praktikum Metode dan Teknik Penyuluhan “ Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Di Desa Dagen Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar”

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pentingnya padi sebagai sumber utama makanan pokok dan dalam perekonomian bangsa Indonesia. Beras merupakan bahan makanan pokok bangsa Indonesia. Sebagian besar penduduk dimuka bumi ini menggunakan nasi sebagai makanan pokoknya. Sebagai bahan makanan, nasi dan beberapa bahan makanan pokok lainnya seperti jagung, kentang, ketela pohon dan gandum merupakan sumber utama mendapatkan karbohidrat selain lemak.

Oleh karena itu selain faktor yang mempengaruhi tingkat produksinya sangat penting diperhatikan. Salah satu faktor itu adalah hama dan penyakit. Kita semua pasti pernah hama penggerek pada tanaman padi yaitu merupakan salah satu dari beberapa hama yang menyerang padi. Hama penggerek sendiri terdiri dari empat spesies yaitu penggerek batang padi kuning (Sccirpophaga incertulas (Wkl.)), penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata (Wkl.)), penggerek batang padi bergaris (Chilo supressalis (Wkl.)), dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens (Wkl.)). Diantara keempat spesies itu yang paling popular ayau sering kita dengar dalam budidaya tanaman padi adalah penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata (Wkl.)) atau sering kita kenal dengan istilah “hama sundep” (Sugeng, HR, 2003).

Di Desa Dagen Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu daerah yang penduduknya sebagian besar merupakan petani. Di Dagen masih terdapat areal persawahan yang masih luas yang mana juga merupakan penghasil tanaman padi yang cukup besar. Karena banyaknya petani yang menanam padi disana, mereka sering sekali masalah dengan tanaman padi yang diserang oleh hama sundep. Sebagian besar petani di Desa Dagen tersebut memberantas hama dengan Pestisida cair merk “Spontan”. Namun sampai saat ini petani merasa usahanya belum maksimal sehingga hama masih ada tetap bertahan pada tanaman tersebut. Hal ini dirasa karena kurangnya pengetahuan tentang teknik penyemprotan yang kurang tepat. Selain itu mereka kurang paham dalam menganalisis tingkat keparahan dari serangan hama tersebut, sehingga mereka kurang mampu mengetahui dosis yang tepat yang disesuaikan dengan tingkat gejala serangan yang pada kenyataan petani selalu memberikan dosis yang tinggi. Petani khawatir kalau hama tersebut semakin Resisten dengan pemberian pestisida yang berlebihan. Petani masih perlu diberi penyuluhan tentang “ Pemberantasan Hama Sundep” agar mampu memberantas hama sundep dengan benar sehingga produktivitas padi tidak menurun. Laporan ini akan menjelaskan lebih lanjut mengenai  hama sundep beserta cara untuk memberantas hama tersebut, yang salah satunya dengan menggunakan pestisida bentuk cair yaitu “Spontan”.

  1. B. Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum Metode dan Teknik Penyuluhan “ Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Di Desa Dagen Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar” ini adalah :

  1. untuk menambah pengetahuan petani mengenai hama sundep dan cara dalam mengendalikan hama sundep dengan pestisida cair spontan.
  2. untuk menumbuhkan minat petani agar mengendalikan hama sundep menggunakan pestisida cair spontan untuk budidaya tanaman padi.
  3. untuk mendorong petani agar mampu melakukan pemberantasan hama sundep dengan pestisida cair spontan untuk budidaya tanaman padi.
  4. C. Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum Metode dan Teknik Penyuluhan “ Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Di Desa Dagen Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar” ini adalah :

  1. Agar dapat menambah pengetahuan petani mengenai hama sundep dan cara dalam mengendalikan hama sundep dengan pestisida cair spontan.
  2. Agar dapat menumbuhkan keyakinan petani untuk mengendalikan hama sundep menggunakan pestisida cair spontan dalam budidaya tanaman padi.
  3. Petani  mencoba melakukan pemberantasan hama sundep dengan pestisida cair spontan dalam budidaya tanaman padi.

II. LANDASAN TEORI

  1. A. Analisis Khalayak

Sebagai sarana pendidikan non formal, penyuluhan pertanian betul-betul dituntut agar dapat menjadi “dewa penolong”. Pada konsepsi inilah, segala macam perilaku petani perlu diubah arahkan kalau semula para petani dipedesaan selalu terikat pada sikap hidup yaitu fatalisme menyerah pada keadaan, kurang bercitra akan masa depan, serta sikap hidup yang kurang menunjang lajunya pembangunan, dengan hadirnya konsep penyuluhan pertanian, segala sikap yang demikian itu, mutlak digantikan dengan ungkapan yang sejalan dengan nafas pembangunan. Itulah sebabnya, mengapa kita perlu merancang suatu konsep penyuluhan pertanian yang mampu berperan sebagai mediator pendidikan (Sastraatmadja, 1992).

Sasaran utama dari pembangunan adalah pembangunan manusia karena tanpa adanya perubahan yang terjadi didalam diri manusia yang dibangun, maka akan sulit untuk mencapai perbaikan-perbaikan kondisi masyarakat secara terus-menerus, sebagai hasil pembangunan fisik, ekonomi menjadi kurang berarti jika tidak dibarengi dengan keberhasilan pembangunan manusianya. Perubahan pada diri manusia yang diharapkan dapat terjadi karena adanya kegiatan penyuluhan adalah pengetahuan, kertampilan dan sikapnya. Dalam pelaksanaannya kegiatan penyuluhan pertanian sasaran yang ingin dicapai juga berupa peningkatan pengetahuan, kertampilan dan sikap petani, sehingga mereka akan mampu untuk mandiri, karena tanpa adanya penambahan pengetahuan serta perbaikan sikap mereka akan sulit untuk memperbaiki kehidupan mereka yang masih tradisional (Suhardiyono, 1992).

Karateristik masyarakat petani sebagai sasaran utama dari kegiatan pertanian, khusus yang berkaitan dengan karateristik ekonomi, sejak lama dan hingga sekarang, masih sering kita jumpai adanya dua kutub pendapat yang menyatakan bahwa : di satu klub termasuk “usaha tani sub sisten dengan ciri-ciri khusus yang pada umumnya sangat tidak responsif terhadap kegiatan penyuluhan (pembangunan), dan di kutub lain “petani rasional” dengan ciri yang sangat responsif terhadap upaya penyuluhan (pembangunan) (Departemen Kehutanan, 1996).

  1. B. Proses Belajar dalam Penyuluhan

Pendidikan yang dipilih untuk mengisi pendidikan petani di desa adalah pendidikan non formal. Ciri-ciri pendidikan non formal antara lain :

  1. Pendidikan non formal tidak mengenal batas umur bagi petani yang akan mengikuti pendidikan penyuluhan.
  2. Pendidikan non formal tidak mengenal kurikulum tertentu yang harus diselesaikan, pokoknya tidak ditentukan kapan selesainya, dan batas waktu pendidikan.
  3. Pendidikan non formal tidak mengenal uang sekolah.
  4. Pendidikan non formal tidak mengenal ruangan tetentu, tidak harus menggunakan ruangan, beton, tembok/kelas.
  5. Pendidikan non formal tidak mengenal waktu.

(Suhardiyono, 1992).

Proses pendidikan (belajar-mengajar) yang berlangsung dalam kegiatan penyuluhan adalah proses pendidikan yang diterapkan dalam pendidikan orang dewasa. Keberhasilan proses belajar, tidak diukur dari seberapa banyak terjadi “transfer of knowledge”, tetapi lebih memperhatikan seberapa jauh terjadi dialog (diskusi, sharing) antar peserta kegiatan penyuluhan  (Mardikanto, 2003).

Pengajaran bagi orang dewasa haruslah melalui diskusi, praktek demonstrasi metode dan partisipatif aktif lainnya khususnya adalah latihan yang bersifat ketrampilan setiap peserta diberikan kesempatan untuk mempraktekkannya sendiri sebagai pendidikan belajar dengan praktek (learning by doing). Jika seseorang melakukan sendiri sesuatu tindakan/pekerjaan, maka akan lebih menghayati dan akan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama (Suhardiyono, 1992).

C. Alat Bantu Penyuluhan

Peranan dari alat bantu penyuluhan pertanian dalam proses belajar adalah penting, bila diinginkan memenuhi persyaratan-persyaratannya. Kemanfaatannya antara lain :

  1. Membantu menarik perhatian siswa untuk beberapa lama dan menjadikan pelajaran itu menyenangkan.
  2. Membantu guna menjelaskan pelajaran sedemikian rupa sehingga siswa menjadi mudah dan cepat mengertinya.
  3. Membantu guru mengingat detail pelajaran.
  4. Para siswa akan mengingat  lebih lama apa yang dilihat daripada yang didengar.

(Wiriaatmadja, 1973).

Alat bantu penyuluhan adalah alat-alat/sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seseorang penyuluh guna memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan itu di dilaksanakan. Alat ini diperlukan untuk mempermudah penyuluh selama melakukan kegiatan penyuluhan, baik dalam menentukan/memilih materi penyuluhan/menerangkan inovasi yang disuluhkan (Departemen Kehutanan, 1996).

Alat ini diperlukan untuk mempermudah penyuluh selama melaksanakan kegiatan penyuluhan, baik dalam menentukan atau memilih materi penyuluhan atau menerangkan inovasi yang disuluhkan (Mardikanto, 1993).

D. Alat Peraga Penyuluhan

Alat peraga yang dipergunakan dengan tepat dan baik dapat memberikan keuntungan dalam penyuluhan antara lain :

  1. Menghindarkan salah pengertian/salah interpretasi.
  2. Memperjelas materi yang dibicarakan dan lebih mudah dimengerti.
  3. Memberikan dorongan yang kuat untuk menerapkan materi yang dianjurkan.

(Suhardiyono, 1992).

Menurut Mardikanto (1995) dalam Departemen Kehutanan (1996), alat peraga yaitu alat/benda yang dapat diamati, didengar, diraba atau dirasakan oleh indra manusia, yang berfungsi sebagai alat untuk meragakan dan/menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan (oleh penyuluh) guna membantu proses belajar sasaran penyuluhan, agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami oleh sasaran penyuluhan yang bersangkutan.

Alat peraga adalah alat bantu mengajar/menyuluh yang dapat dilihat, didengar, dirasa dan diraba. Alat peraga dapat dipergunakan secara tunggal maupun kombinasi, alat peraga haruslah memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Alat peraga harus mudah dikenali dan dimengerti oleh sasaran.
  2. Gagasan yang terkandung didalamnya harus dapat diterima oleh sasaran.

(Suhardiyono, 1992).

  1. E. Pemilihan Alat Peraga

Alat-alat peraga yang efektif harus dapat memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu antara lain :

  1. Sederhana
  2. Mengemukakan gagasan baru
  3. Menarik perhatian
  4. Menggunakan bahasa yang sederhana

Karena persyaratan yang demikian, maka dalam pembuatan/penggunaan alat peraga haruslah memeperhatikan bentuk serta ukuran dari materi-materi yang ditonjolkan sehingga timbul kesan seimbang dan serasi (Suhardiyono, 1992).

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat peraga di dalam pelaksanaan penyuluhan adalah pemilihan alat peraga yang paling efektif dan efisien untuk tujuan perubahan perilaku sasaran, yang diinginkan penyuluhnya (Departemen Kehutanan, 1996).

Pengetahuan tentang pemilihan alat peraga yang paling efektif efisien sangat penting karena :

  1. Tidak semua alat peraga selalu tersedia/mudah disediakan oleh penyuluhnya pada sembarang tempat dan waktu.
  2. Alat peraga yang mahal tidak selalu merupakan jaminan sebagai alat peraga yang efektif untuk tujuan perubahan perilaku tertentu.
  3. Untuk tujuan perubahan perilaku tertentu, tersedia banyak alternatif alat peraga yang dapat digunakan, tapi dengan tingkat efektifitas dan tingkat kemahalan yang berbeda.

(Departemen Kehutanan, 1996).

  1. F. Pemilihan Metode Penyuluhan

Suatu hal penting yang harus selalu diingat oleh penyuluh lapangan dalam memilih metode penyuluhan yaitu keterlibatan petani dalam proses belajar mengajarnya. Dalam menyelenggarakan penyuluhan, penyuluh lapang harus bertingkah laku wajar, tidak berlebihan dan jika mungkin kegiatan belajar mengajar dalam penyelenggaraan penyuluhan harus dilakukan melalui diskusi, praktek demonstrasi yang dilakukan oleh petani, serta partisipasi aktif dari petani (Suhardiyono, 1992).

Menurut Suzuki (1984) dalam Departemen Kehutanan (1996), beberapa prinsip metode penyuluhan yang meliputi :

  1. Pengembangan untuk berfikir kreatif.
  2. Tempat yang paling baik adalah ditempat kegiatan sasaran.
  3. Setiap individu terikat dengan lingkungan sosialnya.
  4. Ciptakan hubungan yang akrab dengan sasarannya.
  5. Memberikan sesuatu untuk terjadinya perubahan.

Dari metode-metode pendekatan yang dilancarkan sehubungan dengan kegiatan penyuluhan, kita dapat mengetahui metode mana yang paling efektif dan kurang efektif, metode mana yang memerlukan perlakuan-perlakuan yang intensif dan mana pula yang kurang intensif.

  1. Penyuluhan yang dilakukan dengan metode pendekatan misal menyampaikan para petani yang mengikuti/menyimaknya ke tahap kesadaran (menaruh perhatian dan mengetahui materi penyuluhan) akan tetapi belum memahaminya secara mendalam.
  2. Penyuluhan yang dilakukan dengan metode pendekatan kelompok mulai menarik para petani ke tahapan minat, tahapan menilai/mempertimbangkan bahkan mencobanya pula.
  3. Penyuluhan yang dilakukan dengan metode pendekatan perorangan akan menyampaikan petani ke tahap penerapan. Ia mulai menerapkan teknologi baru yang diajarkan/dikembangkan penyuluh.

(Kartasapoetra, 1987).

  1. G. Ragam Metode Penyuluhan

Metode penyuluhan seringkali digolongkan menurut target orang yang menghadiri kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh lapangan. Penggolongan metode penyuluhan ini dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Metode perseorangan
  2. Metode kelompok
  3. Metode massa

(Suhardiyono, 1992).

Bertolak dari pemahaman tentang pengertian “penyuluhan” seperti itu pemilihan metode penyuluhan dapat dilaksanakan dengan melakukan pendekatan-pendekatan seperti berikut :

  1. Metode penyuluhan dan proses komunikasi
  1. Metode penyuluhan menurut media yang digunakan
  2. Metode penyuluhan menurut penyuluh dan sasarannya
  3. Metode penyuluhan menurut keadaan psikososial sasarannya
  1. Metode penyuluhan dalam pendidikan luar sekolah
  2. Metode penyuluhan dalam pendidikan orang dewasa

(Departemen Kehutanan, 1996).

Dalam kegiatan penyuluhan kita mengenal adanya : penyuluhan pertanian perorangan, penyuluhan pertanian kelompok dan penyuluhan pertanian massal, yang dalam prakteknya menggunakan metode-metode pendekatan, sehingga kita mengenal adanya :

  1. Personal approach method (metode pendekatan perorangan)
  2. Group approach method (metode pendekatan kelompok)
  3. Mass approach method (metode pendekatan massal/umum)

(Kartasapoetra, 1987).

  1. H. Ragam Teknik Penyuluhan

Menggolongkan metode penyuluhan dapat macam-macam ragamnya. Hanya kalau akan membahas tentang penyuluhan pertanian di negara berkembang, maka sekurang-kurangnya akan ada  macam penggolongan.

  1. Pertama adalah yang berdasarkan jarak jangkauan sasaran. Metode menurut penggolongan seperti ini dapat dibedakan ke dalam metode yang langsung (tatap muka) dan metode tidak langsung (memakai media massa).
  2. Kedua adalah berdasarkan jumlah sasaran. Menurut penggolongan ini, ada tiga pendekatan yang sering dilakukan. Ketiga pendekatan tersebut adalah pendekatan perorangan, pendekatan kelompok dan pendekatan massal.
  3. Ketiga adalah berdasarkan indera penerima yaitu yang dapat dilihat/dibaca, dapat didengar dan dapat dilihat dan didengar.

(Sastraatmadja, 1993).

Teknik individu kunci sangat efektif dan efisien sebab :

  1. Penyuluh tidak perlu berhadapan langsung dengan seluruh warga masyarakat sehingga menghemat waktu dan biaya.
  2. Penyuluhan kepada masyarakat lebih efektif karena dilakukan sendiri oleh individu kunci yang sudah dikenal dan diakui sebagai panutan yang baik oleh masyarakat setempat.

(Departemen Kehutanan, 1996).

Beragam teknik penyuluhan menurut Setiana (2005), diantaranya adalah kunjungan rumah, kunjungan ke lahan usaha tani, surat menyurat, hubungan telepon, kontrak informal, magang, dan lain sebagainya. Teknik lain yang diungkapkan adalah temu karya, demonstrasi cara, demontsrasi hasil, karya wisata, kursus tani, temu karya, temu lapang, temu usaha, mimbar sarasehan, perlombaan, dan lain sebagainya.

  1. I. Lanjutan Ragam Teknik Penyuluhan

Menurut Mardikanto (1985) dalam Departemen Kehutanan (1996), ragam teknik penyuluhan antara lain : teknik individu kunci, surat-menyurat, kunjungan, karyawisata, demonstrasi, diskusi, pertemuan umum, dll.

Untuk penyuluhan pertanian dikenal tiga macam demonstrasi, yaitu :

  1. Demonstrasi cara, menunjukkan bagaimana melaksanakan sesuatu cara, misalnya bagaimana cara menanam padi yang baik, cara memberantas penyakit pada tanaman dan lainnya.
  2. Demontrasi hasil, memperlihatkan hasil-hasil yang diperoleh dari penerapan teknik-teknik baru. Misalnya, demontrasi penggunaan pupuk dengan dosis tertentu, yang hasilnya dibandingkan dengan yang tidak dipupuk.
  3. Demontrasi usaha tani, menyangkut demontrasi cara dan hasil ditambah dengan menghitung input dan output dalam perhitungan usaha tani.

(Sumintoredjo, 1975).

Leaflet dan folder merupakan bentuk teknik penyuluhan untuk memberi keterangan singkat tentang suatu masalah atau materi. Sebagai contoh, materi tentang rumput gajah, lamtoro gung, sengon, memelihara belut dalam tong, dean lain-lain (Balai Latihan Kehutanan Kadipaten, 1998).

  1. J. Aplikasi Teknik Penyuluhan

Kunjungan rumah dan tempat usaha adalah suatu kunjungan terencana yang dilakukan oleh penyuluh ke rumah atau tempat usaha petani dengan suatu tujuan tertentu, tujuannya adalah menumbuhkan kepercayaan diri petani dan keluargannya (Mardikanto dan Arip, 2005).

Cara melakukan kunjungan rumah dan usaha tani dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut :

  1. Ada maksud dan tujuan tertentu.
  2. Tepat waktunya dan tidak membuang-buang waktu petani.
  3. Kunjungi juga petani yang jauh dan terpencil.
  4. Rencanakan beberapa kunjungan berurutan untuk menghemat waktu.
  5. Metode ini untuk memperkuat metode-metode yang lainnya atau bila metode lainnya tidak mungkin.

(Wiriaatmadja, 1973).

Beberapa persyaratan penyelenggaraan demonstrasi yang diperhatikan adalah :

  1. Lokasi penyelenggaraan yang strategis.
  2. Harus dilaksanakan oleh demonstrator yang telah terpilih.
  3. Demonstrasi harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan tidak boleh gagal/justru memberikan hasil yang lebih buruk dibanding yang sebelumnya

(Departemen Kehutanan, 1996).

  1. K. Lanjutan Aplikasi Teknik Penyuluhan

Beberapa persyaratan penyelenggaraan demonstrasi yang diperhatikan adalah :

  1. Lokasi penyelenggaraan yang strategis.
  2. Harus dilaksanakan oleh demonstrator yang telah terpilih.
  3. Demonstrasi harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan tidak boleh gagal/justru memberikan hasil yang lebih buruk dibanding yang sebelumnya

(Departemen Kehutanan, 1996).

Kunjungan rumah dan tempat usaha adalah suatu kunjungan terencana yang dilakukan oleh penyuluh kerumah atau ketempat usaha petani dengan tujuan tertentu. Dalam kunjungan ini yang dilakukan adalah :

  1. Berkenalan, hal ini untuk mendapatkan kepercayaan petani dan keluarganya.
  2. Bertukar pikiran tentang permasalahan yang dihadapi sasaran.
  3. Mengajarkan ketrampilan kepada sasaran.
  4. Memberi dan mencari informasi kepada dan dari sasaran.

Cara pelaksanaannya agar supaya memperhatikan beberapa hal, antara lain : apa maksudnya, tempat dan waktunya, materi apa yang akan diberikan, dan sebagainya (Mardikanto, 1982).

Materi dan topik yang bisa dibicarakan dalam kunjungan kelompok antara lain :

  1. Pengalaman petani yang bersangkutan tentang budidaya.
  2. Kegiatan kelompok dan cara-cara untuk menggerakkan petani dalam menghadapi teknologi baru.
  3. Pemberitahuan tentang inovasi baru, dan sebagainya.

(Balai Latihan Kehutanan Kadipaten, 1998).

  1. L. Evaluasi Penerapan Metode dan Teknik Penyuluhan

Evaluasi atau penilaian merupakan tahap akhir dari organisasi kegiatan, maksud dari evaluasi dari suatu usaha antara lain :

  1. Untuk menentukan arah penyempurnaan pekerjaan.
  2. Untuk memberikan gambaran kemajuan usaha
  3. Untuk memberikan kepuasan kepada pemimpin setempat mengenai apa yang telah dicapai.

(Wiriatmadja, 1973).

Evaluasi sebagai suatu kegiatan, sebenarnya merupakan proses untuk mengetahui atau memahami dan memberikan penilaian terhadap sesuatu keadaan tertentu, melalui kegiatan pengumpulan data atau fakta dan membandingkannya dengan ukuran serta cara pengukuran tertentu yang telah ditetapkan         (Mardikanto, 1993).

Selesai menjalankan tugas penyuluhan pada hari/tanggal , tempat dan kegitan tertentu sesuai dengan program kerjanya, penyuluh harus dapat mengevaluasi hasil kerja dalam penyuluhan pertanian tersebut. Mengevaluasi hasil kerja berarti menilai/menaksir hasil kerja penyuluhan itu, apakah menimbulkan kesan, kesadaran, minat untuk mengikuti dan melaksanakan pesan-pesan yang terangkum dalam materi penyuluhan (Kartasapoetra, 1987).

M. Contoh Pelaksanaan Penyuluhan

Kunjungan ke Demplot Jagung di Mirit Petikusan, kecamatan Mirit. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meneliti pelaksanaan proyek Demplot (Demonstrasi Plot) Jagung di Mirit, kegiatan ini dilakukan 3 orang penyuluh Dinas Pertanian Kabupaten Kebumen, yang dilaksanakan pada tanggal 13 November 2003. Mereka adalah Bapak Hardo Pambuko, Wiyono dan pengkkordinirnya Bapak Ir Agusono, MM (Mardikanto dan Arip, 2005).

Pada tahun 1963-1974, kegiatan penyuluhan diawali oleh pengalaman demonstrasi panca usaha lengkap yang dilakukan oleh IPB di Karawang pada tahun 1963/1964 dikembangkan Demonstrasi Masal (Den Mas) yang kemudian dikembangkan menjadi BIMAS-SSBM (Bimbingan Masal Swasembada Bahan Makanan). Setelah melalui perbaikan-perbaikan dalam bentuk BIMAS Berdikari, Bimas Biasa, Bimas Baru, Bimas Gotong Royong (1968-1970), dan Bimas Nasional yang disempurnakan (1970-1973) akhirnya dikembangkan menjadi program intensifikasi Masal (INMAS).

(Mardikanto, 2003).

Sosialisasi Rencana Strategis (RENSTRA) Penyuluhan Kehutanan. Sosialisasi ini bermaksud untuk dijadikan dasar atau acuan dalam menyusun rencana kerja atau rencana operasional penyelenggaraan penyuluhan kehutanan. Tujuan dari sosialisasi RENSTRA ini adalah tercapainya koordinasi dan harmonisasi perencanaan para pihak terkait (stakeholders) dalam penyelenggaraan penyuluhan kehutanan dengan menyebarkan buku pedoman “Rencana Stratejik Penyuluhan Kehutanan”. Sosialisasi ini dilakukan pada tahun 2003 (Balai Latihan Kehutanan Kadipaten, 1998).

  1. N. Model Penyuluhan di Indonesia

Pada tahun 1993-2001 terjadi perubahan administrasi penyuluhan dipindah lagi dari SPHB ke Dinas-Dinas sub sektoral semula, perubahan ini dimaksudkan untuk meratakan kegiatan penyuluhan pertanian yang sejak awal lebih terfokus pada tanaman pangan ke semua sub sektor. Tetapi, karena luas wilayah kerja penyuluh semakin luas, efektifitas LAKU menjadi berkurang. Disamping itu mutu PPL semakin tidak mampu mengimbangi kecepatan kemajuan IPTEK dan kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh pelaku bisnis dan LSM (Mardiikanto, 2003).

Kegiatan-kegiatan pokok penyuluhan khususnya penyuluhan kehutanan di Indonesia antara lain :

  1. Pemantapan organisasi pelaksanaan, penetapan tugas, dan fungsi serta pembagian wilayah kerja penyuluhan di daerah tingkat I dan II.
  2. Inventarisasi dan identifikasi permasalahan dengan masyarakat di daerah yang dihimpun oleh para penyuluh.
  3. Meningkatkan jumlah secara kuatitatif dan meningkatkan mutu pengetahuan dan ketrampilan penyuluh.
  4. Melakukan kerjasama dengan Pusat Penyuluhan Departemen/instansi/Lembaga organisasi lain ditingkat pusat.
  5. Membentuk forum komunikasi intern antar sub sektor dalam departemen
  6. Penyebarluasan materi teknis yang dirasa perlu melaui penyuluhan.

(Departemen Kehutanan, 1996).

Pengertian sistem kerja “LAKU” dapat dikemukakan sebagai berikut :

  1. Latihan untuk para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas diwilayah-wilayah kerja penyuluhan pertanian (WKPP).
  2. Kunjungan kerja, yaitu kunjungan para PPL kepada sasaran atau para petani di tempat usaha tani di masing-masing Wilayah Kelompoknya (Wilkel).
  3. Pertemuan antara PPL dengan para petani bertempat di Dangau Pertemuan dan kegiatannya disebut “Kegiatan dangau/kegiatan saung”

(Kartasapoetra, 1987).

III. METODE DAN TEKNIK PENYULUHAN “ PEMBERANTASAN HAMA SUNDEP DENGAN PESTISIDA CAIR SPONTAN DALAM BUDIDAYA TANAMAN PADI DI DESA DAGEN KECAMATAN  MOJOLABAN

KABUPATEN SUKOHARJO

  1. Metode Penyuluhan “Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Dalam Budidaya Tanaman padi Di Desa Palur ”

Pada dasarnya Metode Penyuluhan yang paling tepat adalah disesuaikan dengan kebutuhan sasaran yaitu Penyuluh harus dapat mempertimbangkan tempat yang paling baik adalah di tempat kegiatan sasaran baik itu di sawah atau rumah. Sehingga petani biasa nyaman dengan kegiatan Penyuluhan. Mereka biasa Sharing, diskusi tentang permasalan yang dihadapi petani. Pertimbangan yang tidak kalah penting yaitu waktu. Penyesuaian waktu perlu dipertimbangkan, dipilih yang tidak menggangu kegiatan rutin yang dilakukan petani. Oleh karena itu penyuluh harus dapat menciptakan hubungan yang baik dengan sasaran. Agar Penyuluh dan Petani merasa sama-sama saling menjadi bagian dari diri masing-masing. Sehingga akan dapat memberikan sesuatu yang baru atau inovasi baru sehingga dapat menciptakan suatu perubahan, baik perubahan sikap, pengetahuan dan ketrampilan.

Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah metode penyuluhan dengan menggunakan media cetak  yaitu folder dan dilakukan secara lisan. Alasan pemilihan metode ini adalah penyuluh dapat berkomunikasi secara langsung dengan kelompok sasaran yakni petani dapat memberikan Feedback atau pertanyaan secara langsung dan bisa langsung dijelaskan oleh penyuluh dalam kegiatan penyuluhannya Sehingga penyuluhan dapat berlangsung efektif dan efisien. Penyuluh juga menggunakan pendekatan kelompok, dimana penyuluhan dilakukan dalam satu kelompok dengan menyampaikan penjelasan mengenai materi serta dengan pembagian folder yang disiapkan oleh penyuluh agar materi lebih cepat diterima sasaran (petani).

  1. Teknik Penyuluhan “Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Dalam Budidaya Tanaman padi Di Desa Wonosari Trucuk klaten”

Teknik penyuluhan adalah cara yang digunakan oleh penyuluh untuk mendekatkan materi pada sasaran atau petani. Ada berbagai macam teknik yang bisa digunakan penyuluh dalam kegiatan penyuluhannya. Dalam penyuluhan ini penyuluh menggunakan tiga macam teknik penyuluhan.

Teknik penyuluhan yang digunakan berupa teknik demontrasi cara, ceramah dan dengan menggunakan media cetak. Demonstrasi cara yaitu lebih menonjolkan pada upaya menunjukkan (dalam pengertian melatih) kepada sasaran penyuluhan tentang cara kerja yang benar yaitu cara menggunakan sprayer. Pada teknik ceramah penyuluh memegang peranan untuk menyampaikan dan menjelaskan materi dengan langsung memberikan kesempatan sasaran untuk menyampaikan tanggapannya. Penyuluhan dengan menggunakan media cetak adalah penyuluhan yang menggunakan media cetak berupa folder yang dibagikan saat penyuluhan berlangsung. Alasan menggunakan ketiga teknik ini yaitu agar selain petani cepat mengerti materi yang disampaikan juga bisa mempraktekan materi yaitu penggunaan sprayer. Jadi melihat dari tujuan tersebut ketiga teknik diatas sangat efektif dan tepat digunakan.

  1. Lembar Persiapan Penyuluhan “Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Dalam Budidaya Tanaman padi Di Desa Wonosari Trucuk klaten”

Gejala

Disebut hama sundep atau mati pucuk bila menyerang tanaman padi yang belum berbunga. Warna bibit padi/tanaman padi yang belum berbunga merah kuning atau merah coklat. Apabila diperhatikan ternyata ujung daun padi telah mati, kering dan mudah dicabut karena daun itu sebebarnya telah putus, digigit ular yang berada dalam batang tanaman padi. Bila batang padi dibuka akan terlihat ulat didalamnya. Serangan hama sundep kadang-kadang dikira penyakit kresek. Batang yang diserang penyakit kresek bila dipotong kemudian ditekan akan keluar lendir yang berwarna kuning atau putih kekuningan.

Morfologi

Ngengatnya berwarna putih, sayap bila dibentangkan panjangnya lebih kurang 25-30 mm, panjang badannya kurang lebih 11-15 mm. Telurnya berbentuk bulat panjang dengan ukuran kurang lebih 0,6 x 0,5 mm dan diletakkan berjejer-jejer seperti letak genting, jumlahnya 150-200 butir ditutupi bahan seperti beledu berwarna coklat muda ulat yang baru menetas warnanya abu-abu, kemudian berubah menjadi kerm muda, kepalanya berwarna lebih tua, kuning coklat, panjang kurang lebih 20-25 mm, kepompong (pupa) berwarna krem muda diselubungi kokon putih, panjangnya 12-17 mm.

Daur hidup

Ngengat bertelur dibagian bawah daun, yang terletak dibagian atas batang. Dipersemaian padi biasanya telur diletakkan dibagian atas permukaan daun, terutama semai yang sangat muda. Waktu bertelur malam hari, jumlahnya 200-300 butir. Telur akan menetas setelah  satu minggu. Ulat yang baru saja menetas terus tersebar menuju ke batang padi, atau turun ke air dengan bantuan benang yang keluar dari badannya. Kemudian akan menyerap ke batang padi yang lain. Ulat ini lalu menggerek batang padi, terus masuk kedalamnya menuju ke bawah. Apabila tanaman padi masih muda, pangkal tangkai daun pucuk dipotongnya sehingga mati. Ulat ini bias pindah ke batang lain, hingga banyak pucuk daun yang menjadi kering akibat telah putus pangkalnya.

Penggerek batang padi putih lebih menyukai tempat-tempat yang mengalami satu musim tanam padi dalam setahun yaitu pada musim hujan dan musim kemarau sangat jelas. Selain itu juga menyukai tanggul-tanggul jerami yang tidak dibongkar selama tidak ada pertanaman. Hal ini berhubungan dengan perilaku hidupnya yang akan mengalami diapauuze selama musim kemarau didalam tanggul-tanggul jerami. Mereka akan berdiapauze sampai musim hujan datang.

Diapauze (masa tidur/istirahat ulat) terjadi menjelang kemarau. Ulat tidak segera berkepompong tetapi beralih ke masa diapauze sampai beberapa bulan. Dalam masa ini ulat tidak bergerak dan tidak makan tetapi juga tidak berkepompong. Terjadi pada saat padi mulai menguning bahkan sampai padi dipanen. Apabila hujan I dating ulat tidak segera berkepompong.

Pengendalian hama sundep

Pengendalian hama sundep dapat dilakukan dengan secara kimia yaitu dengan menggunakan pestisida cair “spontan”. Salah satu cara mengaplikasikan pestisida ini yaitu dengan cara penyemprotan (spraying). Penyemprotan adalah penyemprotan pestisida pertanian yang paling banyak dipakai oleh para petani. Diperkirakan 75% penggunaan pestisida digunakan dengna cara penyemprotan, baik penyemprotan di darat maupun di udara. Dalam penyemprotan larutan dipecah oleh Nozzle (cerat, spuyer) atau atomizer yang terdapat dalam alat penyemprot (sprayer) menjadi butiran semprot/droplet.

Teknik menyemprot yang tepat

Disemprotkan pada tanaman padi secara merata. Bagian lokasi tanaman yang termasuk parah penyakitnya diberi pestisida yang lebih banyak dibandingkan pada bagian lain. Selain merata pada semua tanaman saat menyemprot tanaman hendaknya dibuka pada bagian sela-sela tanaman sehingga seluruh bagian tanaman tersemprot. Hal ini untuk menghindari kalau hama tersebut berpindah ke bagian lain yang tidak terkena pestisida untuk berlindung. Namun kenyataannya petani hanya menyemprot pada bagian permukaan (atasnya saja) jadi kurang merata. Maka hasilnyapun tidak maksimal. Hama masih belum mati seluruhnya sehingga masih mampu untuk merusak tanaman. Selain petani menyemprot pada bagia atasnya saja petani juga kurang cermat dalam menyemprot tanaman. Petani hanya asal menyemprotkan pada tanaman dan asal semua kena. Padahal selain merata petani haru memberikan ukuran yang lebih pada bagian yang parah dibandingkan pada bagian yang kurang terlalu parah. Hal ini disebabkan karena petani tidak mau repot, suka yang praktis dan cepat selesai. Pada dosis pestisida yang diberikanpun tidak sesuai dengan rekomendasi pada aturan pakainya. Yang biasanya disesuaikan dengan kondisi tanaman atau melihat tingkat keparahannya petani suka memberikan dosis yang berlebih. Karena menurut mereka dosis yang banyak akan mempercepat kematian hama tersebut. Padahal hal itu akan berdampak negatif bagi tanaman padi sendiri. Yangmana menyebakan pertumbuhan padi tidak normal.

Cara penggunaan Sprayer

  1. Pestisida dicampur dengan air terlebih dahulu dalam suatu ember kemudian diaduk hingga merata (tercamur sempurna).
  2. Setelah itu dimasukkan dalam sprayer melalui lubang yang ada pada bagian atas tangki.
  3. Kemudian saat penggunaan sebelum disemprotkan dipompa terlebih dahulu baru disemprotkan. Penyemprotannya diatur dengan memutar alat pengatur yang ada pada sprayer.
  4. Lembar Persiapan Kegiatan Penyuluhan “Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Dalam Budidaya Tanaman padi Di Desa Wonosari Trucuk klaten”

Kegiatan penyuluhan tentang Pemberantasan hama sundep dengan pestisida cair “spontan” dalam budidaya tanaman padi rencananya dilaksanakan pada hari Kamis, 6 Juli 2006.

Tabel 3.2 Lembar Persiapan Kegiatan Penyuluhan Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair “Spontan” Dalam Budidaya Tanaman Padi Di  Desa Wonosari Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten

No Kegiatan Waktu Tempat Peralatan Biaya Sasaran Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Kamis, 6 Juli 2006

Penjelasan tentang hama sundep yaitu gejala penyakit serta cara pengendaliannya (disertai dengan diskusi tdan tanya jawab).

memberikan beberapa pertanyaan pada petani untuk mengetahui tingkat pengetahuan.

memberikanpenjelasan tentang tanaman yang diserang hama sundep dengan memperlihatkan sampel tanaman yang diserang.

Menjelaskan teknik aplikasi penggunaan pestisida yang benar beserta dosis yang diberikan pada tanaman.

memberikan lembar pertanyaan yang disiapkan penyuluh untuk mengetahui seberapa minat petani terhadap kegiatan penyuluhan ini.

memberikan kesempatan petani untuk mempraktekan penggunaan sprayer yang disemprotkan pada tanaman padi.

08.00-09.00 wib

09.00-09.30 wib

09.30-10.30 wib

10.30- 11.30 wib

11.30-12.00

wib

12.00-13.00

wib

Aula Kelurahan Desa Wonosari

Aula Kelurahan Desa Wonosari

Aula Kelurahan Desa Wonosari

Aula Kelurahan Desa Wonosari

Aula Kelurahan Desa Wonosari

Lahan Pertanian (sawah)

Papan tulis, spidol, kertas, dan folder.

Lembar pertanyaan, peralatan menulis (pensilatau bolpoin)

Sampel tanaman padi yang terserang sundep

Pestisida spontan, ember, air, pengaduk

Lembar pertanyaan, peralatan menulis (pensilatau bolpoin

Sprayer

Rp. 60.000,-

(konsumsi)

Rp. 20.000,-

(biaya penyiapan bahan)

Petani di Desa Wonosari

Petani di Desa Wonosari

Petani di Desa Wonosari

Petani di Desa Wonosari

Petani di Desa Wonosari

Petani di Desa Wonosari

Penjelasan dengan menggunakan alat peraga dan alat bantu tersebut.

Petani diberi lembar pertanyaan dan waktu untuk menjawab pertanyaan.

Petani mencoba menganalisis tingkat keparahan penyakit bersama-sama penyuluh.

Penjelasan mengenai penggunaan pestisida serta pemraktekannya.

Petani diberi lembar pertanyaan dan waktu untuk menjawab pertanyaan dalam lembar jawaban.

Petani bersama penyuluh turun kelapang untuk mencoba mengaplikasikan pestisida ke tanaman padi

  1. Alat Bantu penyuluhan “Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Dalam Budidaya Tanaman padi Di Desa Wonosari Trucuk klaten”

Alat Bantu Penyuluhan adalah alat-alat atau sarana penyuluhan yang diperlukan oleh seorang penyuluh guna memperlancar proses mengajarnya selama kegiatan penyuluhan dilaksanakan.

Karena penyuluhan dilaksanakan disuatu ruangan tentu saja alat Bantu yang pertama diperlukan yaitu berupa ruangan (tempat) beserta alat Bantu dalam ruangannya yaitu berupa pengeras suara, penata cahaya (lampu), penata udara (kipas angin/AC). Yang kedua adalah lembar persiapan penyuluhan yang berupa Lembar Persipan Menyuluh (LPM) yang berisi materi yang akan disampaikan yaitu materi tentang “Pemberantasan hama sundep dengan Pestisida cair Spontan” serta Lembar Persiapan Latihan (LPL) dan Lembar Persiapan Kerja (LPK) yang disiapkan manakala akan dilaksanakan latihan penyemprotan dengan pestisida cair spontan ke tanaman padi.

  1. Alat peraga penyuluhan “Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Dalam Budidaya Tanaman padi Di Desa Wonosari Trucuk klaten”

Alat Peraga Penyuluhan yaitu alat atau benda yang dapat diamati, didengar, diraba atau dirasakan oleh indera manusia, yang berfungsi sebagai alat untuk memeragakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses balajar mengajar sasaran penyuluhan, agar materi penyuluhan lebih mudah diterima dan dipahami oleh sasaran penyuluhan yang bersangkutan.

Alat peraga yang akan digunakan dalam penyuluhan nanti adalah berupa benda yaitu sampel (contoh) tanaman padi yang terkena hama sundep dan sapel pestisida cair spontan. Selain berupa benda juga digunakan barang cetakan folder yaitu selembar kertas yang dilipat menjadi tiga yang berisi informasi mengenai hama sundep dan cara pemberantasan beserta foto atau gambar hama sundep. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar petani lebih mudah dan jelas dalam menerima materi yang disampaikan sehingga mendukung proses penyuluhan nantinya lancar sehingga tujuan daripada penyuluhan tersebut tercapai.

  1. Evaluasi penerapan metode dan teknik penyuluhan “Pemberantasan Hama Sundep Dengan Pestisida Cair Spontan Dalam Budidaya Tanaman padi Di Desa Wonosari Trucuk klaten”

Evaluasi merupakan kegiatan pengamatan dan analisis terhadap suatu keadaan, dan kemudian melakukan penilaian atas segala sesuatu yang diamati.

Evaluasi kegaiatan penyuluhan tentang Pemberantasan hama sundep dengan pestisida cair spontan dalam budidaya tanaman padi di desa Wonosai kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten antara lain :

1.   untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani mengenai hama sundep dan cara dalam mengendalikan hama sundep dengan pestisida cair spontan setelah mengikuti penyuluhan dengan memberikan pertanyaan pada petani. Pertanyaan tersebut berupa :

  1. Apa yang anda ketahui tentang haman sundep ?
  2. Bagaimana gejala penyakit yang ditimbulakan oleh hama sundep ?
  3. Apa saja usaha yang dilakukan untuk mengatasinya ?
  4. Jelaskan teknik pemberantasan hama dengan sprayer ?

2.   untuk mengetahui seberapa minat petani terhadap penyuluhan pengendalian hama sundep menggunakan pestisida cair spontan dalam budidaya tanaman padi dengan memberikan pertanyaan pada petani berupa :

  1. Bagaimana tanggapan petani mendengar akan diadakan penyuluhan ?

Tabel 2. kriteria tanggapan petani terhadap kegiatan penyuluhan

Kriteria Skor
Tertarik 3
Biasa 2
Tidak tertarik 1
  1. Darimana minat yang ada pada diri petani untuk datang mengikuti kegiatan penyuluhan ini ?

Tabel 3. Kriteria minat Petani terhadap Penyuluhan

Kriteria Skor
Kesadaran sendiri 3
Diajak Temen 2
Tidak tertarik 1

3.   untuk mengetahui kemampuan petani memberantas hama sundep dengan sprayer dan pestisida spontan dengan memberikan kesempatan pada petani untuk mencoba menggunakan sprayer dan cara menyemprotkannya pada tanaman dibagian mana yang perlu.

  1. I. PENUTUP

Tanaman padi merupakan tanaman sebagai sumber utama makanan pokok dan dalam perekonomian bangsa Indonesia. Oleh karena itu faktor yang mempengaruhi tingkat produksinya sangat penting diperhatikan. Salah satu faktor itu adalah hama dan penyakit. Kita semua pasti pernah hama penggerek pada tanaman padi yaitu merupakan salah satu dari beberapa hama yang menyerang padi.

Pembuatan laporan metode dan teknik penyuluhan ini sangat penulis harapkan untuk dapat dijadikan penambahan wawasan bagi semua pihak yang turut berpartisipasi baik dalam penyusunan laporan maupun bagi pembaca yang budiman. Penulis menginginkan bahwa melalui laporan ini penulis dan mahasiswa penyuluhan dan komunikasi pertanian dapat membuat suatu metode dan teknik penyuluhan yang tepat untuk suatu kegiatan penyuluhan.

Penulis yakin, dengan adanya keseriusan dalam mempelajari beragam metode dan teknik penyuluhan serta mencoba mempraktekkannya, maka kita akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga dan waktupun tidak akan terbuang percuma.

Penulis menyadari bahwa laporan ini yang masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis memohon maaf atas segala sesuatu yang kurang berkenan di hati semua pihak yang terlibat dalam laporan ini. Penulis berharap dengan kesungguhan untuk mencari dan menambah wawasan, seseorang akan memperoleh sesuatu yang berharga dan berguna sepanjang hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Latihan Kehutanan Kadipaten. 1998. Sarana dan Alat Bantu Penyuluhan. Balai Latihan Kehutanan Kadipaten. Bogor.

Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan RI. Jakarta.

Kartasapoetra, A. G. Ir. 1987. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.

Lingga, Pinus. 1994. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mardikanto, Totok. 2003. Redefinisi dan Revitalisasi Penyuluhan Pertanian. PUSPA. Surakarta.

________________. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Press. Surakarta.

________________ dan Arip Wijianto. Metode dan Teknik Penyuluhan Pertanian. UNS Press. Surakarta.

________________ dan Sri Sutani. 1982. Pengantar Penyuluhan Pertanian. Hapsara. Surakarta.

Sastraatmadja, Entang. 1993. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Alumni. Bandung.

Setiana, Lucie. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.

Sugeng, HR. 2003. Bercocok Tanam Padi. Aneka Ilmu. Semarang.

Sumintoredjo, Samedi. 1975. Tenik Menyusun Program Penyuluhan. Bina Cipta. Bandung.

Wiriaatmadja, Soekandar, M. A. 1973. Pokok-Pokok Penyuluhan Pertanian. CV Yasaguna. Jakarta.

1 Response so far »

  1. 1

    omyosa said,

    MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
    NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
    Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 — 8 ton/hektar.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi.
    Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).

    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik.
    SRI sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.

    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
    Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Kami tawarkan solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

    “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO / AVRON / NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO”, hasilnya lebih baik, bisa meningkat 1 — 4 kali disbanding pola bertani biasa.

    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 100% — 400% dibanding pola tanam konvensional seperti sekarang.

    PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah,
    sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali,
    sementara itu yang dimaksud sistem jajar legowo adalah sistem penanaman padi yang diselang legowo/alur/selokan, bisa 2 padi selang 1 legowo atau 4 padi selang 1 legowo dan yang paling penting dalam tani pola gabungan ini adalah relative lebih murah.

    CATATAN:
    1. Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu ANDA MENJADI AGEN SOSIAL penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    2. Cara bertani organik tidak saja hanya untuk budidaya tanaman padi sawah, tetapi bisa juga untuk berbagai produk-produk Agro Bisnis yang meliputi pertanian (padi, palawija, buah dan sayuran), perkebunan, perikanan, dan peternakan.

    Hasil panen setelah menggunakan Pupuk Ajaib SO
    Kesaksian untuk tanaman pertanian tanpa pestisida kimia, dan perangsang tumbuh tambahan lainnya :
    * Cabe Organik bias mencapai 6 kg/pohon, dan umur tanaman bisa sampai 3 tahun.
    * Padi Organik bias mencapai rata-rata 16—24 ton / hektar.
    * Bawang Merah Organik bisa mencapai diatas 24–36 ton / hektar
    * Jamur Tiram Organik bisa meningkat 300 % dari biasanya, dan bebas ulat !
    * Bawang Daun Organik bisa mencapai rata-rata 1 kg/batang
    * Kol Organik bisa mencapai rata-rata 5-8 kg/pohon
    * Sawit yg sudah tidak produktif bisa kembali lagi produktif, sedangkan yg diberi pupuk
    kimia tidak ada perubahan
    Kesaksian untuk hewan dan ikan tanpa vaksin, antibiotik, dan vitamin lainnya :
    * Nila 3cm dirawat 2 minggu bisa sebesar umur 2 bulan padahal pakannya hanya
    ampas tahu & bekatul.
    * Bebek afkir yang biasanya telurnya hanya 10% bisa meningkat jadi 50% lebih.
    * Sapi beratnya meningkat di atas 1,5 kg/hari padahal pakannya hanya daun-
    daunan saja.
    * Broiler bisa panen pada hari ke 28-29 berat 1,5-1,7 kg
    * Pembibitan lele angka kematian bisa sampai pada 0%
    * Budidaya belut bibit 3 bulan bisa mencapai berat rata-rata 500 gram/ ekor
    * Lele 5—7 cm bisa panen dalam waktu 29 hari

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

    Anda siap menjadi donatur bagi pekerja sosial agen penyebaran informasi, atau Anda sendiri merangkap sebagai pekerja sosial agen penyebaran informasi itu dilokasi sekitar anda berada, atau pada wilayah yang lebih luas lagi diseluruh Indonesia?

    Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072, atau bisa juga komentar langsung di http://frigiddanlemahsahwat.blogspot.com/2011/07/pertanian-pembangunan-pertanian.html


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan komentar