan tetapi terdapat berbagai macam barang konsumsi (termasuk sandang, perumahan, bahan bakar dan sebagainya) yang dapat dianggap sebagai kebutuhan untuk menyelenggarakan rumah tangga. Keanekaragamannya  tergantung pada tingkat pendapatan rumah tangga. Tingkat pendapatan yang berbeda-beda mengakibatkan perbedaan taraf konsumsi.

Dengan mengetahui hubungan-hubungan antara pendapatan dan konsumsi maka diharapkan kita menjadi lebih mampu dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh suatu perekonomian pada rumah tangga keluarga.

B.     Perumusan Masalah

Dari penelitian yang dilakukan dirumuskan masalah yaitu mengenai bagaimana hubungan antara pendapatan dan konsumsi rumah tangga keluarga bersangkutan dan berapa besar pendapatan yang tidak digunakan untuk konsumsi. Masalah yang sering dihadapi oleh suatu rumah tangga pada umumnya adalah bagaimana membelanjakan pendapatan mereka agar dapat mencukupi semua kebutuhan dan masih ada sisa pendapatan yang dapat ditabung.

C.     Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian mengenai pendapatan dan konsumsi rumah tangga keluarga bapak Suwanto adalah untuk mengetahui tingkat kesejahteraan keluarga dengan meninjau pendapatan dan pengeluaran sementara selama bulan April 2005dan untuk mengetahui hubungan antara Pendapatan, Konsumsi dengan tabungan. Selain itu  dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam kegiatan perekonomian pada bulan berikutnya,atau sebagai salah satu faktor yang dapat dijadikan sebagai koreksi tentang pengeluaran maupun pemasukan yang diterima dalam keluarga Bp Suwanto pada tiap tiap bulan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A.     Pendapatan

Upah dan gaji yang biasa disebut dalam istilah asing wages and salaries merupakan pendapatan yang diperoleh rumah tangga keluarga sebagai imbalan terhadap penggunaan jasa sumber tenaga kerja yang mereka gunakan dalam pembentukan produk nasional (Soediyono, 1984).

Pendapatan adalah sama dengan pengeluaran. Pendapatan yang dicapai oleh jangka waktu tertentu senantiasa sama dengan pengeluaran jangka waktu tersebut. Pendapatan senantiasa harus sama dengan pengeluaran karena kedua istilah ini menunjukan hal yang sama hanya dipandang dari sudut pandang lain (Winardi, 1975).

Makin tinggi pendapatan perseorangan akan makin sedikit anggota masyarakat yang memilikinya, yang terbanyak menempati ruangan pendapatan yang rendah. Besarnya pendapatan perseorangan akan tergantung pada besarnya bantuan produktif dari orang atau faktor yang bersangkutan dalam proses produksi (Kaslan, 1962).

Perbedaan dalam tingkat pendapatan adalah disebabkan oleh adanya perbedaan dalam bakat, kepribadian, pendidikan, latihan dan pengalaman. Ketidaksamaan dalam tingkat pendapatan yang disebabkan oleh perbedaan hal-hal ini biasanya dikurangi  melalui tindakan-tindakan pemerintah yaitu melalui bantuan pendidikan seperti beasiswa dan pemberian bantuan kesehatan. Tindakan-tindakan pemerintah ini cenderung menyamakan pendapatan riil. Pendapatan uang adalah upah yang diterima dalam bentuk rupiah dan sen. Pendapatan riil adalah upah yang diterima dalam bentuk barang/jasa, yaitu dalam bentuk apa dan berapa banyak yang dapat dibeli dengan pendapatan uang itu. Yang termasuk pendapatan riil adalah keuntungan-keuntungan tertentu seperti jaminan pekerjaan, harapan untuk memperoleh pendapatan tambahan, bantuan pengangkutan, makan siang, harga diri yang dikaitkan dengan pekerjaan, perumahan, pengobatan dan fasilitas lainnya (Sofyan, 1986).

Besarnya pendapatan perseorangan akan tergantung pada besarnya bantuan produktif dari orang atau faktor yang bersangkutan dalam proses produksi (Kaslan, 1962).

B.     Konsumsi

Konsumsi merupakan salah satu komponen Pendapatan Nasional. Fungsi konsumsi adalah sebuah fungsi yang menghubungkan laju pengeluaran konsumsi dengan tingkat Produksi Nasional atau Pendapatan Nasional. Diduga bahwa dengan bertambahnya pendapatan nasional akan bertambah pula jumlah konsumsi. Penelitian ini memperlihatkan bagaimana belanja ini berubah-ubah sesuai dengan naik turunnya pendapatan keluarga. Penelitian yang sudah ada di Indonesia adalah perubahan proporsi belanja makanan dana bukan makanan dari seluruh jumlah uang yang dibelanjakan. Selanjutnya dari angka-angka pendapatan nasional juga kita dapat memperoleh gambaran perubahan konsumsi ini (Partadiredja, 1985).

Konsumsi (yaitu pengeluaran untuk konsumsi) tergantung dari pendapatan tetapi kita juga harus mengetahui bahwa pendapatan sebaliknya juga tergantung pada pengeluaran. Seakan-akan kita melihat sebuah lingkaran yang tidak berujung pangkal. Maka akan timbul pertanyaan : apakah kita perlu mengetahui besarnya konsumsi agar dapat menghitung besarnya pendapatan (Sudarsono, 1991).

Pengeluaran konsumsi pertama-tama ditentukan oleh tingkat pendapatan, tetapi banyak lagi faktor lain yang mempangaruhi tingkat konsumsi yaitu jumlah anggota keluarga, tingkat usia mereka dan faktor-faktor lainnya seperti harga-harga nisbi berbagai jenis barang konsumsi juga berarti penting sebagai penentu (Sicat dan Arndt, 1991).

Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan komponen tunggal terbesar dari pengeluaran keseluruhan aktual, tetapi ada yang menentukan jumlah yang ingin dibelanjakan oleh rumah tangga untuk membeli barang dan jasa untuk konsumsinya dan berapa banyak yang ingin mereka tabung, salah satu faktor yang paling menentukan adalah pendapatan sisa rumah tangga. Dengan meningkatnya pendapatan sisa, rumah tangga mempunyai lebih banyak uang untuk dibelanjakan sebagai konsumsi. Penelitian empiris tentang perubahan pendapatan sisa dari tahun ke tahun dan konsumsi untuk suatu periode selama sepuluh tahun telah menemukan hubungan yang erat antara keduanya. Umumnya, tahun dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi biasanya juga merupakan tahun-tahun dengan tingkat konsumsi yang lebih tinggi daripada rata-rata (Lipsey dan Steiner, 1991).

Pengeluaran konsumsi atau private consumption expenditure meliputi semua pengeluaran rumah tangga keluarga dan perseorangan serta lembaga-lembaga swasta bukan perusahaan untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang langsung dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pembelian barang-barang tahan lama yang baru seperti mobil, pesawat televisi dan sebagainya selain bangunan rumah termasuk variable ekonomi pengeluaran konsumsi (Soediyono, 1984).

C.     Tabungan

Tabungan merupakan unsur penting proses pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Tabungan memungkinkan terjadinya penanaman modal. Penanaman modal memperbesar kapasitas produksi perekonomian. Tabungan menyediakan sumber yang membuka peluang berlangsungnya penanaman modal (Sicat dan arndt, 1991).

Tabungan dapat didefinisikan sebagai bagian daripada pendapatan nasional per tahunnya yang tidak dikonsumsi dengan menggunakan singkatan dapat kita tulis : S = Y-C dimana S adalah tabungan, Y adalah pendapatan dan C adalah konsumsi (Soediyono, 1984).

Tabungan keluarga ditiap rumah tidak diketahui besarnya karena tidak dicatat. Tabungan keluarga sifatnya statis dan tidak berbunga. Tabungan yang demikian hanya hoording, kalau tabungan itu digunakan misalnya dibelikan barang baru terjadilah dishoording. Untuk menggiatkan tabungan keluarga dan mendorong mengubah dari tabungan statis kearah tabungan dinamis atau produktif, pemerintah menarik para penabung dengan cara tabanas dan taska (Chaniago dan Mudjihardjo, 1982).

Seseorang menabung dengan beberapa tujuan antara lain :

  1. Berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya pengeluaran belanja yang tak diduga dan tidak diketahui sebelumnya.
  2. Memperbaiki taraf hidup seseorang dimata masyarakat (misalnya tabungan untuk konsumsi mewah).
  3. Untuk dapat membeli barang-barang tertentu yang tidak dapat dimiliki dengan pendapatan sekarang ini.
  4. Cadangan untuk masa depan.
  5. Sebagai jaminan, misalnya jika terjadi pendapatan yang turun naik.
  6. Spekulasi, misalnya menabung dalam rangka berspekulasi dalam pasar saham. Tujuan ini sangat ditentukan oleh tingkat bunga yang berlaku; jika tingkat bunga tinggi hasrat menabung akan lebih besar daripada tingkat bunga rendah (Sofyan, 1986).


III. HASIL PENGAMATAN

A.     Pendapatan Rumah Tangga Keluarga Suwanto

Tabel 3.1. Pendapatan Pokok dan Sampingan

Jenis Pendapatan Jenis Pekerjaan Pendapatan
Rp %
Pokok

1. Bapak

2. Ibu

3. Lainnya

Sampingan

1. Bapak

2. Ibu

3. Lainnya

Petani

buruh

550.000

350.000

61,11

38,89

Total Pendapatan 900.000 100

Sumber : Catatan Bulanan Keluarga Suwanto

Jumlah anggota keluarga :

Suami / Kepala Rumah Tangga                               : 1 Orang

Istri                                                                        : 1 Orang

Anak                                                                      : 1 Orang

Lain-lain                                                                 :   -

Jumlah anggota rumah tangga seluruhnya     : 3Orang

Jumlah anggota RT yang makan serumah     : 3 Orang

Dari Tabel diatas dapat diketahui bahwa rumah tangga keluarga Suwanto mendapatkan pendapatan yang bersumber pada penghasilan pokok dan sampingan ditambah dengan adanya pendapatan sampingan tambahan dari Istri (Ibu) dan Suami (Ayah). Pendapatan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terdiri dari 3 orang,

(Ayah dan ibu beserta Anak, (yang sedang kuliah)) sedangkan anggota keluarga yang lainnya sudah dapat mencukupi kebutuhannya masing-masing tanpa mengurangi atau mengambil pendapatan Bulanan bapak dan Ibu.

B.     Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga selama bulan April 2005

Tabel 3.2. Persentase Pengeluaran Konsumsi Pangan Rumah Tangga

No Jenis Pengeluaran JUMLAH Persentase (%)
Fisik Rupiah
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Makanan Pokok

a. Beras

b. Gandum

Bahan Minuman

a. Gula pasir

b. Teh

c. Kopi + ABC

d.sirup

e.susu

Buah-buahan dan Sayuran

a. Buah-buahan :

-         Pisang

-         Pepaya

-         Salak

-         Semangka

-         Bayam

-         Kangkung

-         Terong

-         Kecambah

-         Kacang panjang

-         Kol, wortel

-         Bumbu dapur

-         Buncis

-         Nangka muda

-         Cabe

-         Kentang

-         Bawang merah

-         Bawang putih

-         Kecap

-         Garam MSG

Buah dan Biji Berminyak

-         Minyak goring

-         Kelapa

-         Kacang tanah

-         Kacang hijau

-         Tahu

-         Tempe

Daging, telur, ikan

-         Daging ayam

-         Daging sapi

-         Telur ayam

-         Lel / kakap

-         Bendeng segar/presto

-         Ikan asing

Makanan dan minuman

-         Bakso

-         Bakmi

-         Kerupuk

-         Camilan

-         Aqua

-         Bubur kacang hijau

-         Supermi/indonie

-         Roti

-         Rokok

27kg

1 ½ kg

2 ½ kg

4 buah

1 bungkus

22 buah

2 biji

4 ikat

12 buah

1 kg

65.000

9.000

15.000

4.000

15.000

11.000

12.000

1.500

4.000

1.500

4.500

3.700

63.200

1.000

6.000

4.500

9.800

9.500

8.700

6.000

19.500

9.700

-

-

9.000

7.500

6.000

9.000

4.000

1.000

6.000

5.100

8.500

16.100

3.5000

18,56 %

2,57 %

4,28 %

1,14 %

1,57 %

3,14 %

3,43 %

0,43 %

1,14 %

0,43 %

1,28 %

1,06 %

18,04 %

0,29 %

1,71 %

1,28 %

2,8 %

2,71 %

2,48 %

1,71 %

5,57 %

2,77 %

2,57 %

2,14 %

1,713 %

2,57 %

1,14 %

0,29 %

1,71 %

1,46 %

2,43 %

4,60 %

1,0 %

Total Pengeluaran 350.300 100 %

Sumber : Catatan Bulanan Keluarga Suwanto

Dari tabel diatas dapat diketahui persentasenya dengan cara :

Sesuai table 3, 2 dapat dapat diketahui bahwa konsumsi terbesar adalah beras yaitu 18,56 % dan yang terkecil adalah sehenis ikan asin yaitu 0,29 %. Dapat dilihat bahwa beras diurutan pertama karena beras merupakan untuk bahan makanan pokok disamping untuk bahan makanan beras juga digunakan untuk menyumbang.

Diantara kategori No 1 (makanan pokok) ternyata yang menempati urutan ke 2 adalah gandun yakni sebesar 2,57 %

-     Pada No 2 Bahan minuman yang paling banyak di konsusi ialah gyla yaitu sebesar 4,28 % dan urutan yang ke-2 adalah kopi sbesar 1,57 %

-     Pada No 3 diantara buah-buahan dan sayuran yang menempati urutan pertama adalah bumbu dapur yakni 28,04 % dan yang ke-2 adalah semangka yakni 3,43 % lalu pisang 3,14 %

-     Pada buah dan biji berminyak, minyak goring menempati urutan pertama yaitu 5,57 % yang ke-2 tahu dan telur ayam sebesar 2,57 % yang terkecil ikan asin yaitu 0,29 %

-     Sedang pada no 6 urutan pertama adalah supermi / indomie yaitu 4,6 % dan ke-2 adalah camilan yaitu sebesar 2,43 %. Sedangkan yang terkecil adalah roti yakni 1 %. Indomie paling banyak dikonsumsi karena dapat digunakan sebagai bahan makanan pokok, seperti beras.

Tabel 3.3 Persentase Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga

No Jenis Pengeluaran JUMLAH Persentase (%)
Fisik Rupiah
1.

2.

3.

Kebutuhan Harian

  1. Minyak Tanah
  2. Bensin
  3. Olie
  4. Listrik
  5. Telepon
  6. Sabun mandi
  7. Sabun cuci
  8. Pasta gigi
  9. Shampo
  10. Kosmetik
  11. Pembalut wanita
  12. Kora

Kebutuhan insidental

  1. Pakaian
    1. Pendidikan

-      SPP

-      Uang saku

-      Uang buku

Keputuhan Pelayanan

  1. Periksa dokter
  2. Beli obat
  3. Ta’ziah
  4. Orang punya hajad
  5. Infak
1 kalen

3 buah

1 buah

2  botol

20.500

29.500

21.000

26.500

-

6.000

10.500

8.500

13.000

17.000

100.000

40.000

25.000

10.000

3.500

10.000

40.000

10.000

5,24 %

7,54 %

5,37 %

6,78 %

1,53 %

2,69 %

2,17 %

3,32 %

4,35 %

25,58 %

10,23 %

6,39 %

2,56 %

0,9 %

2,56 %

10,23 %

2,56

JUMLAH 391.000 100 %

Dari tabel di atas dapat diketahui persentasenya dengan cara :

Pada pengeluaran non pangan terdiri dari kebutuhan rutin (harian,bulanan maupun tahunan), pendidikan adalah pengeluaran yang terbesar salah satunya biaya kuliah anak yang sedang kuliah sebesar 42,20 % sedangkan pengeluaran yang terkecil selama bulan April 2005 adalah kebutuhan pelayanan untuk beli obat yaitu 0,9%

Keluarga Suwanto dalam melakukan kegiatan konsumsi tidak terlalu boros, disebabkan masih adanya stock dari bulan sebelumnya maupun dari hasil pertanian,meskipun banyak pengeluaran yang digunakan untuk kemasyarakatan,dan tidak semua pendapatan dihabiskan karena sebagian lagi ditabung untuk keperluan-keperluan yang tak terduga nantinya.

Dari tabel 3.4 (dalam lampiran) dapat dilihat adanya variasi konsumsi kebutuhan pangan yang cukup tinggi. Banyaknya pendapatan yang dialokasikan untuk kebutuhan pangan lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan non pangan akan tetapi perbedaannya tidak terlalu besar. Untuk kebutuhan pangan sebesar Rp 350.300,- sedangkan untuk kebutuhan non pangan Rp 391.000,-, sehingga dapat dihitung persentase secara keseluruhan:

Persentase Konsumsi Pangan :

= 47,25%

Persentase Konsumsi Non Pangan :

= 52,75%

C.  Tabungan

Dari penelitian ini dapat diketahui besarnya tabungan yaitu Rp 158.700 angka ini diperoleh dari perhitungan sebagai berikut :

Konsumsi Pangan                     Rp350.300

Konsumsi Non Pangan RP391.000 +

Total                            Rp741.300

Pendapatan                              Rp900.000

Konsumsi total              Rp 741.300

Tabungan                     Rp 158.700

Saldo akhir tabungan sampai bulan Maret 2005    Rp   1.500.000,00

Sisa pendapatan bulan April 2005                 RP      158.700,00 +

Rp   1.658.700,00

D.    Hubungan Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga

Tabel 3.5 Hubungan pendapatan dan konsumsi rumah tangga keluarga Bp. Suwanto April 2005

Jenis pendapatan Pendapatan Jenis pengeluaran Pengeluaran
Rupiah % Rupiah %
Pokok

a. Bapak

b. Ibu

c. Lainnya

550.000

350.000

61,11

38,89

Pangan 350.300 47,25
Sampingan

a. Bapak

b. Ibu

c. Lainnya

Non Pangan 391.000 52.75
Jumlah 900.000 100 741.300 100

Sumber : Catatan Bulanan Keluarga BpSuwanto

Hubungan antara pendapatan dan konsumsi rumah tangga ditunjukan oleh grafik sebagai berikut :

Gambar 3.1 Grafik Hubungan antara Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga keluarga BpSuwanto.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan

Dari tabel tentang pendapatan dan konsumsi dapat disimpulkan antara lain:

  1. Besarnya pendapatan keluarga lebih besar daripada pengeluaran konsumsi.
  2. Besarnya konsumsi untuk pangan lebih kecil daripada konsumsi untuk non pangan.
  3. Pendapatan dan konsumsi berbanding lurus, semakin tinggi pendapatan     maka pengeluaran konsumsi juga semakin besar.
  4. Besarnya pendapatan yang tidak dikonsumsi dapat dijadikan sebagai    tabungan atau modal.
  5. Pendapatan total keluarga BpSuwanto selama bulan April 2005 sebesar     Rp 900.000,-.
  6. Pengeluaran untuk konsumsi pangan pada bulan April 2005 sebesar     Rp 350.300.
  7. Pengeluaran untuk konsumsi non pangan pada bulanApril 2005 sebesar     Rp 391.000,-
  8. Pengeluaran terbesar yaitu untuk biaya pendidikan (biaya kuliah anak)     sebesar Rp 165.000 dengan prosentase sebesar 42,2%
  9. Tabungan pada bulan April 2005 sebesar Rp 1.658.700,-

10.  Sisa pendapatan pada bulan April 2005 sebesar Rp 158.700

B.  Saran

Dari hasil yang diperoleh dalam menggunakan pendapatan, diberikan beberapa saran sebagai berikut :

  1. Pengeluaran jangan sampai melebihi pendapatan yang diterima.
  2. Menghemat pendapatan untuk pengeluaran, jika kebutuhan tidak begitu penting tidak perlu mengeluarkan uang.
  3. Tidak baik, jika keluarga terlalu mengkonsumsi barang yang tidak dirasa penting (konsumtif), lebih baik digunakan untuk keperluan penting di masa yang akan datang.
  4. Sisa pendapatan sebaiknya ditabung untuk menjaga jika ada kepentingan mendadak yang membutuhkan uang segera.
  5. Melakukan rekapitulasi pendapatan dan pengeluaran setiap bulan agar pendapatan dan pengeluaran dapat diketahui tiap anggota keluarga sehingga dapat mengontrol semua kebutuhannya.

C. Implikasi Kebijakan

Memang dalam pengeluaran rumah tangga jangan sampai terjadi suatu pengeluaran yang besar, akibatnya antara penerimaan pendapatan dengan pengeluaran akan lebih besar pengeluaran sehingga terjadi perekonomian yang minus.Sehingga sisa pendapatan tidak ada yang ditabung.Dengan melihat keadaan yang demikian maka di dalam suatu keluarga diperlukan adanya kegiatan pengawasan(controlling) terhadap setiap pendapatan yang diterima serta dalam penggunaanya untuk konsumsi maupun kemasyarakatan.Sering kali setiap keluarga menghiraukan hal yang demikian,sehingga keluarga tersebut tidak mengetahui seberapa besar pengeluaran yang telah dilakukan,akibatnya dari setiap bulan  tidak ada saldo yang masuk sebagai tabungan,serta menambah beban hutang.Untuk itu maka diadakannya kegiatan penelitian pendapatan ini sangat baikdan penting didalam memanejemen suatu kegiatan perekonomian didalam rumah tangga.

DAFTAR PUSTAKA

Chaniago, Aritinal dan Midjihardjo. 1982. Ekonomi dan Koperasi edisi 26.             Angkasa. Bandung.

Kaslan, Tohir A. 1962. Ekonomi Selayang Pandang. Sumur Bandung. Bandung

Lipsey, R dan Steiner, P. 1991. Pengantar Ilmu Ekonomi. Rineka Cipta. Jakarta.

Muchtar, Sofyan. 1986. Prinsip-Prinsip Ekonomi. CV Danau Singkarak. Jakarta.

Partadiredja, Ace. 1985. Pengantar Ekonomika. BPFE. Yogyakarta.

Sicat, G dan Arndt, H. 1991. Ilmu Ekonomi. LP3es. Jakarta.

Soediyono. 1984. Pengantar Analisa Pendapatan Nasional. Liberty. Yogyakarta.

Sudarsono. 1991. Pengantar Ekonomi Mikro. PT Jasa Pirusa. Jakarta.

Winardi, E. 1975. Pengantar Ilmu Ekonomi. Tarsito. Bandung.

About these ads

5 Tanggapan so far »

  1. 2

    tomi pratama said,

    trims

  2. 3

    bsppam said,

    ndang pow………………

  3. 4

    opo ngonouuu………………
    whiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnngggggggggggggg……………


Comment RSS · TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: